<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786</id><updated>2011-10-23T01:18:48.114+07:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Pengetahuan'/><category term='Esei'/><category term='Fiksi'/><category term='Informasi'/><category term='Tokoh'/><category term='Lomba'/><category term='Cerpen'/><category term='Berita'/><category term='Pembelajaran'/><category term='Sastra'/><title type='text'>Senandung Pena</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.senandung-pena.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-3633445985233796740</id><published>2011-06-27T03:49:00.000+07:00</published><updated>2011-06-27T03:49:07.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>(Penyair Sulis dan Tuhan) Imajinasi Murni dan Metapora Murni</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imajinasi adalah pengadaan, atau pendatangan - ia mengadakan, atau mendatangkan, yang tiada, menjadi ada. tapi, siapakah ia di sana? di dalam permainan imajinasi dan metapora, yang kita baca jauh mengatasi aristoteles dan penafsir-penafsirnya kemudian. Demikian juga dengan metapora: saat pengadakan itu terjadi, saat itu pula metapora dimulai dalam gerak imajinasi. dan bukan hanya metapora yang bisa kita sematkan sebagai gerakan, bergeraknya suatu kata ke kata lain untuk maksud lain, tapi juga adalah imajinasi, yang bergerak mengadakan yang tiada menjadi ada. Dalam hubungan dengan semua itu, maka sebenarnya kita tidak memiliki imajinasi dan kegiatan kita pun, bukanlah metapora. Sebab kita tak kuasa mengadakan, dan kita tak kuasa memberi nama dari apa yang tiada, tapi kini telah diadakan itu. Maka, kalau kini kita berbicara tentang imajinasi dan metapora, sebetulnya kita sedang berbicara tentang proses mengkomposisi, membentukkan dia yang telah ada, ke dalam bayangan pikiran kita sendiri yang, adalah hasil dari kerja imajinasi murni dan metapora murni itu. Kita tak kuasa mengadakan, kecuali membentukkan dari yang sudah ada; kita juga tak kuasa memberi nama yang tadinya tiada. ringkasnya, kita adalah pemakai yang sudah ada, meletakkannya sesuai panggilan genetik tubuh dan jiwa kita sendiri. kalau demikian apakah imajinasi dan apakah metapora? imajinasi dan metapora, itu ada hubungan langsung dengan kerja sang maha tiada yakni tuhan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam injil dan quran ia berkata, ia mengajarkan nama nama. Sebutkan nama nama ini kalau kamu memang mengetahui? tak suatu pun yang bisa menyebutkannya. Sebutkan nama nama ini hay Adam tolong sebutkan nama nama ini. Adam pun menyebutkan nama nama itu. Inilah pelajaran dan praktek pertama kali imajinasi dan metapora itu. Sebutkan nama nama ini, dengan kata lain Sang&amp;nbsp; Tuhan langsung mendatangkan benda benda - isi nama nama itu; dengan kata lain selain, mendatangkan benda benda, sang tuhan langsung pula memberi nama kepada benda bendanya. dapat kita bayangkan dalam pikiran tuhan, serentak ia mengimajinasikan ikan, langit atau lautan, serentak itu pula, atau bersama itu pula, proses metaforasitas itu terjadi: ikan, kata tuhan sambil membayangkan ikan dan pembayangan itulah ikan yakni kata ikan. sulis dan hudan, kata sang tuhan lagi sambil menujum jauuuuuhhhhh sekali sebelum kedua orang ini ada di bumi. Embun, Zubaidah atau bidadara cinta boleh juga: ketiga orang ini jauh sebelum mereka ada, tapi telah ada di imajinasi dan metapora pertama Sang Tuhan di langit tinggi tapi entah di mana itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: &lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150226668687546"&gt;Jurnal Sastra Tuhan Hudan &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-3633445985233796740?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/3633445985233796740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/3633445985233796740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/06/penyair-sulis-dan-tuhan-imajinasi-murni.html' title='(Penyair Sulis dan Tuhan) Imajinasi Murni dan Metapora Murni'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-6227687456371809589</id><published>2011-04-22T23:33:00.000+07:00</published><updated>2011-04-22T23:33:48.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>AKU BUTA DAN TULI SEJAK BAYI by Helen Keller (Cuplikan Isi Buku)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;GETARAN-GETARAN LEMBUT YANG KURASAKAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kota memang sangat menarik, tetapi sentuhan kesunyian di pedesaan selalu akrab menyambutku setelah berada di riuhnya kota dan mendengar derit kereta api yang menyebalkan. Betapa hening dan sentosa segala yang terjadi pada alam, baik penghancuran, perbaikan, maupun perubahannya! Tak terdengar suara dentam palu, gergaji, atau suara batu yang sengaja dipecah. Yang ada hanya suara musik yang berdesir di rumputan ketika dedaunan gugur dan buah-buah lembut jatuh dihembus angin dari cabangnya sepanjang hari. Dalam diam semua menunduk, layu, dan tertumpah ke bumi, hingga penciptaan ulang bisa dimulai kembali. Segalanya lelap tertidur, sementara arsitek-arsitek waktu menawarkan jasa-sepinya di tempat lain. Keheningan yang sama pun meraja ketika secara serentak bumi menghadirkan ciptaan barunya. Dengan lembut, lautan rumput, lumut, dan bunga-bunga meruak, menebar, memenuhi bumi. Tirai dedaunan menyelimuti dahan-dahan pohon. Pohon-pohon besar mempersiapkan diri di jantungnya yang kokoh untuk menerima kembali kehadiran burung-burung yang mendiami kamar-kamar lapangnya yang menghadap ke selatan dan ke barat. Ah, tiada tempat yang terlalu hina untuk merumahkan makhluk-makhluk ceria ini. Aliran sungai yang melintasi padang rumput mendobrak belenggu bekunya dengan nada-nada yang bergelora, gemercik, dan mengalir bebas. Dan semuanya itu terangkai dalam waktu kurang dari dua bulan, mengikuti irama orkestra alam, di tengah wangi alam yang sejuk segar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ribuan suara lembut dari bumi benar-benar sampai padaku: desir rerumputan, gerak selembut sutra dari dedaunan, dengung serangga, gumam lebah madu, getaran lembut sayap burung seusai mandi, dan getaran ringan percikan air yang mengalir di atas bebatuan. Sekali kurasakan, suara-suara menyenangkan ini mendesir, mendengung, bergumam, dan berpercikan di benakku selamanya, sebagai bagian dari kenangan-kenangan indah yang berkekekalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiada jurang pemisah yang tak bisa kujembatani antara pengalaman-pengalamanku dengan pengalaman orang lain; karena diriku senantiasa menjalin hubungan yang penuh hikmah dengan dunia, dengan kehidupan, juga dengan atmosfer berpendar yang melingkupi kita semua. Energi menggetarkan dari udara yang meliputi kita begitu hangat dan melenakan. Gelombang panas dan gelombang suara bermain di wajahku dengan berbagai ragam dan kombinasinya, hingga aku bisa menyimpulkan bagaimana kiranya riuhnya aneka suara yang tak terdengar telinga tuliku ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Udara terasa beda sesuai dengan daerah dan musimnya. Bahkan berbeda pada setiap waktu dalam kesehariannya. Angin laut yang segar dan sedikit amis sangat berbeda dengan angin yang menyentak-nyentak di sepanjang tepian sungai, yang lembap dan sarat dengan bebauan tanah. Udara gunung yang tertahan, ringan dan kering, tak mungkin sama dengan udara pantai yang tajam bergaram. Udara musim dingin terasa padat, keras, dan menekan, sementara udara musim semi terasa segar dan menggairahkan. Terasa ringan, mengalir, dan sarat dengan ribuan bau yang berdenyut dari bumi, rumput, dan daun-daun yang baru bersemi. Udara pada pertengahan musim panas terasa padat, lembap, atau kering dan terbakar, seakan baru saja keluar dari pemanggangan. Ketika angin sepoi mengelus keheningan yang lembap, bebauan yang dibawanya tak sekuat angin di bulan Mei, dan sering kali bau yang dibawanya adalah bau badai yang hendak datang. Kesejukan yang turun menyapu melewati tekanan udara sangat berbeda dengan dingin yang mencucuk tulang di musim salju.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hujan musim dingin terasa kaku, tanpa bau, dan sendu. Hujan musim semi terasa ringan, wangi, penuh kehangatan yang membawa kehidupan. Selalu kusambut dengan sukacita kedatangannya ke bumi, yang memperkaya sungai-sungai, mengairi perbukitan dengan limpahannya, menggemburkan tanah agar siap ditanami, menghamburkan wangi yang tak puas-puasnya kuhidu dengan hidungku. Hujan musim semi sangatlah indah, merata, dan membawa bahagia. Dengan tetesannya yang bak mutiara, dibasuhnya setiap helai daun pohon dan semak secara merata, baik kepada tanaman herbal yang bermanfaat maupun kepada rumput beracun sekalipun, juga kepada setiap makhluk yang membutuhkan curahannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua indra saling membantu dan memperkuat satu sama lain, hingga aku tak dapat membedakan apakah sentuhan atau penciuman yang lebih banyak bercerita kepadaku tentang dunia. Di mana-mana, “sungai sentuhan” bergabung dengan “arus aroma”. Setiap musim beraroma khas. Musim semi beraroma tanah dan getah. Bulan Juli dilimpahi aroma bulir-bulir gandum meranum. Semakin lanjut musim berjalan, aromanya pun berganti, dikuasai aroma kering dan matang, dan aroma bunga &lt;em&gt;golden-rod&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;tansy&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;everlasting&lt;/em&gt; menandai waktu yang melaju. Di musim gugur, wangi yang lembut mempesona memenuhi udara, mengambang dari semak-semak, rerumputan, bunga, dan pepohonan. Semuanya bercerita kepadaku tentang waktu pergantiannya, tentang kematian dan kehidupan yang baru, tentang gairah dan pemuasannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;SIRKUS PIKIRAN &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesta ceria ini berlangsung terus dan gila-gilaan. Para penarinya adalah pikiran-pikiranku sendiri. Ada pikiran yang sedih, ada yang senang. Ada pikiran yang cocok untuk berbagai musim dan cuaca, pikiran untuk semua umur dan negara. Ada pikiran konyol dan bijaksana. Ada pikiran tentang orang-orang, barang-barang. Ada pikiran yang kekanak-kanakan. Ada pikiran yang besar dan agung. Semuanya berayun, berputar, bergandengan tangan. Seorang pelawak lucu berpakaian hijau dan emas memandu tarian pikiran-pikiranku. Tamu-tamunya tak mengikuti aturan atau contoh apa pun. Tak ada pikiran yang saling berhubungan. Bahkan tak ada aliansi internasional di antaranya. Setiap pikiran bertindak seakan-akan dirinya adalah sebuah puisi yang baru tercipta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;Mulutnya tak bisa dibukanya,&lt;br /&gt;Tapi dari sana melayang keluar suatu rupa.&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lirik magis? Oh, seandainya saja kutuliskan semuanya! Dengan cara yang tak teratur mereka muncul melalui jalan raya benakku yang biasanya sangat tertutup. Dengan lagu dan teriakan kemabukan, mereka datang. Tak akan pernah ada lagi yang menyaksikan kekacauan yang lebih membingungkan daripada ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pejamkanlah matamu dan saksikan mereka muncul—para kesatria dan para putri yang kusayangi. Mereka datang dengan hiasan bulu burung dan berturban, berbaju zirah dan berpakaian sutra. Gadis-gadis lembut berbaju abu-abu. Pangeran-pangeran ramah dengan jubah merah. Si centil dengan mawar merah di rambutnya. Pendeta-pendeta dengan jubah bertudung yang bisa menyelubungi menara Minster. Gadis-gadis kecil yang malu-malu memeluk boneka kertasnya. Anak-anak sekolah berpipi tembam. Profesor linglung yang membawa sepatu yang terkempit di ketiaknya dan kelihatan sangat bijaksana, diikuti oleh nenek sihir, peri, kurcaci dan pasukan yang baru dilepaskan dari perahu Nuh yang selama ini terombang-ambing dihantam badai. Mereka berjalan, melenggang, melayang, dan berenang. Beberapa ada yang datang melewati api. Seorang peri sungai memanjat ke bulan, menaiki tangga yang terbuat dari dedaunan dan embun beku. Seekor merak berparuh besar terbang di sela-sela dahan pohon delima dan mematuk-matuk buahnya yang kemerahan. Lalu ia menjerit begitu keras, hingga Apollo di keretanya yang berapi berpaling; dari busurnya yang mengkilap ia pun membidikkan sebatang panah ke arah merak itu. Namun bidikan ini sama sekali tak membuat si merak terganggu. Ia membentangkan sayapnya yang bak permata dan memamerkan ekornya yang indah berujungkan api&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;ke muka si dewa&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;matahari!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu datanglah Venus, persis seperti patung yang kupunyai, agung, bermata teduh, menari kalem dan berwibawa seperti Ratu Elizabeth, dikelilingi pasukan Cupid yang manis berpipi merah dan mengendarai awan bersemu merah muda, berayun ke sana-kemari ditiup angin semilir, sementara di sekitarnya menari-narilah bunga-bunga dan sungai-sungai dan pohon ceri Jepang yang aneh yang ditanam di dalam pot! Di belakang mereka datanglah si Pan dengan rambutnya yang hijau dan sandalnya yang berhiaskan permata; dan di sisinya, hampir aku tak dapat mempercayai penglihatanku sendiri, berjalanlah seorang biarawati sederhana yang memutar rosarionya. Di kejauhan tampaklah tiga penari bergandengan tangan: komentar yang kurus kelaparan, lawakan yang gemuk dan berlesung pipit, dan khotbah tentang nasib. Tak jauh dari mereka datanglah serangkaian Malam dengan rambut terurai oleh angin dan Hari-hari dengan ranting-ranting kering di punggungnya. Segera kulihat juga tubuh tambun Kehidupan bangkit di antara kerumunan itu, memegang bayi telanjang di satu tangannya dan pedang di tangan lainnya. Seekor beruang berada di dekat kakinya, dan di sekelilingnya berputaran dan berkilauan jutaan atom yang bersama-sama menyanyi: “Kami adalah kehendak Tuhan.” Atom kawin dengan atom. Zat kimia kawin dengan zat kimia. Dan tarian kosmis itu pun terus berlangsung dengan aturan yang berubah dan tak berubah, sehingga kepalaku menjadi pening dan berdenging.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika baru saja hendak meninggalkan peragaan batin ini untuk berjalan ke kebun yang tenang di dunia mimpi, aku melihat ada keramaian di salah satu pintu masuk dari Istana Pesonaku ini. Jelas nyata dari bisik-bisik dan desas-desus bahwa ada orang terkenal yang baru tiba. Tokoh yang pertama kulihat adalah Homer, yang sudah tidak buta lagi. Ia membawa rantai emas dan menarik kapal-kapal beranjungan putih orang-orang Achaia yang mengangguk-anggukkan kepala dan berceloteh seperti segerombolan angsa putih. Plato dan Mother Goose, bersama anak-anak yang hidup di dalam sepatu, menyusul di belakangnya. Simple Simon, Jill, Jack yang kepalanya sudah diobati, dan si kucing yang jatuh ke dalam krim—nama-nama itu adalah tokoh-tokoh dongeng dari lagu kanak-kanak dalam buku &lt;em&gt;Mother Goose—&lt;/em&gt;menari-nari, berputar-putar, sementara Plato dengan tenang memberikan pelajaran tentang hukum di negeri Jungkir Balik. Setelah itu tampil si Calvin yang berwajah angker dan Sappho yang berwajah manis dan bermahkota ungu, yang menari tarian &lt;em&gt;Schottische&lt;/em&gt;. Aristophanes dan Moliere juga bergabung untuk meramaikan suasana, keduanya berbicara secara bersamaan. Moliere berbahasa Yunani dan Aristophanes berbahasa Jerman. Menurutku ini aneh, karena Jerman adalah bahasa mati sebelum Aristophanes lahir. Shelley yang bermata bening membawa seekor burung gereja yang mengepak-ngepakkan sayapnya; ia lalu menyanyikan lagu &lt;em&gt;chanticleer&lt;/em&gt;-nya Chaucer. Henry Esmond mengulurkan tangannya untuk mengajak Diana dari Crossway untuk berdansa. Sepertinya Henry tidak memahami lelucon Diana dari abad ke-19; sehingga ia tidak tertawa. Atau mungkin ia hanya tak berselera lagi melihat wanita-wanita yang cerdas. Anon Dante dan Swedenborg datang bersama-sama sambil berbincang dengan asyiknya tentang hal-hal yang jauh dan mistis. Swedenborg bilang bahwa udaranya sangat hangat. Dante menjawab bahwa ada kemungkinan hujan turun di malam hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba terdengar suara yang sangat ramai, dan ternyata “Pertarungan Buku” baru saja dimulai kembali. Dua tokoh terlibat dalam perdebatan seru. Yang satu berpakaian sederhana buatan tangan, yang satu lagi memakai jubah ilmuwan di atas jas yang campur-aduk. Dari percakapan mereka aku bisa tahu bahwa mereka adalah Cotton Mather dan William Shakespeare. Mather menuntut agar para tukang sihir dalam Macbeth ditangkap dan digantung. Shakespeare menjawab bahwa mereka sudah cukup menderita di tangan para kritikus sastra. Lalu muncul dua belas kesatria Meja Bundar yang mendorong kedua orang itu ke samping; mereka berbaris sambil membawa baki yang di atasnya duduk si angsa yang bertelur emas. “Kuda Sang Paus” dan “Lembu Emas” mengadakan pertempuran antara sejarah dan fiksi, seperti yang sering kubaca di buku-buku tetapi yang belum pernah kusaksikan sendiri. Binatang-binatang kecil ini kemudian dibikin lari berhamburan oleh seekor gajah besar yang berjalan masuk dan Rudyard Kippling duduk di atas belalainya. Gajah itu kemudian berubah menjadi sebuah &lt;em&gt;rakish craft&lt;/em&gt; (aku tidak tahu apa itu &lt;em&gt;rakish craft&lt;/em&gt;, yang jelas bentuknya sangat aneh dan memang sangat cerdik). Mungkin dulu ditelantarkan oleh para bajak laut liar dari laut Selatan; karena kulihat seorang pria bermata tajam dan berjaket beludru bergantungan di temalinya dan dengan gembira bersorak ketika kapal itu tenggelam. Ketika kapal itu hampir hilang dari penglihatan, Falstaff bergegas menyelamatkan nakhodanya yang kesepian dan kemudian mencopet dompetnya. Namun Miranda membujuknya untuk mengembalikan dompet itu. Stevenson berkata: “Siapa yang mencuri dompetku, maka ia mencuri sampah!” Falstaff tertawa dan bilang bahwa itu lelucon yang sangat lucu, sama lucunya dengan lelucon yang pernah ia dengar pada zamannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ini menjadi sinyal bagi keluarnya sekumpulan kutipan bijak. Kutipan-kutipan itu bergegas, maju-mundur: segerombolan frasa awal setengah-jadi, kalimat-kalimat yang terpenggal, perasaan-perasaan yang dijadikan parodi, dan metafora-metafora yang luar biasa. Aku tak bisa membedakan frasa-frasa atau gagasan-gagasan buatanku sendiri dengan buatan orang lain. Aku melihat sebuah kalimat yang miskin, compang-camping, dan menciut—kemungkinan adalah milikku—yang menangkap sayap-sayap gagasan yang baik dengan cahaya jenius bersinar seperti cahaya halo di kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sana-sini, berkali-kali para penari berganti pasangan tanpa undangan atau permisi. Pikiran-pikiran saling jatuh cinta pada pandangan pertama, kemudian langsung menikah, dan bergandengan tangan tanpa berkencan terlebih dulu. Ketidakserasian pada perkawinan dua pikiran yang tak pernah berkencan secara wajar sebelumnya, dan perkawinan tanpa rayuan ini, tentu saja kemungkinan besar akan menimbulkan percekcokan internal. Bahkan bisa mengakibatkan perpecahan keluarga-keluarga terhormat. Di antara pasangan-pasangan baru itu adalah perkawinan antara dua kata benda yang sebelumnya kukuh dalam kesendiriannya dan sangat dihormati orang. Pertemuan mereka yang dahsyat ini hampir saja mengacaukan tarian. Untunglah mereka sendiri kemudian menyadari konyolnya penyatuan mereka, lalu kembali berpisah. Bentuk-bentuk kata yang lain kelihatannya memiliki kebiasaan hidup dalam ketidakharmonisan. Sudah terlalu sering mereka kawin-cerai. Mereka tergabung di dalam kelompok bereputasi jelek bernama Metafora Campuran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segerombolan bayangan melayang-layang, keluar-masuk. Mereka mengenakan “kostum pelupaan” yang menarik perhatian. Mereka seakan-akan ingin menari, tetapi kemudian menghilang. Mereka muncul lagi beberapa kali, tetapi tak pernah menyingkapkan tabir wajahnya. Si bandel Keingintahuan berkata kepada Kenangan: “Mengapa mereka melarikan diri? Ini ketidakjujuran yang mengherankan!” Lalu Kenangan pun berlari menangkap mereka. Setelah kejar-kejaran beberapa saat, sambil terengah-engah dan saling tabrak, ia berhasil menangkap beberapa pelarian itu dan membawa mereka masuk. Tetapi ketika akhirnya topeng mereka hendak dilepaskan, ternyata beberapa di antara mereka sangat mengecewakan sebab tak ada keistimewaannya sama sekali, dan yang lain hanyalah kutipan-kutipan liar yang mencoba menyembunyikan tanda-tanda bacanya. Kenangan menjadi sangat kecewa, sebab ia telah bersusah-payah mengejar dan menangkap mereka yang ternyata hanya gerombolan pengacau tak berarti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tengah-tengah gegap gempita itu, empat raksasa agung melangkah masuk. Mereka adalah Sejarah, Filsafat, Hukum, dan Kedokteran. Mereka tampak terlalu anggun untuk bergabung dalam pesta-pora ini. Namun, ternyata, ketika kuperhatikan, raksasa-raksasa perkasa ini kemudian memecah-mecah dirinya menjadi fragmen-fragmen yang kemudian mulai menari berputar, menari dalam divisi, subdivisi, re-subdivisi, dari omong kosong ilmu pengetahuan! Sejarah pecah menjadi Filologi, Etnologi, Antropologi, dan Mitologi. Ini pun masih memecah-mecah diri menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Setiap kejuruan memeluk pengetahuannya sendiri dan berdansa berputar-putar. Sementara itu yang lain mulai terkantuk-kantuk dan aku pun mulai lelah. Untuk mengakhiri tarian yang anggun ini, pasukan peri melambai-lambaikan bunga &lt;em&gt;poppy&lt;/em&gt; di atas kami semua. Pesta pun memudar, kepalaku terkulai, dan aku tersentak. Rasa kantuk membangunkanku. Dan di sisiku kulihat teman lamaku si Bottom.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bottom,” sapaku, “aku baru saja mengalami mimpi yang tak akan bisa dijelaskan dengan akal manusia. Aku rasa begitu. Tak ada seorang pun bisa menjelaskannya. Tak ada mata yang pernah melihatnya. Tak ada telinga yang pernah mendengarnya. Tak ada tangan yang mampu mencicipinya. Tak ada lidah yang memahaminya. Dan hati pun tak kuasa melaporkan bagaimana sebenarnya mimpiku itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;A CHANT OF DARKNESS&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;I&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak berani kubertanya kenapa kami tak diberi cahaya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terhempas ke pulau-pulau sepi di samudra tak terukur,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau bagaimana penglihatan kami membentuk visi nan indah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu pudar dan sirna, meninggalkan kami sendiri di gelap buta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rahasia Tuhan berdiam di kuil kami;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rahasia-Nya tak berani kumengintip. Hanya ini kutahu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan-Nya ada kekuatan, bersama-Nya ada hikmat,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan hikmat-Nya meletakkan kegelapan di atas jalan kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan tak lama lagi kami akan kembali&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kepada gelap yang luas dan abadi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Gelap! Kau yang menakutkan, tetapi manis dan suci!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ruang anggunmu, lepas dari mata manusia,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan membentuk semesta-Nya; Ia meletakkan pasak bumi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia menetapkan ukurannya, membentangkan garis di atasnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia menutup laut dengan pintu-pintu, menjadikan kemegahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awan-gemawan yang menyelubunginya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia pun memerintah pagi, dan saksikan, kekacauan berhenti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan terbitnya mentari;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia membagi arus untuk air yang melimpah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia mencurahkan hujan ke bumi—&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di atas alam lepas, di tempat tak ada manusia,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di atas gurun tempat daun-daun lembut tak muncul,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan lihatlah, kehijauan marak di padang-padang,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan bukit-bukit berjubah keindahan!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan tak lama lagi kami akan kembali&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kepada gelap yang luas dan abadi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Gelap! Kau yang penuh rahasia tak terungkap!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di kedalaman sunyimu, di dasar mata air tak terukur,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan membentuk jiwa manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Gelap! Kau yang penuh kasih dan mahatahu!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bak bayang senja, pesanmu mendatangi manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau letakkan jemari halusmu di kelopak mata yang letih,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan jiwanya, yang letih dan merindu rumahnya, kembali&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ke dalam pelukmu yang tenang damai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan tak lama lagi kami akan kembali&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kepada gelap yang luas dan abadi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Gelap! Gelap yang bijak, menggeliat dan melesat!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam misterimu kau sembunyikan cahaya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan jiwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tepianmu yang senyap aku berjalan tegap;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak cemas bahaya, walau berjalan di lembah buta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak akan kukenal gelombang ketakutan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat Maut yang lembut membawaku ke pintu hidup,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tatkala selubung malam terbuka,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan siang memancarkan cahayanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan tak lama lagi kami akan kembali&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kepada gelap yang luas dan abadi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jiwa lemah, yang diburu ketakutan, menolak kegelapan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi di wajah kami yang harus berdiam dalam kelam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berhembus angin yang berasal dari sayap-sayap malaikat,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sekitarnya keluar cahaya dari api yang tak kasatmata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiang cahaya ajaib yang bersinar di kegelapan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jalan keindahan yang berkelok ke dalam dunia hitam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menuju dunia cahaya lainnya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di mana tiada tabir indra yang mencegahnya dari surga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan tak lama lagi kami akan kembali&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kepada gelap yang luas dan abadi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Gelap! Kau yang terberkati dan tenang!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada yang terbuang yang harus tinggal bersamamu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa pemurah dan ramahnya dirimu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari kejamnya dunia kau lindungi ia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepadanya kau bisikkan rahasia malam yang penuh misteri;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepadanya kau limpahkan rentang ruang yang luas,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti jiwanya yang tak terbatas;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau anugerahkan kemuliaan kepada yang rendah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kepakmu kau selimuti segala yang tak indah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di bawah sayap-sayapmu kutemukan kedamaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan tak lama lagi kami akan kembali&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kepada gelap yang luas dan abadi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;II &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah di kehampaan cahaya aku mengembara;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam gelap aku terjerembap,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ketakutan menuntun tanganku;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kakiku tertancap ke bumi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cemas akan sejuta lubang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh berbagai teror malam yang menakutkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada hari yang baru terbangun,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kuulurkan tanganku memohon.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian datanglah Cinta, di tangannya terbawa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelita yang menjadi terang langkah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu dengan lembut berkatalah Cinta: “Sudahkah kau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masuki gelap yang kaya-raya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudahkan kau masuki kekayaan malam?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Carilah dalam kebutaanmu. Di sana tersimpan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harta karun yang tak terbilang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata Cinta itu menyalakan semangatku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penuh gairah, jemariku mencari misteri-misteri itu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang megah, yang suci dan terdalam, dari segala hal,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan dalam ketiadaan, dengan kepekaan spiritual&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kukenali penuhnya kehidupan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan pintu gerbang Hari pun terbentang lebar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tersentak oleh keriangan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuhku gemetar oleh sukacita;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hatiku dan seluruh bumi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bergetar oleh kebahagiaan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ekstase kehidupan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melanda seluruh dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengetahuan telah menyibak tirai surga;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tepian terluar kegelapan, memancarlah cahaya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam mengirimkan pilar cahaya!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hai si buta yang tersandung gelap tanpa terang,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saksikanlah harimu yang segar baru!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ketakpastian, berkilau bintang Pikiran;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Daya khayal memperoleh mata yang cemerlang,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan pikiran beroleh penglihatan yang gemilang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;III &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Orang itu buta. Apa artinya kehidupan baginya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah buku tertutup di depan wajahnya yang lelah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andai saja ia bisa melihat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bintang jelita itu, dan mengetahui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah momen suci yang menggelorakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan degup sukacita oleh penglihatan!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala penglihatan berasal dari jiwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saksikanlah jiwamu terbang mengembara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan semangat tak terkekang! Pernahkah kau lihat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pikiran bersemi di wajah seorang anak buta?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau lihatkah pikirannya berkembang,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti fajar bersuar, menggapai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cahaya Sang Penguasa?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah hebatnya mata batin kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dunia yang luar biasa tempatku berada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kujelajahi hidupku dengan rabaan tanganku;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berbahagia ketika memahami;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jemariku selalu ingin menyentuh bumi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan meneguk keajaibannya dengan sukacita,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menarik rasa bahagia dari bumi tercinta;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kakiku dilimpahi suara gumaman,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Detakan, dari segala yang tumbuh berkembang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah sentuhan, yang bergetar penuh arti,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nyala ini, udara ini,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Desir darah yang gembira ini,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerahnya hari di hati ini,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hangatnya simpati di telapak tangan ini!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau, sentuhan buta, yang penuh kasih dan mencari,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untukku kau buka buku kehidupan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suara-suara lirih bumi yang tak berisik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Datang dengan desirnya yang berkersik;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaki-kaki kehidupan yang manis dan pemalu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengung selembut sutra sayap-sayap ngengat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di atas telapak tanganku yang tertahan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Riuh kepak sayap-sayap serangga;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetesan air berwarna keperakan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Angin sepoi yang sibuk di sela rumput musim panas;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Daun berembun beku yang melayang diayun angin;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guyur hujan musim panas laksana kristal,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terurapi bau tanah gembur beraroma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jemariku yang siaga mendengar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Curahan berbagai suara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dihantarkan angin rimba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bermandikan bayangan basah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di bawah pohon pinus, di mana udaranya sejuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat hujan selesai merajuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teman kecilku, si tupai yang lincah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengibas pundakku dengan ekornya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melompat dari ayun ranting satu ke ayun ranting lainnya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu kembali menikmati sarapannya di tanganku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada cinta yang gembira antara aku dengannya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia melonjak; detak jantungku berdansa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa hidup yang bergairah membuatku sukacita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah pernah jemariku mengukir pasir&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di pantai yang bermandikan cahaya surya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah pernah tubuhku merasakan air bernyanyi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika lautan memeluknya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan musiknya yang beralun-alun?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah pernah kurasakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayunan ombak di bawah perahu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kibaran layar,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kencangya tiang kapal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hembusan liar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari angin yang dibumbui petir?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah pernah kucium bau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayap-sayap yang cekatan dan siap terbang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum badai menjelang?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sini sukacita bangkit, bercahaya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sini, di geloranya hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanganku melahirkan penglihatan dan suara dari perasaan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indra-indra bergerak di dalam diriku tiada akhirnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menautkan gerakan dengan penglihatan, bau dengan suara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanganku memberikan warna pada angin yang legit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanganku memberikan ritme dan gairah sebuah simfoni&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada getar sayap-sayap yang tak kasatmata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rahasia bumi, matahari, dan udara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jemariku sangatlah bijaksana;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditangkapnya cahaya dari kegelapan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan terpesona pada harmoni yang meniti dalam sunyi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berjalan di hening malam,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan jiwaku berdendang kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Malam, yang hening beraroma, betapa kumencintaimu!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Malam, yang luas lempang, betapa kumencintaimu!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Malam, yang setia dan agung!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kusentuh kau dengan tanganku;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bersandar pada kekuatanmu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan kutemukan damai di dalammu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Malam yang tiada batas dan indah!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaulah pelipur jiwaku yang resah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bersemayam lega di pelukmu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O Ibu yang gelap dan penuh kasih!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagai merpati, aku beristirahat di dadamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari gelap yang tak terpeta dan terkira kami tiba,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dan tak lama lagi kami akan kembali&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kepada gelap yang luas dan abadi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0qgyCi8NL-c/TbGtgbkN-3I/AAAAAAAAAbE/fll6BlhYTQs/s1600/a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-0qgyCi8NL-c/TbGtgbkN-3I/AAAAAAAAAbE/fll6BlhYTQs/s320/a.jpg" width="237" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Judul Asli:&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;The World I Live In&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pengarang:&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Helen Keller&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Penerjemah:&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Dita Sylvana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Penyunting:&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Salahuddien Gz&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Kayla Pustaka (Jln. Ampera Raya Gg. Kancil 15, Ragunan Jaksel. 021-7884 7301)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Harga:&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Rp 35.000,- (180 Hlm. Bookpaper)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;TESTIMONI-TESTIMONI:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisah menakjubkan perjuangan anak manusia yang mengatasi keterbatasan fisiknya.”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;—&lt;em&gt;Times&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah salah satu catatan paling berharga dalam sejarah manusia.”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;—&lt;em&gt;British Weekly&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dokumentasi tentang makna hidup terdalam. Sulit dicari tandingannya dalam sejarah penulisan.”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;—&lt;em&gt;Yorkshire&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;Post&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua orang pasti tersentuh dan terpukau oleh kesabaran, cinta kasih, dan kecerdasan yang ditunjukkan Helen Keller di buku ini.”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;—&lt;em&gt;Queen&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-6227687456371809589?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6227687456371809589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6227687456371809589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/04/aku-buta-dan-tuli-sejak-bayi-by-helen.html' title='AKU BUTA DAN TULI SEJAK BAYI by Helen Keller (Cuplikan Isi Buku)'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-0qgyCi8NL-c/TbGtgbkN-3I/AAAAAAAAAbE/fll6BlhYTQs/s72-c/a.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-9188668931814563660</id><published>2011-04-22T23:16:00.000+07:00</published><updated>2011-04-22T23:16:08.196+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Mengatasi Miskin Ide dalam Menulis #2</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Memulai Tulisan (Membiasakan Menulis)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa kabar wahai kawan-kawan pembaca? Senang sekali kita bisa bersapa meski hanya melalui tulisan. Agak lama memang terbitnya rentang tulisan pertama dan ke-dua menganai edisi ‘BELAJAR’ ini. Karena itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan ini. Bagi penunggu serial 'Receh' pun penulis mohon maaf karena kelanjutan cerita tersebut masih dalam tahap &lt;em&gt;editing&lt;/em&gt; dan harus diselang dengan tulisan lain. Selain karena permintaan pembaca akan kelanjutan edisi 'Belajar#' ini, kemampuan penulis yang terbatas pun menjadi kendala dalam prodiktifitas dua edisi tulisan berkala ini. Jadi, dari pada memaksakan yang belum layak lebih baik tampilkan saja yang telah rampung, toh dua tulisan itu sama-sama bermanfaat (&lt;em&gt;insyaallah&lt;/em&gt;, amin).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum beranjak pada masalah, terlebih dulu diberitahukan bahwa edisi ‘BELAJAR’ ini adalah realsasi ide-ide penulis dalam segala hal yang berkaitan mengenai dunia tulis-menulis, khususnya dalam karya sastra (baik prosa maupun puisi). Segala hal yang berhubungan dengan karya tulis sastra baik sistematika penulisan, masalah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam menulis dituangkan di sini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang sempat terpikir untuk tidak hanya mengangkat topik menulis saja, tapi juga membaca, menyimak dan berbicara. Hanya saja, untuk sementara ini menulis adalah hal yang paling memungkinkan untuk penulis angkat ke hadapan kawan sekalian. Namun, tidak menutup kemungkinan di kemudian hari disuguhkan pula seputar membaca, menyimak, berbicara, atau mungkin juga hal-hal di luar keterampilan berbahasa. Ini ditandai dengan hanya dicantumkan judul ‘BELAJAR’ tanpa diikuti kata yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis mengakui bahwa tulisan-tulisan penulis tidak sempurna, karena itulah saran dan kritik membangun sangat diharapkan. Semoga bermanfaat!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Nina&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : (panjang amat iyeu prolog kang!!!!)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Nunu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : (iyeu mah info teteh, sanes prolog, supados ka payunna jelas. Punten nya, upami memang kapanjangan. Hehehe…)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Nina&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : (nya atuh sawios kang. Tapi kunaha geuning seueur kecap ‘tuangkan, suguhkan’, mani asa nyaba ka rorompok rerencangan tea kitu!)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Nunu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : (duka teuing abi ge, gara-gara sok ngopi sastra meureun, influence,Hehehe…)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memulai tulisan, itulah yang masih banyak dikatakan sulit oleh mereka yang ingin menulis tapi belum terbiasa. Beberapa kawan sering mengadu, &lt;em&gt;“Gua pengen banget nulis tentang itu. Itu kena banget, gua banget dah, tapi gua bingung harus mulai dari mana”&lt;/em&gt; atau seperti ini; “ &lt;em&gt;“Sebenernya gua udah dapet alurnya, Nu. Gua harus nyeritain ini dulu, terus ke sini, baru ke situ. Tapi masalahnya gua bingung nulisnya. Kalimat yang harus gua tulisin itu apa? Gimana dulu awalnya?”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah begitu banyak guru, dosen, penulis, penyair, sastrawan, atau penulis biasa menjawab dengan kalimat kira-kira seperti ini, ‘Tulislah apa yang saat itu kaupikirkan’. Maman S. Mahayana menerangkan kira-kira seperti ini, ‘Kalau mau belajar berenang, turunlah ke air, lalu berenanglah. Kalau mau belajar sepeda, naiki sepeda lalu kayuhlah. Kalau mau belajar menulis, pegang pena, lalu tulislah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara sederhana ada dua pilihan cara yang bisa dijadikan patokan untuk memulai menulis. Cara pertama adalah ‘tulislah apa yang ada di sekitarmu’, dan kedua adalah‘tulislah apa yang terlintas di benakmu’. Pilihan ini dilakukan tergantung pada kebutuhan. Ketika memang sedang begitu semangat memikirkan sesuatu, maka biasanya cara ke-dua dilakukan. Bila sedang ingin menulis, tapi pikiran sedang kabur dan tidak fokus, maka cara pertama yang digunakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara pertama dilakukan ketika memang sedang ingin menulis tapi tidak sedang memiliki ide atau fokus pada sesuatu untuk dituliskan. Dalam Belajar #1 dijelaskan, kalau kita melihat gorden, maka tulislah ‘gorden’. Kalau gorden itu ditiup angin, maka tulislah ‘gorden itu ditiup angin’. Kalu kita melihat segelas kopi hitam yang tumpah, maka tulislah seperti itu adanya. Cara seperti ini berupa proses deskriptif. Cara ini sangat bermanfaat untuk membiasakan diri dalam menulis dan memulai tulisan, adakah itu tulisan ilmiah, fiksi, atau berita. Adapun nanti yang membedakan isi dan mengotak-kotakan jenis bahasa tulis adalah sumber dan tujuan tulisan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, cara ke-dua dilakukan ketika kita sedang semangat berpikir namun bingung untuk menuangkan kalimat awal. Caranya yaitu dengan menuliskan terlebih dahulu ide, kasus, atau sesuatu yang sedang ada dalam pikiran kita. Kalau saat ini yang ada di pikiran kita adalah kisah tentang seorang lelaki yang sakit hati karena wanita yang ia cintai dijemput pulang mantan pacarnya, maka awali tulisan dengan kalimat tadi, karena itu akan lebih mudah ditulis. Kalau sekarang yang ada di pikiran kita adalah raut muka seorang lelaki yang pucat pasi, gugup karena wanita yang ia cintai duduk dekat sekali, hanya lima jengkal di dekatnya, maka awali tulisan dengan seperti itu. Atau mungkin yang ada di pikiran kita adalah seorang bocah kumal, dekil, yang diam melamun dan merindukan keluarga yang telah mengusirnya karena tak menerima takdir cacat yang dimiliki sang anak, tulislah itu di kalimat awal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan paling penting dalam dua cara di atas yaitu JANGAN DULU MEMIKIRKAN ALUR!!!!&amp;nbsp; Tuliskan saja setiap kebutuhan cerita selain alur (plot), diantaranya tuliskan apa masalahnya, bagaimana awal masalahnya, bagaimana akhir ceritanya, siapa saja tokohnya, dan lain-lain. Intinya adalah apa pokok masalah, tema atau kasus apa yang akan kita angkat, itulah yang pertama kali harus kita tuliskan. Paling tidak cara ini bisa menjadi pemicu untuk kita lebih fokus akan tulisan kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nanti (nanti lho), setelah semua kebutuhan cerita dirasakan cukup oleh anda (sebagai penulis), barulah lakukan pengeditan. Editlah sesuai dengan apa yang anda harapkan dan barulah di sini plot harus anda pikirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Tapi Nu, setelah gua coba, gua malah ragu sama kalimat yang gua tulisin. Kayaknya gak nyambung deh, nanti kalo gak nyambung gimana?”&lt;/em&gt;&amp;nbsp; Bila kasusnya seperti ini, maka sesungguhnya anda adalah pemikir hebat, orang hebat. Anda bisa tahu mana tulisan yang bagus, yang menarik, yang indah dan sebaliknya. Anda bertanya seperti itu berarti anda adalah orang berbakat. Namun, ternyata kepala anda terlalu liar berpikir. Anda hanya tinggal mengendalikan sedikit saja, mengatur emosi,sesuaikan dengan kebutuhan tulisan, lalu tulislah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Djenar Maesa Ayu pernah bercerita bahwa Seno Gumira Adjidharma pernah berkata, &lt;em&gt;‘dari seribu tulisanmu pasti ada satu tulisan yang sangat bagus, jadi tulislah sebanyak mungkin’&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;selesai&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-9188668931814563660?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/9188668931814563660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/9188668931814563660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/04/mengatasi-miskin-ide-dalam-menulis-2.html' title='Mengatasi Miskin Ide dalam Menulis #2'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-6990094421142081054</id><published>2011-04-22T23:03:00.000+07:00</published><updated>2011-04-22T23:03:27.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Kampanye Sastra oleh Komunitas Pintu</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komunitas Pintu yang bertempat di Jl. Rd. Bujang RT.03/01 Purwodadi, Kel. Tebing Tinggi, Kec. Tebo Tengah, akan menggagas workshop tentang menulis kreatif puisi. Acara ini akan diselenggarakan pada tanggal 1 Mei 2011 jam 12.30 s.d. 17.00 WIB di sekretariat Komunitas Pintu. Pengisi materi atau pemateri pada workshop tersebut oleh Dr. Sudaryono, M.Pd yang merupakan dosen UNJA dan seorang sastrawan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegitan ini ditujukan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Mengangkat tema Kampanye sastra, Komunitas Pintu siap menggebrak para pegiat dan penyinta sastra di lingkungannya dan Indonesia. Untuk yang berminat sangat dipersilakan menghadiri acara tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gZSmaXW-vnE/TbGmNdUD5kI/AAAAAAAAAbA/ewWmrhXxKUM/s1600/jj.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-gZSmaXW-vnE/TbGmNdUD5kI/AAAAAAAAAbA/ewWmrhXxKUM/s1600/jj.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-6990094421142081054?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6990094421142081054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6990094421142081054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/04/kampanye-sastra-oleh-komunitas-pintu.html' title='Kampanye Sastra oleh Komunitas Pintu'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gZSmaXW-vnE/TbGmNdUD5kI/AAAAAAAAAbA/ewWmrhXxKUM/s72-c/jj.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-7606797616309072818</id><published>2011-03-15T20:41:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T20:41:44.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Belajar Lebih Peduli Bersama Komunitas “KOPI Sastra”</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:auto; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:auto; mso-para-margin-left:0cm; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Komplotan Penulis Imajinasi Sastra atau yang lebih dikenal dengan sebutan KOPI Sastra, kini mulai bergerak secara perlahan namun pasti dalam mewadahi para penikmat dan pegiat sastra. KOPI Sastra berdiri pada tanggal 17 Oktober 2008 di Bogor. Pendirian KOPI Sastra memang bermula seperti angin yang melintasi pikir Wahyudi dan Helmy Fahruroji dan kemudian berdomisili dalam kepala mereka. Hingga beberapa bulan kemudian pikiran tersebut menjadi sebuah gagasan untuk melahirkan sebuah komunitas sastra di Bogor.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemikiran tersebut muncul ketika mereka menyukai ruang lingkup sastra, terutama dalam menulis. Kendala yang mereka hadapi ialah bagaimana cara mencari wadah untuk &lt;/span&gt;menyalurkan&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt; tulisan-tulisan mereka. Dengan memberanikan diri, mereka mengadakan diskusi dengan beberapa teman kuliah di Universitas Pakuan Bogor. Pertemuan pertama sederhana, hanya sekedar mencari dukungan untuk menciptakan wadah bagi warga Bogor yang memiliki hobi menulis &lt;/span&gt;tentang &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;nilai-nilai sastra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Garapan utama pada waktu itu ialah para mahasiswa&lt;/span&gt; dan mahasiwi&lt;span style="mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bogor&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;. Hal tersebut dikarenakan mereka memang para mahasiswa yang mengambil jurusan tersebut. Kemudian muncul pemikiran-pemikiran untuk menumbuhkembangkan komunitas KOPI Sastra yang mereka lahirkan dengan menggarap para pelajar se-Kota Bogor.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hingga tahun 2010, KOPI Sastra sudah membuktikan produktifitasnya dengan menerbitkan dua buku dan satu buah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;compact disk&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;(CD) &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;secara &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;self publishing&lt;/i&gt; yang merupakan antologi karya-karya para pengikutnya yang aktif. Antologi-antologi tersebut dibuat sederhana karena anggaran yang digunakan diambil dari kocek para pengurusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perjalanan sebuah komunitas jelas tidak selalu mulus, begitu juga dengan KOPI Sastra. Ditengah-tengah perjalanan mengalami berbagai hambatan&lt;/span&gt;, k&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;ebanyakan para pengikutnya menghilang begitu saja. Padahal di komuitas KOPI Sastra tiap anggota sama sekali tidak dikenakan anggaran wajib. Bahkan, ketika para anggota yang berdomisili di luar kota Bogor apalagi luar provinsi atau pulau, cukup dengan mengirimkan karyanya via e-mail ketika ingin &lt;/span&gt;karyanya &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;diterbitkan. Mungkin itulah &lt;/span&gt;salah satu sifat&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt; manusia, ingin semua serba instan, seperti halnya seseorang yang ingin buang air besar atau bermain sulap&lt;/span&gt;;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;bimsalabim&lt;/i&gt;, jadi!&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun hingga 2011 ini, mereka tidak mau menyerah ditengah perjalanan. Tubuh mereka sudah ter&lt;/span&gt;e&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;ndam sebagian dalam kobangan sastra. Mereka amat-sangat cinta dengan KOPI Sastra. Mereka masih bisa melaluinya dengan senyum dengan lesung pipi yang merah merona. Hal tersebut dibuktikan dengan merilis web mereka&lt;/span&gt;,&lt;span style="mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;a href="http://www.kopisastra.org/"&gt;www.kopisastra.org&lt;/a&gt; untuk menaungi para penikmat dan pegiat sastra mengekspresikan karyanya. Web tersebut diciptakan oleh Menkominfo KOPI Sastra, Pry&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Pembuatan situs tersebut juga merupakan sebagai penyambutan HUT Sastra Internet pada tahun ini&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;. Peresmian web &lt;a href="http://www.kopisastra.org/"&gt;www.kopisastra.org&lt;/a&gt; direncanakan pada tahun ini&lt;/span&gt;,&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt; bertempat di dua kota, Bogor dan Bandung. Selain itu, KOPI Sastra juga akan siap men&lt;/span&gt;e&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;rbitkan antologi keempatnya pada tahun ini. Antologi yang biasa disebut APK (Antologo Pohon Kopi) itu juga direncanakan akan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;launching&lt;/i&gt; secara bersamaan dengan web &lt;a href="http://www.kopisastra.org/"&gt;www.kopisastra.org&lt;/a&gt; di dua kota tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; margin: 0cm 0cm 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Semoga komunitas KOPI Sastra menjadi salah satu medan sastra yang dapat menciptakan para sastrawan baru dengan kompetensi, intelegensi, dan &lt;/span&gt;kepedulian terhadap&lt;span style="mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;esensi-esensi seni-budaya yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-7606797616309072818?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/7606797616309072818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/7606797616309072818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/belajar-lebih-peduli-bersama-komunitas.html' title='Belajar Lebih Peduli Bersama Komunitas “KOPI Sastra”'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-1260888583601874476</id><published>2011-03-15T05:17:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T05:26:46.793+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Sastra dalam Pengembangan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah &lt;a href="http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/sastra-dalam-pengembangan.html"&gt;&lt;i&gt;nyemplung&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; dalam kobangan sastra yang kemudian meminum air dan melumuri tubuh dengan lumpurnya itu ada batasnya?...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat berbagai perkembangan yang terjadi dalam ranah sastra beserta  konflik-konfliknya, sangat jelas bahwa bidang sastra ialah sebuah ruang  meditasi yang terus meluas dan diminati banyak individu. Saat  memperhatikan segelintir anak remaja SMP, SMA, dan Mahasiswa yang  tertarik dengan dunia sastra, mungkin terpikir akan ada cetakan-cetakan  baru atau regenerasi. Namun, setiap tingkat pemahaman yang dimiliki  berbeda pada setiap individunya. Tidak sedikit seseorang yang memiliki  potensi besar dan sesibilitas tinggi terhadap sastra, memilih bidang  lain karena pola pikir yang ada dalam dirinya. Sebaliknya, seseorang  yang memiliki sedikit potensi dan kepekaan standar bahkan cenderung  lamban, sangat tertarik dengan sastra.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak bisa dipungkiri, awal mula seseorang tertarik dengan sastra,  sebenarnya ia sendiri tidak mengerti, bahwa, sesungguhnya ia telah  mencelupkan kakinya pada kobangan sastra (terutama pada tingkatan SD dan  SMP). Mereka belum mencapai temuan-temuan, bahwa, betapa menawan  sekaligus peliknya dunia sastra. Menawan karena dengan sastra kita sadar  akan esensi kehidupan, baik dari segi pribadi apalagi jika dikaji lebih  mendalam dan universal. Pelik jika melihat kemudian menkaji konflik,  fenomena, dan argumen-argumen yang terjadi hingga sastra terus  berkembang seiring polemik-polemiknya. Dengan dan tanpa kita sadari  ternyata, hal tersebutlah yang membentuk pola pikir menjadi lebih  alamiah, sensitif, &amp;nbsp;dan kritis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, apakah perlu kita membahas tentang polemik-polemik yang terjadi  dalam perkembangan sastra yang pelik kepada anak yang sedang asik  melukiskan kehidupannnya secara sederhana ke dalam sebuah karya?. Hal  ini jelas bergantung kepada siapa pertanyaan tersebut ditanyakan.  Menurut saya sendiri, hal ini tidak perlu dijelaskan secara gambalang  terlebih dahulu. Biarkan mereka asyik bermain dengan tema dalam  kehidupannya, melewati plot-plot dengan berbagai setting hingga  menghadapi konflik dan mencapai klimaks. Ketika pola pikirnya mulai  berkembang dan sensitif, ia akan menemukan amanat-amanat dari setiap hal  yang dialaminya. Maka, munculah gagasan-gagasan baru yang bisa ia  kembangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/sastra-dalam-pengembangan.html"&gt;Belajar sastra&lt;/a&gt; ialah belajar menelaah, menciptakan sensibilatas  tinggi, mengembangkan pola pikir kritis yang sistematis, dan mencari  kebenaran yang tersembunyi untuk dihayati sehingga mendapatkan solusi.  Hal tersebut akan mewujudkan manusia menjadi manusia yang memiliki hati  dan nurani dan berani. Seperti halnya konteks sastra yang pernah saya  dengar dalam kuliah, bahwa, sastra itu dapat &lt;a href="http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/sastra-dalam-pengembangan.html"&gt;memanusiakan manusia.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-1260888583601874476?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/1260888583601874476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/1260888583601874476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/sastra-dalam-pengembangan.html' title='Sastra dalam Pengembangan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-5736537879506992935</id><published>2011-03-07T20:22:00.001+07:00</published><updated>2011-03-07T20:32:34.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Mengatasi Miskin Ide dalam Menulis #1</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sahabat, ini sebuah catatan teman tentang menulis, terutama &lt;a href="http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/mengatasi-miskin-ide-dalam-menulis-1.html"&gt;menciptakan sebuah ide dengan belajar&lt;/a&gt; secara sederhana. Catatan yang di tulis oleh &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1601594050"&gt;Abdee Nugraha&lt;/a&gt; ini semoga membantu untuk kita. Terutama untuk memulai belajar dan menumbuhkan minat terhadap menulis. Baik, kita simak pembelajaran di bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;‘Menulis tidaklah gampang’, itulah inti dari setiap ungkapan  orang-orang yang mengalami kesulitan dalam menulis. Sulit mendapatkan  ide adalah faktor utama dan faktor awal yang biasanya dialami. Inilah  masalah yang paling sering muncul pada setiap penulis. Mereka  mengistilahkan dengan miskin ide.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Istilah  miskin ide sebenarnya kurang tepat disematkan pada manusia waras. Ide  sebenarnya selalu ada, hanya saja nampak begitu kabur dan ketika nampak  jelas rasanya sulit sekali diungkapkan apalagi dituliskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ide adalah hal-hal yang terlintas di kepala seseorang sebagai  pengembangan kerja panca indra. Ketika membayangkan bakso yang begitu  pedas dimakan tengah hari bersama kawan-kawan sambil diselingi canda  antarsesama saat makan, maka ide itu bermula dari makan bakso. Ketika  mendengar lagu ‘Tikus-tikus Kantor’ karya Iwan Fals, terbesit dalam  pikiran bagaimana wujud tikus dan kebiasaan tikus kantor, tikus berdasi,  dan lain-lain. Maka, sebenarnya ide kita dimulai dari tikus tersebut.  Atau ketika tidak memikirkan apa-apa, nampak di depan mata sebuah gorden  digoyangkan angin, maka ide berawal dari gorden dan angin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah mendapatkan sesuatu dari panca indera, haruslah berpikir untuk  akhirnya dapat muncul sebuah ide. Pengembangan itu bebas, tak ada aturan  dalam mengembangkan ide. Bisa saja kejadian gorden angin mengakibatkan  kita terpikirkan angin puting beliung yang menghabiskan rumah di tiga  dusun. Semua warga mati kecuali Aisyah, remaja empat belas tahun yang  masih perawan.&amp;nbsp; Aisyah terpaksa melupakan nafsu birahi yang sejak  beberapa malam menghantuinya. Inilah contoh pengembangan paragraf hingga  akhirnya tercipta sebuah ide.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebelum  dikembangkan ide ini dalam bentuk tulisan, kita tentu harus begitu peka  terhadap apa yang ada di sekitar kita. Haruslah dulu terbiasa menuliskan  apapun yang dihasilkan panca indera. Dalam hal ini, &lt;a href="http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/mengatasi-miskin-ide-dalam-menulis-1.html"&gt;membiasakan  menuliskan setiap kata&lt;/a&gt; atau nama benda adalah syarat utama. Misal,  karpet, kertas sapu, sofa, meja kaca, gelas, layar komputer, dan  lain-lain.&amp;nbsp; Mulailah dari kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk  mengembangkan penghasilan indera menjadi ide yang terkesan kreatif dan  imajinatif memang dibutuhkan berpikir yang luas. Tapi, perlu diketahui  bahwa berpikir luas pun bisa dilatih. Bila tadi membiasakan dengan  menuliskan kata atau nama benda, kali ini tingkatannya lebih tinggi,  yaitu klausa dan kalimat. Biasakan menuliskan apapun yang ada di sekitar  atau apapun yang dihasilkan panca indera ke dalam bentuk kalimat.  Contoh berdasarkan kata-kata di atas misalkan, ‘Karpet hijau yang sudah  dua bulan belum dicuci masih terlihat mantap tegar di kamarku’, atau  ‘Gelas yang kupakai minum semalam tiba-tiba raib dari atas meja. Padahal  aku yakin sekali menyimpan gelas itu di meja, semalam. Setahuku belum  ada satu orang pun yang masuk ke kamar ini, wong aku pun belum keluar!’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan &lt;a href="http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/mengatasi-miskin-ide-dalam-menulis-1.html"&gt;melatih membiasakan menulis&lt;/a&gt; kata, nama benda, kemudian klausa  dan kalimat, hingga paragraf, maka menulis sebenarnya tidaklah begitu  sulit. Tinggal kita perhatikan hal-hal lain di luar ide.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-5736537879506992935?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/5736537879506992935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/5736537879506992935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/03/mengatasi-miskin-ide-dalam-menulis-1.html' title='Mengatasi Miskin Ide dalam Menulis #1'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-4231188093402871564</id><published>2011-02-16T19:26:00.001+07:00</published><updated>2011-02-16T19:30:03.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>Fragmen Cerita Novel SABDA PALON</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-k4H0t7dG_Zw/TVvBvE7Vw4I/AAAAAAAAARM/9sB_8y3gsEc/s1600/sabda+palon.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-k4H0t7dG_Zw/TVvBvE7Vw4I/AAAAAAAAARM/9sB_8y3gsEc/s320/sabda+palon.jpg" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Oleh Salahuddin Gz&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Lihatlah aku di sini. Dengan perwujudanku yang bersahaja. Dengan perutku yang besar. Dengan kuncungku yang terangkat ke atas. Dengan tanganku yang senantiasa menunjuk. Aku melihat mendung hitam mulai menangkupi Nusantara. Aku mencium bau anyir kematian di sana. Dan aku mendengar jerit penderitaan. Bumi ini akan segera memerah karena darah yang tumpah. Pasukan dari seberang akan datang menciptakan kekelaman. Pasukan yang sejatinya berasal dari awan putih, namun entah mengapa berubah menjadi mega hitam kematian.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Semua itu tak lepas dari karma penghuni Nusantara. Yang telah lalai disebabkan kemegahan para leluhurnya. Kesemena-menaan, keangkuhan, kesombongan telah meraja. Pasukan dari seberang itu yang akan membalaskan karma dengan setimpal. Karena itu, aku akan mewujud di bumi Nusantara sebagai sosok manusia biasa. Agar manakala perubahan itu terjadi, tidak banyak darah tertumpah menggenangi persada. Namun sesudahnya, aku akan meninggalkan Nusantara dalam jangka lima ratus tahun.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Manakala alam telah menggeliat karena sudah tak lagi mampu menampung dekap mendung kematian, saat itulah pertanda bahwa aku akan kembali ke Nusantara. Kini aku telah bangun dari tidur panjangku. Dan aku telah siap untuk mengejawantah!&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hiruk-pikuk kegiatan perniagaan kini berubah menjadi teriakan yang memperingatkan teman yang lain, bentakan agar segera melepas sauh, atau makian karena beberapa orang tak sengaja menghalangi tubuh mereka yang hendak berusaha menyelamatkan diri. Tubuh-tubuh itu berhamburan dari dermaga. Ada yang masih melompat turun dari jung. Ada yang tengah sibuk mengangkat sauh. Ada yang sudah berlari ke daratan. Suasana kacau-balau.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Disusul dari arah berlawanan, beberapa kuda dipacu kencang menuju pelabuhan. Tampak beberapa prajurit Kamboja datang untuk memastikan sendiri kabar yang telah diterima dari petugas pelabuhan. Ada sekitar sepuluh prajurit yang memacu kudanya mendekat ke dermaga. Dan begitu sudah sedemikian dekat dengan pantai, mereka memperhatikan dengan saksama ke arah selatan. Di tengah lautan tampak tujuh buah jung, satu berukuran besar dan enam berukuran sederhana, merapat ke Prey Nokor. Kini, tanpa memerlukan kaca pembesar berbentuk teropong, mata telanjang mereka sudah bisa melihat bendera bergambar surya berkibar di atas jung-jung itu. Ditambah dengan bentangan kain merah dan putih yang melambai-lambai ditiup angin barat, seluruh prajurit Kamboja sudah yakin, jung-jung yang hendak merapat ke pelabuhan itu tak lain adalah jung-jung tempur Majapahit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sang pemimpin pasukan tampak melirik ke beberapa titik tersembunyi. Titik di atas dahan-dahan pohon dan menara pengawas. Di sana, beberapa prajurit panah Kamboja sudah siap dengan busur dan anak panahnya. Posisi mereka sangat tersembunyi. Jika tidak awas, siapa pun tidak bakal tahu jika ada orang yang tengah berada di sana. Begitu sudah yakin dengan apa yang mereka lihat, segera mereka memutar arah kuda dan menggebrak kudanya masing-masing meninggalkan pelabuhan. Di tengah hiruk-pikuk mereka yang tengah menjauh dari bibir pantai, kuda-kuda mereka melesat bagai anak panah, berkejaran, susul-menyusul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sedangkan di sana, di tengah laut selatan Kamboja, tujuh buah jung tempur sudah semakin dekat. Kini, bentuk ketujuh jung itu sudah sangat jelas terlihat dari pantai. Bendera besar bergambar surya, dengan umbul-umbul merah dan putih, berkelebat-kelebat tertiup angin. Dalam jarah beberapa puluh tombak dari pantai, rupanya sauh sudah di turunkan. Layar sudah tergulung semua. Tujuh jung itu berhenti bergerak. Disusul kemudian, dari dek setiap jung, keluar perahu-perahu kecil yang memuat pasukan tempur Majapahit. Perahu-perahu itu segera didayung menuju pantai. Kini, tak ada pemandangan lain di tepi Pelabuhan Prey Nokor kecuali berpuluh-puluh perahu kecil, dengan prajurit siap tempur di atasnya, yang tengah bergerak susul-menyusul ke daratan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitu tiba di pantai, masing-masing prajurit melompat ke darat, bergerak dengan sigap, bertumpu pada salah satu lutut, sedangkan perisai diposisikan melindungi bagian badan. Berjajar-jajar dan susul menyusul mereka melakukan hal itu. Kini, di bibir pantai Prey Nokor, terlihat berderet-deret pasukan Majapahit dengan perisai besi melindungi tubuhnya. Prajurit yang turun belakangan segera ikut bersembunyi di belakang badan temannya yang terlindung perisai. Prajurit yang tengah berlindung adalah prajurit pemanah. Begitu mereka sudah dalam posisi aman, satu-dua dari mereka segera melepaskan anak panahnya. Terdengar jerit kesakitan diiringi beberapa tubuh yang terjatuh dari atas pohon atau menara pengawas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rupanya, beberapa prajurit panah Kamboja yang sudah siap di tempat tersembunyi untuk membidikkan anak panahnya telah didahului oleh prajurit panah Majapahit. Ada tujuh prajurit panah Kamboja yang tersungkur ke tanah dengan anak panah menancap di tubuh atau kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Merunduk!” Menyusul terdengar suara lantang dari pemimpin prajurit Majapahit. Beberapa prajurit panah yang baru melepaskan anak panahnya segera bertiarap di belakang prajurit yang membawa tameng. Anak-anak panah meluncur ke arah mereka. Dan semua anak panah itu mental, tertangkis oleh tameng-tameng yang dipasang dalam formasi tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitu desingan anak panah sudah reda, terdengar teriakan keras:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Bidik!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kini, prajurit panah yang baru saja berlindung di belakang prajurit yang membawa tameng, dengan gerakan luar biasa cepat, segera memasang anak panah pada busurnya. Dan ganti prajurit panah Majapahit kini melepaskan anak panah mereka ke beberapa titik. Dan benar! Begitu anak panah meluncur ke beberapa arah, satu-dua tubuh jatuh tersungkur dari atas dengan anak panah menembus badan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seluruh prajurit lantas menunggu. Suasana hening dan sepi. Tak tampak lagi prajurit panah yang tersisa. Begitu dirasa aman, seorang prajurit mengibarkan bendera merah. Melihat bendera merah dikibarkan, menyusul dari arah lautan, perahu-perahu yang mengangkut meriam dan manjanik mulai dikeluarkan. Susul-menyusul perahu itu didayung ke tepian sembari membawa &lt;i&gt;bêdhil gêdhe&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dan alat pelempar api itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Arya Gajah Para dan Arya Banyak Lêmpur turun dari jung, menaiki perahu dan dilindungi beberapa prajurit yang membentuk formasi melingkar dengan tameng. Perahu yang dinaiki Arya Gajah Para lebih dahulu bergerak, disusul perahu yang dinaiki Arya Banyak Lêmpur. Kesatria-kesatria Majapahit sudah mulai menjejak daratan Kamboja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Meriam dan manjanik sudah naik ke daratan, disusul kemudian Arya Gajah Para, lantas Arya Banyak Lêmpur. Seluruh prajurit yang semula berjajar, dengan tameng-tameng yang melindungi tubuh mereka, kini telah bergerak ke atas. Di dermaga, mereka membentuk barisan. Ada sekitar lima ratus prajurit yang naik ke daratan. Namun, baru saja mereka membentuk barisan, mendadak dari arah berlawanan terdengar suara berderap riuh-rendah. Seluruh prajurit Majapahit waspada!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“&lt;i&gt;Ardhachandra wyuuha&lt;/i&gt;!” Arya Banyak Lêmpur yang memimpin dua ratus lima puluh prajurit segera berteriak lantang, memerintah dua ratus lima puluh prajurit Majapahit yang dipimpinnya untuk membentuk formasi perang &lt;i&gt;ardhachandra wyuuha&lt;/i&gt;, yaitu formasi yang berbentuk melengkung bagaikan wujud rembulan sebelum purnama. Dengan sigap dan terlatih, seluruh prajurit Majapahit, di bawah pimpinan Arya Banyak Lêmpur, membentuk formasi tersebut. Beberapa orang berputar arah, posisi barisan terlihat melengkung dengan cekungan di tengah-tengah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“&lt;i&gt;Samapta&lt;/i&gt;!” Kembali Arya Banyak Lêmpur berteriak, dan bunyi lutut menapak tanah diiringi suara tameng-tameng menghentak serempak terdengar. Kini, dalam posisi &lt;i&gt;ardhachandra wyuuha&lt;/i&gt;, pasukan Majapahit di bawah pimpinan Arya Banyak Lêmpur meletakkan tameng-tameng di depan tubuh mereka dan posisi mereka berjongkok dengan salah satu lutut menapak tanah. Di atas tameng, tombak-tombak terarah ke depan dengan mantap. Luar biasa gerakan mereka, serempak dan terlatih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“&lt;i&gt;Samapta&lt;/i&gt;!” Kini terdengar teriakan Arya Gajah Para, yang memimpin dua ratus prajurit yang sekarang posisinya ada di belakang prajurit Arya Banyak Lêmpur, yang terlebih dulu membentuk formasi &lt;i&gt;ardhachandra wyuuha. &lt;/i&gt;Mendengar komando tersebut, dua ratus prajurit Arya Gajah Para segera menghunus pedangnya masing-masing. Bunyi besi terhunus terdengar bising. Kini, dengan tameng di depan tubuh dan pedang terhunus, dua ratus prajurit itu menunggu perintah selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di belakang mereka ada lima puluh prajurit yang menjaga manjanik dan meriam. Mata prajurit Majapahit awas mengamati gerakan berderap dari arah depan. Telah terlihat, ratusan prajurit berkuda Kamboja tengah menyerbu mereka dengan pedang-pedang terhunus. Kuda-kuda mereka berlari kencang, berderap, meluncur menuju barisan prajurit Majapahit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Prajurit Kamboja yang melaju sembari berteriak-teriak garang itu telah hampir sampai pada barisan prajurit Majapahit.&amp;nbsp; Seluruh prajurit Majapahit tetap berada dalam posisi masing-masing. Mata mereka awas. Tangan mereka telah siap menggerakkan senjata. Tinggal menunggu aba-aba.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitu prajurit Kamboja telah semakin dekat, Arya Banyak Lêmpur berteriak:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“&lt;i&gt;Hara, Hara, Hara Mahadewa&lt;/i&gt;!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Barisan depan prajurit berkuda Kamboja menerjang barisan prajurit Majapahit. Dalam posisi &lt;i&gt;ardhachandra wyuuha&lt;/i&gt; yang melengkung di tengah, pasukan Majapahit yang posisinya ada di tengah bergerak seolah minggir memberi jalan, namun dari sisi kiri dan kanan tombak-tombak prajurit Majapahit menukik menusuk lambung-lambung kuda prajurit Kamboja. Ringkikan kuda yang tertusuk tombak terdengar berselang-seling, disusul jerit kematian para penunggangnya yang terjatuh dan langsung disambut tombak-tombak tajam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebentar saja, sudah berpuluh-puluh kuda terjerembap dan penunggangnya tewas tercacah tombak. Erangan kematian terdengar di mana-mana. Mereka yang bisa lolos dari jepitan pasukan tombak segera disambut tebasan pedang oleh prajurit Arya Gajah Para yang bersiap di belakang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bangkai kuda dan mayat prajurit Kamboja sebentar saja sudah tumpang-tindih di tanah, bermandikan darah segar. Ada yang bisa meloloskan diri, melompat dari punggung kuda, berguling di tanah, dan segera bangkit menyerang. Mereka yang selamat segera disambut oleh prajurit pedang Arya Gajah Para. Prajurit tombak terus melakukan gerakan mereka menusuk lambung, kaki, leher, dan paha dari kuda-kuda yang ditunggangi prajurit Kamboja yang terus datang menyerang. Yang tidak cepat melompat sudah pasti meregang nyawa terkena tombak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Makhluk-makhluk yang terlahir di alam surga kadang kala masih juga ingin menembus batas dimensi antara surga dan bumi. Batas yang memisahkan antara kedua alam, batas yang hanya bisa ditembus pada waktu-waktu tertentu ketika jarak antara dua alam itu tengah berada dalam posisi sejajar. Alam surga sangat luas dan bertingkat-tingkat. Semakin ke atas semakin suci getarannya. Hanya roh-roh yang benar-benar terpilih yang mampu terlahir di alam surga tertinggi. Dan di surga terendah hanya dihuni oleh roh-roh yang berlimpah kebajikan, namun masih melekat pada keakuan yang tebal. Eloknya, sesuci apa pun alam surga itu, keberadaannya sama sekali tidak menunjang peningkatan kesadaran para penghuninya. Kenikmatan berlimpah yang tersedia membuat terhenti perjalanan jiwa mereka. Ketidaksetimbangan antara kegembiraan dan kesedihan, di mana kegembiraan lebih dominan, membuat jiwa mereka tidak berkembang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hanya alam manusia yang sesuai untuk perkembangan jiwa, karena di alam yang satu ini kegembiraan dan kesedihan datang silih berganti dalam kondisi seimbang. Inilah yang membuat beberapa penghuni surga berhasrat untuk terlahir di alam manusia. Ini pulalah yang mendorong beberapa penghuni alam surga, yaitu para dewa, yang memiliki kemampuan lebih, sesekali menembus dimensi alam manusia. Mereka ingin berkunjung untuk beberapa saat. Mereka menembus batas dua alam ketika kondisi tengah memungkinkan untuk itu, lalu secepatnya kembali ke alam surga jika tidak ingin celaka hidupnya. Kalaupun bisa selamat dan menyesuaikan diri dengan kondisi alam manusia, kelak dia harus terlahir di alam neraka jika batas kehidupan menemui mereka. Ya, harus terlahir ke alam bawah setelah mereka meninggal dunia. Sebuah alam yang mengerikan dan penuh penderitaan. Sebuah alam yang bertolak belakang dengan keadaan surga. Alam neraka adalah alam yang lebih dikuasai kesedihan daripada kebahagiaan, yang lebih dikuasai kebingungan daripada ketenangan. Dan dari alam itu, jika timbunan hasil perbuatan mereka menunjang, penuh berlimpah kebajikan, mereka bisa terlahir di alam surga kembali. Atau, jika timbunan kebajikan mereka sangat bagus, mereka bisa terlahir di alam manusia. Walaupun begitu, sesekali ada juga para dewa yang nekat berkunjung ke alam manusia. Mereka ingin sedikit bermain-main di alam istimewa ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seperti pagi itu, seleret pelangi memancar di angkasa. Tak ada yang istimewa sebenarnya dari bentangan tujuh warna indah itu. Tak ada yang aneh dan unik. Namun, tidaklah begitu bagi yang awas mata batinnya. Di balik bentangan selendang surgawi itu, tampak beberapa tubuh tengah terbang di antara geraian cahaya pelangi. Tubuh-tubuh itu bergerak lambat, melayang meniti bias cahaya yang menjuntai ke bumi. Semakin mereka mendekat ke bumi, menuju alam manusia, semakin jelas terlihat wujud-wujud mereka. Tujuh wanita bertubuh ramping dan indah, tujuh makhluk penghuni surga paling bawah, tampak bergerak terus ke bumi. Kerlip mahkota yang mereka kenakan sesekali tertimpa cahaya mentari, cahaya yang terpancarkan ke dimensi alam manusia. Ini menunjukkan, tubuh-tubuh mereka mulai memadat, menyesuaikan dengan kondisi alam manusia untuk sementara waktu, walaupun tetap tak kasatmata bagi kebanyakan manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tujuh bidadari itu mendarat di bebatuan cadas besar yang bertebaran di pinggiran sendang&lt;i&gt; &lt;/i&gt;di tengah hutan lebat. Satu per satu mereka menapakkan kaki di bebatuan. Yang sudah lebih dahulu mendarat tampak berseri-seri wajahnya, penuh ketakjuban melihat ke sekeliling. Sekarang mereka telah menginjakkan kaki di sini, di bumi, tempat yang istimewa ini. Mereka memilih tempat terpencil di tengah hutan belantara. Mereka semua tampak gembira dan takjub.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tak ada satu pun cela dari wajah dan bentuk tubuh mereka. Tujuh makhluk surgawi ini sungguh sempurna. Wajah mereka yang cantik, dengan rambut panjang sepundak serta tubuh ramping yang begitu indah, membuat siapa saja yang mampu melihat perwujudan mereka akan mengira semuanya sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Salah satu di antara mereka terlihat berjongkok dari tempat mereka berdiri barusan. Tangan kanannya diulurkan untuk menyentuh air sendang yang terlihat sangat jernih. Begitu telapak tangannya menyentuh cairan bumi, tampak dia menikmati sensasi air yang ada di bumi, lantas tangannya bermain-main, mencakup air, memercik-mercikkannya. Mula-mula hanya percikan kecil, namun lama-lama, dengan girangnya dia menyiramkan air jernih itu ke tubuh teman-temannya. Tawa riang keluar dari mulutnya, disusul kemudian jeritan senang karena dirinya dibalas dengan percikan serupa oleh temannya. Tak lama kemudian, seorang dari mereka terbang rendah, telapak kakinya menapak air, seolah berdiri di atasnya, tubuhnya berputar perlahan. Kedua tangannya terentang ke samping, kepalanya mendongak ke angkasa dengan mata terpejam, rambut ikalnya tergerai. Dia tengah mereguk dan menikmati keindahan bumi, alam manusia ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seorang lagi melesat lambat sambil membawa air dengan kedua tangannya yang dicakupkan, terbang mendekati salah satu temannya dan menjatuhkan cakupan air itu ke tubuh temannya. Yang mendapat siraman air menjerit, kemudian ikut terbang untuk mengambil air dengan cakupan tangannya. Dia mencoba mengejar yang barusan menyiram tubuhnya. Yang dikejar tertawa sembari terbang rendah, berputar-putar di atas sendang. Mereka pun terbang rendah berkejaran dengan tertawa-tawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Melihat kedua temannya berkejaran, keempat yang lain tak tinggal diam. Mereka pun segera terbang ke arah air, mencoba mencungkupkan kedua tangan untuk mengambil air jernih dan menyiramkan ke tubuh temannya. Yang kedahuluan terkena cipratan menjerit dan cepat membalasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tawa bercampur jeritan senang terdengar di sendang tengah hutan itu. Tubuh-tubuh semampai yang saling kejar tampak melayang di atas sendang,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;berputar-putar. Riuh rendah suara mereka menggema memenuhi segenap penjuru. Bagi telinga manusia biasa, semua itu hanya akan terdengar seperti suara angin yang bersiut-siut pelan. Kadang juga akan terdengar mirip suara cekikikan samar. Bagi manusia yang waspada batinnya, jelas dia akan peka dan sadar bahwa di daerah itu tengah tergelar kejadian yang menakjubkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tak lama kemudian, salah satu makhluk surgawi itu mendarat, kemudian melepas busananya satu demi satu. Kini dia telanjang bulat! Sungguh luar biasa bentuk tubuhnya, tak ada cela sedikit pun. Kulitnya mulus dan bersih. Lalu ia terjun ke sendang.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Tubuhnya langsung menyatu dengan air. Dia pun berenang dengan riang. Melihat hal itu, bergilir teman-temannya yang lain mendarat. Satu per satu mereka melepas busananya. Kemudian, dengan tubuh telanjang, mereka ikut menyusul temannya yang sudah bermain-main, berenang ke sana-kemari dalam limpahan air jernih yang menyegarkan. Kembali suara tawa terdengar di antara mereka. Begitu polos dan lugunya mereka, sepolos tubuh mereka yang tak lagi dibalut sehelai benang pun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Keriangan dan keceriaan mereka membuat mereka lengah. Mereka tak menyadari jika di balik semak-semak, sepasang mata tengah mengamati. Sepasang mata yang takjub melihat pemandangan ajaib yang tergelar di depannya. Tak sekali pun mata itu berkedip. Semenjak tadi, si pemilik mata menikmati tubuh-tubuh indah beterbangan di atas&lt;i&gt; &lt;/i&gt;sendang. Beterbangan dengan mudah dan entengnya, bagaikan seekor burung yang melayang-layang. Sulit untuk mempercayai apa yang terpampang di depan matanya. Namun demikian, otaknya akhirnya menerima juga bahwa apa yang terlihat di depannya adalah sesuatu yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada awalnya, dia tengah berusaha mengejar seekor burung perkutut yang berpindah-pindah tempat bertengger. Sayup-sayup dia mendengar suara cekikikan diselingi jerit riang. Suara asing yang berasal dari&lt;i&gt; &lt;/i&gt;sendang&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Bergegas dia menghampiri sumber suara. Telinganya, yang sedari tadi menangkap jerit riang dan cekikikan samar, kini semakin lama semakin menangkap bentuk suara yang jelas. Mengendap-endap, dia menuju sumber suara. Dan dari balik semak-semak liar, dia begitu takjub melihat tujuh wanita yang tengah melayang-layang dan saling kejar. Lama baru dia bisa mempercayai bahwa pemandangan yang ditangkap matanya adalah nyata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hatinya bertanya-tanya, siapakah makhluk-makhluk cantik itu? Makhluk halus dari alam mana yang sungguh berani memasuki dimensi alam manusia sedemikian rupa? Keberanian atau kecerobohan? Walaupun dia belum mendapatkan jawaban, namun matanya terus mengamati pemandangan menakjubkan di depannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dan, betapa berdesir darahnya manakala dia melihat seorang dari mereka mendarat, melepaskan busananya satu per satu, memampang tubuh telanjangnya yang aduhai. Tak sadar, sang pemilik mata menelan ludah. Pertunjukan keindahan tak berhenti sampai di situ, keenam wanita yang lain ternyata berbuat hal yang sama. Sungguh suatu pemandangan luar biasa baginya. Dia tak kuasa memalingkan pandangannya. Kini, dilihatnya tujuh wanita cantik itu berenang ke sana-kemari, berkejaran dengan riangnya. Sang pemilik mata itu sesak napasnya. Dadanya terus berdebar, dan kini bertambah kencang. Naluri lelakinya pun, mau tak mau, terbangkitkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di tengah kecamuk perasaan yang hebat itu, mendadak tebersit pikiran liar di benaknya. Matanya nyalang mengawasi busana para wanita yang terserak di beberapa tempat. Dan matanya tertumbuk pada busana yang letaknya lebih ke pinggir. Dadanya berdebar kencang. Debar berahi lelaki yang memicu pikiran liarnya. Dilihatnya para wanita yang masih asyik saling kejar. Sesaat dia ragu, namun dorongan berahinya membuatnya bergerak mengendap. Didekatinya tumpukan busana yang terletak paling pinggir. Debar di dadanya semakin kencang. Setelah yakin keadaannya aman, dengan berjongkok dia berjalan ke arah busana yang terletak dua tombak di depannya, lalu meraihnya. Ada hawa aneh, hawa sejuk yang menempel di telapak tangannya. Sesaat dia merasa terkejut saat busana itu telah berada dalam genggamannya, namun waktu tak mengizinkan dirinya untuk berlama-lama. Cepat dia meraih busana itu, kemudian perlahan kembali ke tempatnya bersembunyi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Banyak semak dan tumbuhan perdu di sana, sehingga sangat membantunya untuk bersembunyi. Di tempat persembunyian, dengan dada yang masih berdebar tak karuan, diamatinya busana aneh yang ada di dalam genggamannya. Terlihat sangat lain! Terasa hawa sejuk memancar dari sana, yang belum pernah dirasakannya pada bahan kain yang lain. Tenunannya sangat halus, corak warnanya lembut tapi indah. Sedikit mirip busana para putri kerajaan, namun bahan dan buatannya jauh lebih bagus. Yang pasti, ini bukan buatan tangan manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemuda itu beringsut, perlahan meninggalkan tempat semula. Setelah berjarak sekitar dua puluh tombak dari sendang, setelah sedemikian banyak pohon besar melindungi tubuhnya, dia berbalik arah, lalu setengah berlari menyusuri jalan setapak yang membelah hutan lebat itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tujuh makhluk surgawi itu masih larut dalam kegembiraannya. Di antara mereka kini ada yang telah mentas dari air, lantas menengkurap di permukaan batu cadas yang cukup luas. Tubuh indahnya begitu jelas terlihat, terpampang sedemikian sempurna tanpa sehelai benang pun, menambah keindahan suasana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Waktu bergulir tanpa terasa. Matahari semakin condong ke barat. Salah seorang wanita yang masih berada di dalam air mendadak memekik. Sebuah pekikan yang aneh. Terlihat dia berbicara, entah apa yang diucapkannya. Bahasa yang keluar dari mulutnya terdengar sangat asing, dengan suara yang sedikit mendengung dan lirih. Beberapa temannya mulai tersadar tentang batas waktu. Mereka menatap ke angkasa, lalu bergegas mentas dari air, menuju ke arah busana masing-masing dan mulai mengenakannya kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di tengah kesibukan mereka mengenakan busana, ada seorang yang tampak kebingungan. Dia tengah mencari-cari sesuatu. Dan kebingungannya menarik perhatian semua temannya. Segera mereka berkumpul mengerumuninya. Mereka lalu memekik, terkejut ketakutan. Suasana langsung berubah. Dengan bahasa yang aneh, mereka lalu berdebat. Perdebatan tak berlangsung lama sebab dua dari mereka melayang ke angkasa dengan tergesa-gesa. Empat dari mereka masih termangu, tak tega melihat temannya yang kehilangan busana, namun akhirnya tiga orang dari mereka pun melayang menyusul temannya yang lebih dahulu terbang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kini tinggal dua orang yang tertinggal di tepi sendang itu. Yang seorang telah rapi berbusana dan siap terbang, namun yang seorang lagi masih telanjang bulat, duduk memeluk lutut, menyembunyikan payudara dan kelaminnya. Ada keraguan dari yang sudah mengenakan busana untuk terbang, tetapi mau tak mau dia pun harus terbang menyusul temannya yang lain sembari mengamati temannya yang tertinggal di bumi tanpa busana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kini, suasana sendang, yang semula ramai dengan tawa canda, berubah lengang. Sunyi dan senyap. Tempat itu baru saja dipenuhi wanita-wanita cantik yang berkejaran. Kini yang ada hanya sosok tubuh yang terpaksa ditinggalkan oleh teman-temannya, ditemani kesenyapan yang meraja. Sosok telanjang bulat itu masih duduk memeluk lutut. Wajahnya tertunduk. Terdengar isak tangis yang tertahan darinya. Makhluk surgawi itu menangis. Tangisannya hanya ditemani kesunyian. Wajah cantiknya menengadah, menatap angkasa. Dari mulutnya terdengar desisan halus, kemudian dalam Bahasa Sanskerta yang jelas, dia berkata:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Wahai makhluk bumi, siapa pun kamu yang bisa menolongku, atau setidaknya memberikan pakaian untukku yang telanjang ini, kalau wanita maka akan kujadikan saudara, dan kalau lelaki maka akan kupasrahkan jiwa ragaku kepadamu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sumber: &lt;i&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=496727806975 &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-4231188093402871564?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4231188093402871564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4231188093402871564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/02/fragmen-cerita-novel-sabda-palon.html' title='Fragmen Cerita Novel SABDA PALON'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-k4H0t7dG_Zw/TVvBvE7Vw4I/AAAAAAAAARM/9sB_8y3gsEc/s72-c/sabda+palon.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-862394266532136422</id><published>2011-01-27T03:18:00.000+07:00</published><updated>2011-01-27T03:18:51.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>BEDAH BUKU: PAJANG Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya karya Martin Moentadhim S.M.</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;BEDAH BUKU:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;PAJANG Pergolakan  Spiritual, Politik, dan Budaya&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;(RUMAH BUDAYA  BETHARI SRI)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Sabtu, 29 Januari 2011&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TUCBEVZooTI/AAAAAAAAAQ8/UlkiSL1-J2I/s1600/pnjg.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TUCBEVZooTI/AAAAAAAAAQ8/UlkiSL1-J2I/s1600/pnjg.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;PAJANG MERUPAKAN&lt;/strong&gt; sejarah yang memiliki peran penting dalam  perkembangan sejarah Jawa. Namun, hingga kini, Kerajaan Pajang seperti  tertutup sesuatu yang sangat luar biasa. Banyak sekali  peristiwa-peristiwa yang “gelap’. Tengok saja bagaimana kisah ini  seharusnya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ki Ageng Pengging punya dua  putra: Ki Kebo Kenanga dan Ki Kebo Kanigara. Ki Kebo Kenanga—sebagai  penerus ayahnya menjadi adipati di Pengging—telah memeluk agama Islam  ajaran Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang). Ajaran Islam ini tidak  disukai oleh kelompok Wali Sanga yang mendukung kepemimpinan Demak.  Aliran itu dianggap sebagai aliran sesat, yang dikenal dengan aliran &lt;em&gt;jumbuhing  kawula gusti&lt;/em&gt;.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Dalam ajaran mistik Jawa,  kata-kata &lt;em&gt;jumbuhing kawula gusti&lt;/em&gt; (menyatunya hamba dan tuan)  melukiskan tujuan tertinggi dalam hidup manusia, yaitu tercapainya  kesatuan yang sesungguhnya (&lt;em&gt;manunggal&lt;/em&gt;) dengan Tuhan. Uraian  yang lebih rumit lagi karena kata &lt;em&gt;kawula&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;gusti&lt;/em&gt;  menunjukkan status manusia yang paling rendah dan paling tinggi di dalam  masyarakat.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Dalam pemikiran orang Jawa,  kesatuan kawula-gusti dilambangkan sebagai keris. Kedua bagian keris:  sarungnya (&lt;em&gt;warangka&lt;/em&gt;) dan matanya (&lt;em&gt;curiga&lt;/em&gt;) diberi  penafsiran yang sangat bersifat mistik. Sarung disamakan dengan manusia  dan matanya disamakan dengan Tuhan. Jadi melukiskan hubungan yang mutlak  ada, yang satu tidak sempurna tanpa kehadiran yang lain.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Penyerangan dari Demak di daerah pesisir ke Pengging di daerah  pedalaman ini merupakan kelanjutan proses pergerakan islamisasi dari  para wali di daerah pesisir utara Jawa. Perlu dipahami bahwa masyarakat  pedalaman pada saat itu masih kental dengan kepercayaan agama Hindunya  atau masih ’kafir’.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Bagaimana anda menyikapi salah  satu ulasan ini? Benarkah seperti itu?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami, YAYASAN  KERTAGAMA Mengundan Bapak/Ibu/Saudra/Saudari untuk hadir dalam acara  Bedah Buku: &lt;strong&gt;PAJANG Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya&lt;/strong&gt;  karya &lt;strong&gt;Martin Moentadhim S.M.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan  menghadirkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;PENULIS/NARASUMBER:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Martin  Muntadhim S.M&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;PEMBICARA:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Prapto  Yuwono&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pembicara: Pengamat Sejarah Pajang—Sastra  Jawa UI)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Harto Yuwono&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pengamat  Sejarah Pajang—Sejarah UI)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;MODERATOR&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Handoko  F Zainsam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Hari/Tanggal: &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sabtu,  29 Januari 29 Januari 2011&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Waktu:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;10.00  – 13.00&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tempat : &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Rumah  Budaya Bethari Sri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jln. Ampera Raya No.11&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jakarta  Selatan (Depan MEDCO)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atas kehadirannya, Kami  mengucapkan Terimakasih. Semoga sumbangsih pemikiran kita semua, mampu  memberikan masukan sejarah dan pemikiran masa lalu untuk menyongsong  masa sepan Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber: &lt;i&gt;(Catatan &lt;/i&gt;&lt;strong&gt;Handoko F Zainsam) &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150142412845465&lt;/i&gt;)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-862394266532136422?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/862394266532136422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/862394266532136422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/bedah-buku-pajang-pergolakan-spiritual.html' title='BEDAH BUKU: PAJANG Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya karya Martin Moentadhim S.M.'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TUCBEVZooTI/AAAAAAAAAQ8/UlkiSL1-J2I/s72-c/pnjg.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-6650858379089692332</id><published>2011-01-22T04:00:00.000+07:00</published><updated>2011-01-22T04:00:53.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>LOMBA MENULIS FLASH FICTION TENTANG PENGAMEN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TTnzqNXHw0I/AAAAAAAAAQs/kJGNPhCNcF8/s1600/ii.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TTnzqNXHw0I/AAAAAAAAAQs/kJGNPhCNcF8/s1600/ii.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Para Pengamen atau musisi jalanan sering dipandang dengan sebelah mata. Padahal ada banyak alasan dan polemik tentang keberadaan mereka. Hadirnya novel 'Pengamen Cinta (plus bonus CD PARAMETEUR Band)' yang baru diterbitkan Leutika Prio ini adalah salah satu upaya untuk membuat mata kita lebih terbuka. Bahwa anak-anak jalanan dan para pengamen juga memiliki kelebihan, bakat-bakat terpendam dan cita-cita. Buktinya, sebut saja Iwan Fals atau Klantink. Mereka juga berasal dari jalanan bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Punya pengalaman atau kisah tentang pengamen? Atau mau coba berimajinasi menjadi pengamen jalanan? Mari tuangkan ke dalam tulisan Flash Fiction dengan tema kisah cinta para pengamen. Bukan hanya untuk mengasah kreatifitas, tapi dengan mengikuti lomba ini, kita juga bisa sekalian beramal, plus mendapat hadiah dan menjadi salah satu penulis antologi Flash Fiction yang akan diterbitkan Leutika Prio. Baca persyaratan dan ketentuannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;strong&gt;Syarat Peserta: &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Terdaftar sebagai anggota Grup PARAMETEUR Band, Halaman Ceko dan Halaman Leutika Publisher Fans. Yang belum gabung, silahkan join dulu. Caranya klik:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=104170061065" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.facebook.com/group.php?gid=104170061065&lt;/a&gt; (Grup PARAMETEUR Band)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Ceko/142793593941" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.facebook.com/pages/Ceko/142793593941&lt;/a&gt; (Halaman Ceko) &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Leutika-Publisher-Fans/129368823779295" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.facebook.com/pages/Leutika-Publisher-Fans/129368823779295&lt;/a&gt; (Leutika Publisher Fans)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;strong&gt; Ketentuan Tulisan: &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tema tulisan: kisah tentang&amp;nbsp; cinta, persahabatan atau keluarga Musisi Jalanan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Panjang tulisan  antara 300-500 kata&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memasang cover novel 'Pengamen Cinta' yang diterbitkan Leutika Prio pada materi lomba ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Posting /copy paste materi lomba, lalu tag minimal 25 orang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kirim tulisan (sebagai attachment/tidak menaruhnya di badan email) ke cekospy@yahoo.com&amp;nbsp;&amp;nbsp; (sertakan nama, lengkap alamat, no telpon yang bisa dihubungi, dan nomor rekening) dengan &lt;strong&gt;SUBJECT: LOMBA FF PENGAMEN CINTA&lt;/strong&gt; paling lambat tanggal&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; 31 Januari 2011 pukul 11:59.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masing-masing peserta boleh mengirim maksimal 2 Flash Fiction&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;strong&gt;Hadiah: &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Paket Buku dari Leutika Publisher (untuk 1 orang pemenang)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Uang tunai senilai Rp.150.000 (untuk 1 orang pemenang)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semua FF yang masuk, baik menang ataupun tidak, akan dipertimbangkan untuk dibukukan oleh Penerbit Leutika Prio dan royalti buku akan disumbangkan ke Yayasan sosial, panti-panti atau anak-anak jalanan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;strong&gt;Pengumuman Pemenang Tanggal 13 Februari 2011 &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;strong&gt;Juri:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Ceko (Penulis Novel &lt;i&gt;Pengamen Cinta&lt;/i&gt;) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Redaksi Leutika Prio&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=495385663345 &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-6650858379089692332?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6650858379089692332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6650858379089692332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/lomba-menulis-flash-fiction-tentang.html' title='LOMBA MENULIS FLASH FICTION TENTANG PENGAMEN'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TTnzqNXHw0I/AAAAAAAAAQs/kJGNPhCNcF8/s72-c/ii.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-1755592641109098764</id><published>2011-01-22T03:24:00.001+07:00</published><updated>2011-01-22T03:37:12.612+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>KEDAI BUKU ERA FACEBOOK</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TTnqPQU4McI/AAAAAAAAAQo/JOziacIfFec/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TTnqPQU4McI/AAAAAAAAAQo/JOziacIfFec/s200/images.jpeg" width="132" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;www.visikata.com&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Oleh: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Damhuri Muhammad&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: left;"&gt;(&lt;b&gt;versi panjang dari esai yang tersiar di majalah DEWI edisi&amp;nbsp; Desember 2010, dengan tajuk &lt;/b&gt;"&lt;b&gt;fiksi era maya&lt;/b&gt;")&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Di penghujung September 2010, komunitas sastra “Lerengmedini” menggelar bedah buku kumpulan cerpen &lt;i&gt;Tangan Untuk Utik&lt;/i&gt; (2009), karya Bamby Cahyadi. Tidak seperti diskusi buku pada lazimnya, komunitas yang bermarkas di Boja, Kendal (Jateng) itu menyelenggarakannya secara &lt;i&gt;teleconference-webcam&lt;/i&gt; dengan fasilitas &lt;i&gt;yahoo messenger&lt;/i&gt; (YM) dan &lt;i&gt;box chat&lt;/i&gt; &amp;nbsp;facebook, yang dilayar-lebarkan. Para penyuka sastra di Boja leluasa bertanya-jawab dengan Bamby Cahyadi yang berada di Jakarta. Begitu juga dengan para penanggap yang berdomisili di Swiss, Jerman, dan Hongkong. Modus baru apresiasi sastra di jaman internet&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; yang tak terbayangkan sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Bedah buku ala komunitas “Lerengmedini” &amp;nbsp;terbilang unik, hingga buku &lt;i&gt;TUU&lt;/i&gt; itu beroleh perhatian, setidaknya dari sisi kerja pengarangnya mengembangkan jaringan ke kantong-kantong pembaca sastra di daerah. Usia kepengarangan Bamby terbilang muda di ranah cerpen Indonesia, tapi ketelatenan &lt;i&gt;self-marketing-&lt;/i&gt;nya membuat ia cepat melesat, hingga karya-karyanya berhamburan di sejumlah media nasional. Cerpenis yang berprofesi sebagai &lt;i&gt;store manager&lt;/i&gt; restoran &lt;i&gt;fastfood&lt;/i&gt; itu serius memperjuangkan karyanya. Sejak &lt;i&gt;TUU&lt;/i&gt; terbit, sudah belasan kali ia menggelar diskusi, tak hanya di komunitas-komunitas sastra ibukota, tapi juga di Malang, Yogyakarta, dan Tasikmalaya. Semuanya ia upayakan sendiri, tanpa dukungan penerbit. Hasilnya menggembirakan. Bukan saja dari segi pencitraannya sebagai cerpenis, tapi juga dari sisi penjualan yang di atas rata-rata. Bamby tak segan menawarkan bukunya sendiri, dengan iming-iming tanda-tangan pengarang, tentunya. Setiap hari ia menyiarkan informasi seputar &lt;i&gt;TUU&lt;/i&gt; di dinding facebook-nya. Saking dekatnya ia dengan pembaca, fans Bamby tak keberatan mengganti foto profil mereka dengan sampul &lt;i&gt;TUU&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Mengamati &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt; ini, penerbit-penerbit yang &lt;i&gt;concern&lt;/i&gt; di buku-buku sastra akan berpikir dua kali untuk meloloskan naskah dari pengarang yang sudah punya nama. Mengingat prospek penjualan buku cerpen terbilang payah, nama besar bisa saja diabaikan. Sebab, pasca-turun cetak, mereka hanya duduk-diam, menunggu kiriman royalti. Paling banter mereka hanya muncul saat &lt;i&gt;launching,&lt;/i&gt; itupun kalau ada. Selepas itu, promosi bulat-bulat diserahkan kepada penerbit. Maka, memilih naskah karya cerpenis muda seperti Bamby akan lebih menjanjikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Di sepanjang tahun 2010, ada sejumlah buku sastra jenis prosa yang terpajang di rak-rak toko buku, dengan tema dan gagasan yang beragam, meski apresiasi dari pembaca belum bisa dikatakan memadai. Sebutlah misalnya,&amp;nbsp; &lt;i&gt;Klop&lt;/i&gt; (kumcer), karya Putu Wijaya, &lt;i&gt;Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia&lt;/i&gt; (kumcer) karya Agus Noor, &lt;i&gt;Rahasia Selma&lt;/i&gt; (kumcer) karya Linda Christanty, &lt;i&gt;Balada Ching-Ching&lt;/i&gt; (kumcer) karya Maggie Tiojakiu, &lt;i&gt;Mantra Maira,&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (kumcer), karya Sofie Dewayani, &lt;i&gt;Ciuman di Bawah Hujan&lt;/i&gt; (novel) karya Lan Fang, &lt;i&gt;Arumdalu&lt;/i&gt; (novel) karya Junaedi Setiyono, &lt;i&gt;Manjali dan Cakrabirawa&lt;/i&gt; (novel karya) Ayu Utami, dan&amp;nbsp; &lt;i&gt;Dwilogi Padang Bulan&lt;/i&gt; (novel) karya Andrea Hirata.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia&lt;/i&gt; termasuk buku yang banyak dibincang media dan forum-forum diskusi. Selain cerpenis prolifik, seniman multi-talenta ini juga rajin melakukan &lt;i&gt;self-marketing&lt;/i&gt; seperti Bamby. Ia punya &lt;i&gt;weblog&lt;/i&gt; yang selalu menginformasikan kabar terkini perihal karya-karyanya. Belakangan, Agus Noor juga menggagas genre fiksi-mini di twitter, dan beroleh sambutan hangat. Selain cerpen, ia menulis skenario program TV, naskah teater, dan kerap menyutradarai &lt;i&gt;performing art.&lt;/i&gt; Daya tarik &lt;i&gt;SBPID &lt;/i&gt;terasa pada eksperimentasi berkisah yang seolah tiada habis-habis, dan mungkin tidak ditemukan pada buku cerpen lain. &lt;i&gt;SBPID &lt;/i&gt;masuk dalam daftar 5 Besar Khatulistiwa Literary Award 2010, penghargaan sastra yang disebut-sebut paling gemuk hadiahnya (100 juta). Buku itu bersaing dengan &lt;i&gt;Rahasia Selma&lt;/i&gt; (2010), karya Linda Christanty, &lt;i&gt;Kekasih Marionette&lt;/i&gt; (2009) karya Dewi Ria Utari, &lt;i&gt;9 dari Nadira&lt;/i&gt; (2009) karya Leila. S Chudori, dan&amp;nbsp; &lt;i&gt;Klop&lt;/i&gt; (2010) karya Putu Wijaya. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini nominee kategori prosa didominasi kumpulan cerpen. Data hasil penjurian yang dilakukan oleh orang-orang yang &lt;i&gt;expert&lt;/i&gt; di bidang sastra itu, setidaknya dapat memperkuat posisi tawar buku kumpulan cerpen yang kerap dipandang sebelah mata, lantaran susah dijual.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Mantra Maira &lt;/i&gt;(Sofie Dewayani) dapat dikatakan sebagai buku sastra yang menawarkan warna baru. &lt;i&gt;Mantra Maira&lt;/i&gt; terbuhul dengan tema masyarakat urban (asal Indonesia) di AS. Sofie Dewayani yang saat ini tinggal di Urbana, AS, membincang problem identitas keindonesiaan dari perspektif perantau Indonesia di negeri Paman Sam. Tokoh-tokoh rekaannya sedemikian rapuh, goyah, dan tak sanggup bertahan sebagai orang Indonesia di Amerika, lalu bermunculan sejumlah siasat untuk menyembunyikan identitas tanah asal. Garapan semacam ini mengingatkan kita pada karya-karya Hanif Khureisi─novelis Inggris asal Pakistan─seperti&amp;nbsp; &lt;i&gt;Buddha of&amp;nbsp; Suburbia&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;Midnight All Day.&lt;/i&gt; Namun, &lt;i&gt;Mantra Maira&lt;/i&gt; dingin-dingin saja, entah karena temanya terlalu berat, penulisnya sibuk menyelesaikan disertasi doktornya, atau penerbitnya yang setengah hati merancang strategi promosi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Selain itu muncul pula corak lain dari cerpenis muda Benny Arnas lewat bukunya &lt;i&gt;Bulan Celurit Api&lt;/i&gt; (2010). Tampil dengan warna lokal yang kental, dari sayap etnis Melayu Lubuklinggau, Sumsel. Mendekonstruksi kemapanan adat, mencairkan kebekuan nilai yang &lt;i&gt;taken for granted,&lt;/i&gt; dan memaklumatkan bahwa kearifan lokal yang diagung-agungkan itu bukan “benda”, melainkan “peristiwa”, yang terus berubah, dan karena itu selalu&amp;nbsp; ditunda tafsir tunggalnya. Benny juga memperlihatkan militansi kepengarangan sebagaimana Bamby. Awal Oktober 2010 bukunya turun-cetak, tapi sejak September 2010 ia sudah melakukan &lt;i&gt;direct selling&lt;/i&gt; via facebook. Hasilnya &amp;nbsp;spektakuler untuk ukuran buku sastra, 100 exp &lt;i&gt;BCA&lt;/i&gt;&amp;nbsp; telah terjual, tiga minggu sebelum buku terbit. Pemesanan langsung berdatangan dari Jakarta, Aceh, Makassar, Kalimatan, Yogyakarta, Padang, Medan.&amp;nbsp; Kabar terkini yang saya terima, &lt;i&gt;Bulan Celurit&amp;nbsp; Api,&lt;/i&gt; bakal cetak-ulang, padahal &lt;i&gt;launching&lt;/i&gt;-nya baru akan digelar akhir November mendatang. Ini pun kabar baik bagi sastra Indonesia, khususnya genre cerpen. Mungkin itu sebabnya, sejumlah penerbit yang sebelumnya &lt;i&gt;concern&lt;/i&gt; di buku jenis fiksi-islami, kini melirik cerpen sastra. FLP Publishing misalnya, tahun ini menerbitkan &lt;i&gt;Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu&lt;/i&gt; (Ragdi F Daye) setelah &lt;i&gt;Cari Aku di &amp;nbsp;Canti&lt;/i&gt; (2008) karya Wa Ode Wulan Ratna, dan &lt;i&gt;Pengantin Subuh&lt;/i&gt; (2009), karya Zelfemi Wimra.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Buku sastra jenis novel agak melemah, baik dari segi produktifitas, aspek kebaruan tema, pencapaian literer, maupun grafik penjualan. &lt;i&gt;Ciuman di Bawah Hujan&lt;/i&gt; (Lan Fang) misalnya, meski sebelumnya telah tersiar sebagai Cerbung di sebuah harian nasional, belum terdengar gaungnya. Begitu pula dengan &lt;i&gt;Arumdalu&lt;/i&gt; &amp;nbsp;(Junaedi Setiyono), novel berlatar sejarah laskar Dipanegaran yang bagian pertamanya (&lt;i&gt;Glonggong&lt;/i&gt;) menjadi salah satu pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta, belum berhasil menangguk perhatian pembaca.&amp;nbsp; Kalaupun ada yang tampak menonjol, itu tidak jauh dari novel jenis “&lt;i&gt;how to&lt;/i&gt;”, yang lebih mengedepankan aspek didaktik ketimbang pencapaian estetik. &lt;i&gt;Negeri 5 Menara&lt;/i&gt; karya A. Fuadi misalnya, meskipun diluncurkan pada 2009, popularitasnya terus menanjak hingga kini. Penjualannya tentu tak disangsikan, tapi secara estetik, novel ini sukar untuk menjadi bagian dari proses kreatif sastra, yang tegak di atas fondasi estetika. &lt;i&gt;N5M&lt;/i&gt;&amp;nbsp; seolah muncul sebagai &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt; dengan wajah baru. Lebih mengejar kekuatan motivasi ketimbang kedalaman gagasan estetik. Motto “man jadda wajada”─terminologi khas pondok modern Gontor, latar tempatan novel itu─yang digembar-gemborkan pengarangnya, membuat ia tampak sebagai motivator ketimbang sastrawan. Lantaran sambutan yang begitu semarak terhadap serial “&lt;i&gt;how to&lt;/i&gt;” berkedok karya sastra itu, tengoklah novel-novel bersemangat serupa yang menyesak di toko buku. Para pengekor menangguk laba, sementara unsur-unsur artistik sastra terdistorsi. Buku laku memang tidak berbanding lurus dengan buku bermutu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Lain halnya dengan dwilogi &lt;i&gt;Padang Bulan&lt;/i&gt;, novel terkini Andrea Hirata. Meski masih bergelimang mimpi, harapan, dan obsesi masa depan, novel itu menawarkan kesadaran literer yang berkedalaman. Dengan teknik pengisahan yang dibumbui satirisme khas Melayu, Andrea berupaya memancangkan jejak pikiran, ketimbang sekadar jejak tindakan. &amp;nbsp;Enong, Ikal, dan Detektif M. Nur adalah karakter orang-orang yang terjangkit gejala keterpelantingan eksistensial, mengingatkan kita pada Eliza, Rose, dan Tao Chien, tokoh-tokoh marjinal dalam &lt;i&gt;The Daughter of Fortune&lt;/i&gt; (1999) karya Isabel Allende. Lantaran sukses &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt; yang penjualannya nyaris mencapai 1 juta eks, menawarkan corak baru dalam proses kreatif tentulah peluang yang terbuka. Andrea tidak akan sesibuk Bamby dan Benny, dalam merebut perhatian pembaca. Tapi, bukankah setiap pengarang patut memperjuangkan setiap karyanya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: left;"&gt;Sumber: Catatan Damhuri Muhammad di facebook&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;(http://www.facebook.com/note.php?note_id=487696341462)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-1755592641109098764?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/1755592641109098764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/1755592641109098764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/kedai-buku-era-facebook.html' title='KEDAI BUKU ERA FACEBOOK'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TTnqPQU4McI/AAAAAAAAAQo/JOziacIfFec/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-4702177271112057183</id><published>2011-01-08T04:09:00.000+07:00</published><updated>2011-01-08T04:09:32.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSeAsen54EI/AAAAAAAAAQI/KHwQ0_YTkrg/s1600/8119_1243502321896_1059487005_768647_6205960_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSeAsen54EI/AAAAAAAAAQI/KHwQ0_YTkrg/s320/8119_1243502321896_1059487005_768647_6205960_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Maman S Mahayana&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;, Khazanah, 28 November 2010&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Maman S Mahayana*&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Kesalahpahaman atas kritik sastra Indonesia telah membentuk sejarahnya sendiri. Bagaimanapun, latar belakang pendidikan dan tingkat apresiasi setiap pembaca, tidaklah seragam. Maka, simpang-siur pemikiran tentang kritik sastra Indonesia menggelinding, membentangkan perjalanannya yang panjang. Tanggapan atas buku &lt;em&gt;Darah Daging Sastra Indonesia&lt;/em&gt; (2010), Damhuri Muhammad, adalah satu contoh. Semangat untuk menghasilkan kritik sastra khas Indonesia tahun 1980-an, juga kesalahpahaman lain lagi. Contoh lain tentu masih dapat kita deretkan. Sejak istilah kritik sastra dilontarkan Sutan Takdir Alisjahbana (&lt;em&gt;Pandji Poestaka&lt;/em&gt;, edisi 5, Th. X, Juli 1932), kesalahpahaman itu kerap terjadi hingga menjelma salah kaprah yang lalu diperlakukan seolah-olah sebagai kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Esai “Seolah-olah Kritik Sastra” (&lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, 3 Oktober 2010), substansinya adalah coba menekankan pentingnya keadilan dalam memperlakukan karya. Diingatkan pula perlunya berhati-hati dalam melontarkan istilah dan cermat memanfaatkan sumber, agar tidak terjadi sesat nalar dan salah data. Tetapi apa yang terjadi? Muncul beberapa pandangan yang malah makin menjauhkan panggang dari api. Jadi, kesimpangsiuran gagasan itu menegaskan lagi terjadinya kesalahkaprahan dalam memaknai—memahami—substansi kritik sastra.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Sejak awalnya dan dalam perkembangannya sampai kini, semangat hakiki kritik sastra adalah keadilan yang dapat diterjemahkan lebih luas sebagai proporsional, holistik, menyeluruh, dan objektif. Kritikus hendaklah berperilaku arif ketika menanggapi karya apa pun. Maka, ketika satu istilah diperlakukan untuk merontokkan keseluruhan, jelas hal itu dapat mencederai rasa keadilan. Problem itu pula yang dalam Metode Ganzheit hendak ditekankan, yaitu menempatkan setiap elemen sebagai penyatuan totalitas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Pembaca memang punya kebebasan untuk menanggapi dengan cara apa pun. Tetapi, hak mutlak pembaca itu, patut dibarengi kesadaran untuk bersikap arif dan cerdas yang justru mesti menjadi semangat dasar kritik(us) sastra. Sikap serampangan dalam menulis kritik sastra, tak hanya menunjukkan kerdilnya kecerdasan, tetapi juga cermin kebelummatangan wawasan dan kebeliaan memasuki wilayah yang sesungguhnya baru diketahui kulitnya belaka. Sebagai mualaf tentu saja belajar berhati-hati jauh lebih terpuji. Dalam konteks itulah, pemahaman kesejarahan adalah hal yang mustahak dan penting. Jika ada yang mengingatkan kesalahan elementer itu, sepatutnya pula ditangggapi bukan dengan cara mengulangi kembali ketersesatannya, melainkan dengan memperlakukan catatan masa lalu secara kritis untuk mampu memilah, mana sumber terpercaya, mana fakta yang masih patut dipertanyakan, seperti kisah pertentangan H.B. Jassin dan Chairil Anwar itu. Jadi, eloklah menambah satu atau dua buku pengantar ilmu sejarah. Sebab, tugas kritikus bukan sekadar sebagai Sherlock Holmes yang mesti tetap waspada dan kritis, tetapi juga akurat dalam memilih data agar tak terkecoh oleh fakta yang fiktif atau oleh fiksi yang dimitoskan jadi fakta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Ada tiga faktor utama yang menggelindingkan ketersesatan pemahaman atas kritik sastra Indonesia selama ini: (1) lalai membaca sejarah, (2) salah kaprah memahami hakikat dan tujuan kritik sastra, (3) keliru memahami kategori kritik sastra.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Bermula Maret 1932 saat majalah&lt;em&gt; Pandji Poestaka&lt;/em&gt; membuka rubrik “Memadjoekan Kesoesasteraan.” Dari sana, kritik sastra teoretis berupa konsep-konsep puisi dengan model estetikanya, melengkapi praktik kritik sastra yang berupa pembahasan sejumlah puisi. Model kritik sastra itu lalu merebak semarak ketika STA hengkang dari majalah itu dan mengelola &lt;em&gt;Poedjangga Baroe&lt;/em&gt;. Bahkan, estetika pantun pun muncul di sana sebagai penolakan atas pandangan peneliti Barat yang memperlakukannya dengan estetika puisi Eropa. Esai-esai kritik sastra yang semarak di berbagai media massa tahun 1950-an (baca: &lt;em&gt;Akar Melayu: Ideologi dalam Sastra&lt;/em&gt;, 2001; 2010), menunjukkan panorama adanya benang merah pada model esai kritik sastra STA. Tahun 1970-an, meski ada sejumlah suratkabar dan majalah masih memainkan peranan penting, wibawanya di dunia akademik, mulai direbut kritik aliran Rawamangun.Tetapi apa yang terjadi selepas pengaruh Aliran Rawamangun mulai pudar?&amp;nbsp;Seolah-olah terjadi krisis kritik sastra. Padahal, Aliran Rawamangun membangun paradigmanya di lingkungan akademi. Lalu muncul kerinduan pada H.B. Jassin dengan model esai—kritiknya. Jassin sendiri sebenarnya bagian dari kelompok Rawamangun itu. Jelas, ada dua jalur perkembangan: (1) kritik akademis dengan segala kurikulumnya sebagai produk institusi sastra, dan (2) kritik umum yang ditanamkan STA dan dikembangkan Jassin yang medianya majalah dan suratkabar. Begitulah catatan sejarah tentang jalur perkembangan kritik sastra kita. Maka, tak perlulah repot-repot menderetkan berbagai kutipan tentang esai. Bukankah judul buku Jassin yang empat jilid itu tegas menyebut: kritik dan esai.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Keinginan menjadi kritikus (sastra) adalah hak segenap manusia. Pendidikan formal lewat institusi hanya sebuah cara. Cara lain dengan latar belakang keilmuan atau wawasan yang juga lain, tentu saja sangat diizinkan—dianjurkan. Semakin ramai orang memasuki bidang ini, semakin bagus pula pengaruhnya bagi perkembangan sastra. Bagaimanapun, institusi sastra tidaklah dimaksudkan semata-mata sebagai lembaga pencetak kritikus (sastra). Bukankah H.B. Jassin sendiri masuk fakultas sastra, justru setelah ia dikenal luas sebagai kritikus dan karyanya bertebaran. Begitu juga doktor (Honoris Causa) yang disandangnya, bukan lantaran capaian akademik, melainkan prestasinya sebagai penggiat sastra. Labelnya sebagai kritikus, bahkan “Paus Sastra” bukan pula klaim dirinya, melainkan penghargaan masyarakat atas kematangan dan kearifannya dalam memperlakukan dunia sastra.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Jadi, menulis kritik sastra dapat dilakukan siapa pun. Latar belakang pendidikan adalah alat bantu. Skripsi—disertasi atau esai—resensi hakikatnya sama, yaitu apresiasi atas karya, meski ekornya jatuh pada kebertanggungjawaban ilmiah (kritik akademis) dan kemengaliran (kritik umum).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Sejak Plato dan Aristoteles menganalogikan posisi kritikus sebagai hakim yang mesti adil melakukan timbangan (: evaluasi), konsep evaluasi itu terus menggelinding, berkembang biak melahirkan konsep dan istilah baru dengan segala cabang rantingnya. Meski begitu, hakikat dan tujuan kritik sastra tidak bergeser dari semangat awal: melakukan timbangan yang bijaksana dan sekaligus mengungkap kekayaan teks (sastra). Maka, munculnya berbagai pendekatan, semangatnya tidak lain mengungkap kekayaan teks. Itulah hakikat dan tujuan kritik sastra sebagai bentuk apresiasi pada teks. Jadi, resensi, endorsement, atau apa pun namanya, yang dikedepankan adalah semangat apresiatif, dan bukan telaah kritis model skripsi. Itulah yang juga dilakukan Jassin dalam sejumlah kritik—esainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Kritik sastra yang memperkarakan konsep, metode, aliran, pendekatan atau segala yang berkaitan dengan teori, membentangkan paradigmanya sendiri. Itulah yang disebut kritik sastra teoretis (&lt;em&gt;theoretical criticism&lt;/em&gt;). Manakala segala konsep itu coba diaplikasikan pada karya sastra, disebutlah kritik sastra konkret, kritik praktik (&lt;em&gt;practical criticism&lt;/em&gt;)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;atau kritik terapan (&lt;em&gt;applied criticism&lt;/em&gt;). Pandangan-pandangan Roman Jakobson, Cleanth Brooks, Roland Barthes, atau STA, Jassin (Aliran Rawamangun), Goenawan Mohamad—Arief Budiman (Metode Ganzheit), atau Ariel Heryanto (Sastra Kontekstual) adalah kategori kritik sastra teoretis. Tentu saja perbincangannya berbeda dengan kritik sastra konkret, meski tak terhindarkan: kerap bersinggungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Nah, yang terjadi dalam polemik ini –dan sebelum itu sudah berulang kali terjadi—adalah pencampuradukan pengertian antara kritik sastra teoretis dan model kritik praktik. Itulah yang saya maksud dengan sesat nalar. Oleh sebab itu, meski masih mualaf, penting artinya memahami dulu kategori kritik sastra. Maka, klaim diri sebagai pujangga dengan bergincu di balik rangkaian istilah yang terkesan canggih, hakikatnya tak beda dengan menggarami laut.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;*Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI. Kini bertugas sebagai Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;*http://www.facebook.com/note.php?note_id=460201237211 &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-4702177271112057183?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4702177271112057183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4702177271112057183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/menggarami-laut-kritik-sastra.html' title='MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSeAsen54EI/AAAAAAAAAQI/KHwQ0_YTkrg/s72-c/8119_1243502321896_1059487005_768647_6205960_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-4104238471050718714</id><published>2011-01-08T03:48:00.000+07:00</published><updated>2011-01-08T03:48:03.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>SAJAK-SAJAK ZAMAN DINASTI T’ANG</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSd7P4LA-TI/AAAAAAAAAQE/9t9qyhSpOMs/s1600/162738_1796476595854_1357907122_2007722_3935019_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSd7P4LA-TI/AAAAAAAAAQE/9t9qyhSpOMs/s320/162738_1796476595854_1357907122_2007722_3935019_n.jpg" width="251" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="color: red; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tu Fu atau Du Fu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;Wilson Tjandinagara dan Abdul Hadi W. M.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Han Hong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; MEMBALAS SAJAK CHENG JIN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pohon bambu tinggi berayun-ayun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dialah yang paling duluan menyambut angin barat,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekujur kota lama yang senyap&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ditaburi sinar bulan pucat,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; seekor angsa liar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; seolah terbang menuju gugusan bimasakti&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; malam ini, suara-suara orang mencuci kain&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; terdengar di antara ribuan penghuni kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kuingat waktunya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kala itu malam sudah larut&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; namun karena merenungi sajakmu dalam hati&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; aku tak bisa tidur untuk beristirahat&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ah,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; baru saja kubaca&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bait-bait sajakmu yang indah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sedangkan hari sudah terang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; burung gagak memekik parau di luar jendela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liu Shen Xu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TANPA JUDUL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jalan pegunungan tinggi mendaki&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; berakhir di pucuk awan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O pemandangan musim semi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; panjangnya laik anak sungai bening&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kerap saja&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada guguran bunga jatuh melayang-layang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian bersama air sungai mengalir&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membawa bau semerbak ke tampat jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pintu tak terkunci itu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menghadap jalan setapak pegunungan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pohon yangliu yang naung rimbun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; masing-masing menghiasi ruang baca di pondok&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; walaupun langit siang hari panas benderang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; di sini semua begitu tenteram&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cahaya indah dan kesunyian&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menerobos naungan pohon, menyinari bajuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai Shu Lun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; DI SEBUAH&amp;nbsp; LOSMEN DENGAN KAWAN LAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Datang musim gugur&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan bersinar, bulat penuh&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O, pemandangan malam di ibukota&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membangkitkan gejolak jiwa&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tak terduga aku masih dapat&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengadakan majlis paguyuban orang-orang dari selatan Yangse&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pun sukar dipercaya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; apakah pertemuan ini hanya dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ranting pohon berayun ditiup angin&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengejutkan burung murai dalam kegelapan,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rerumputan musim gugur sarat tetesan embun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melindungi serangga musim gugur yang nyaring bernyanyi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; perasaan pengembara&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; selalu menjunjung tinggi minum tuak hingga mabuk,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ingin sekali aku menahan kalian minum sepuas-puasnya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; namun seketika cemas mendengar suara lonceng tua&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengabarkan fajar telah menyingsing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Sikong Shu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERPISAHAN DENGAN HAN SHEN DI POS YUN YANG GUAN&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; SETELAH MENGINAP SEMALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejak berpisah denganmu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; di Jianghai&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; beberapa tahun terakhir ini&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kita dipisah gunung dan sungai,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kini tiba-tiba bertemu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; malah curiga ini hanya mimpi,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; semua merasa pilu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; setelah masing-masing menanyakan usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lampu satu-satunya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menyinari hujan di tengah kesunyian di luar jendela,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hutan rumpun bambu membisu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; diam-diam mengambangkan gugusan awan,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang amat disesalkan ialah –&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; esok kita akan berpisah, engkau utara aku selatan,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gelas diangkat demi perpisahan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kita muliakan panjangnya usia persahabatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikong Shu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; GEMBIRA SEPUPU LU LUN &amp;nbsp;DATANG MENGINAP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Malam begitu lengang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tak seorang pun tetangga di sekitar rumah ini&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kupilih tinggal di belantara liar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; semata karena miskin,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam terpaan angin dan kucuran hujan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; daun-daun menguning di pepohonan,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; satu-satunya lampu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menerangi aku si tua bangka beruban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O, tentang aku&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; aku hanya sendiri, begitu lama terperosok&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kau yang sering mengunjungiku&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membuat aku malu, pun terharu atas kepedulianmu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bemang jika dua penyair saling bersahabat&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; boleh dikata sudah dinasibkan untuk bertemu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; apalagi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kita masih saudara sepupu –&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bagai dua keluarga: Cai dan Yang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikong Shu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; MENGANTAR ORANG KEMBALI KE UTARA SETELAH&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PEMBERONTAKAN DITUMPAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahun-tahun yang morat-marit&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kita ke selatan bersama&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kini negeri tenang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; namun kau malah kembali ke utara sendirian&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengungsi ke kampung orang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; uban telah lama tumbuh di kepala,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ketika tiba di kampung halaman&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menjumpai yang tak berubah hanya deretan gunung hijau itu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pagi hari, bersama bulan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melewati reruntuhan bangunan dan kubu tua,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bintang bertaburan di langit,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kau menumpang tidur di Guguan yang tandus.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; unggas di musim dingin&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan rumput liar layu,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; semua tempat yang dilalui&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menemani rona wajahnya yang selalu murung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bai Juyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; RUMPUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Betapa rimbun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kau rumput liar&amp;nbsp; di tanah purba ini,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; setiap satu tahun berlalu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bergiliran antara layu dan subur menghijau&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; api yang membara di padang belantara&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tak mungkin membakarmu sampai habis&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kala angin musim semi bertiup&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kau berjuang keras untuk tumbuh kembali&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ya rumput wangi jauh di penghujung bumi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kau terus tumbuh&amp;nbsp; memenuhi lorong tua depan mata&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hijau tak bertepi di bawah sinar matahari,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mendekatkan benteng tua yang terhantar sunyi di sana&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rapuh dan hampir runtuh.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; demi aku kau mau bertungkus lumus&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengantar seorang kawan pergi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rumput musim semi begitu rimbun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; seakan diharu biru kepiluan perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Du Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; MENGINAP DALAM PERJALANAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di rumah penginapan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tak seorang kawan karib,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tafakur memusatkan pikiran&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; adalah derita diliputi kesunyian tanpa tepi,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sendiri menatap lampu dingin&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lantas ingat perkara lama beberapa waktu yang lalu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; jerit angsa liar yang terpisah dari kawannya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; membangunkan aku yang dalam tidur pun masih waswas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam tidur mimpi berjalan sampai kampung halaman&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ketika kembali fajar sudah tiba&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sepucuk surat dari rumah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sudah diterima lebih setahun lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; baiknya pulang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menatap sinar bulan, betapa indah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; terbungkus kabut di sungai Changjiang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sedangkan perahu kecil pengail ikan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ditambatkan tepat di depan rumahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xu Hun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; AWAL MUSIM GUGUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di musim gugur yang&amp;nbsp; panjang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengalun lembut suara Jinse, merdu di telinga&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O, angin barat tak henti-hentinya bertiup&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mempermainkan daun-daun songlo hijau tua&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sisa kunang-kunang hinggap ==&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; di atas&amp;nbsp; titik embun rumputan,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kawanan angsa liar terbang subuh&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melintasi gugusan bimasakti tiada tepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pohon-pohon menjulang tinggi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ketika memandangnya di pagi hari, ranting dan daunnya&lt;br /&gt;masih rimbun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; punggung-punggung gunung di kejauhan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; di bawah langit terang, kelihatan lebih banyak&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; di Huainan ini&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; selembar daun layu, rontok diam-diam&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; aku pun teringat –&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gelombang air pasang danau Dongtong Hu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Shangyin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TONGGERET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sesungguhnya bertengger di pucuk pohon tinggi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sukar bisa kenyang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengerik pun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sia-sia menyampaikan keluh ketidakadilan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hingga menjelang fajar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; suaranya pun kian lemah dan jarang, seolah tersekat,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; paadahal pohon tua hijau itu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; masih tetap tak terharu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; jabatan kecil&amp;nbsp; lagi sepele&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; seakan tangkai buah persik meluncur di air,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tanah air dan kampung halaman serba terlantar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ditumbuhi pula semak-semak berduri.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bikin repot&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; berulang kali kuingatkan kau&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; aku pun akan seperti kau&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekuat tenaga menjunjung tinggi keluhuran tak tercemar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; rela miskin dan sayu wajah anggota keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Shangyin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; BUNGA GUGUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Para tamu paviliun di atas&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah pulang semua&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kini&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; di taman kecil&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; beterbangan bunga-bunga, tak tentu arah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kelopak&amp;nbsp; bertaburan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; di jalan berliku&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari jauh&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pandang mata melepas sisa cahaya matahari senja,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena kasihan bunga gugur&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tak tega menyapunya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tak mudah pula mengharap musim semi&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tak mengira pula akan kembali&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; O,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hatiku ini&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah sepenuhnya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersama bunga gugur&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang didapat&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hanya –&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; airmata membasahi baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;Terjemahan Wilson Tjandinagara dan Abdul Hadi W. M.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=496628648872 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-4104238471050718714?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4104238471050718714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4104238471050718714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/sajak-sajak-zaman-dinasti-tang.html' title='SAJAK-SAJAK ZAMAN DINASTI T’ANG'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSd7P4LA-TI/AAAAAAAAAQE/9t9qyhSpOMs/s72-c/162738_1796476595854_1357907122_2007722_3935019_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-8400712814644266777</id><published>2011-01-08T03:32:00.000+07:00</published><updated>2011-01-08T03:32:21.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>AMPLOP MERAH MUDA UNTUK PAK POS (Ulasan)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSd34AcwcwI/AAAAAAAAAQA/qSEc3xZ99XY/s1600/164131_1639955352029_1031151715_31675593_4906513_a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSd34AcwcwI/AAAAAAAAAQA/qSEc3xZ99XY/s1600/164131_1639955352029_1031151715_31675593_4906513_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;Oleh : iLenk Rembulan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Coba, sekarang siapa lagi yang mau pakai jasa pak pos? Untuk mengucapkan selamat lebaran saja, boro-boro pakai kartu yang bisa disimpan selamanya, paling cuma lewat sms. Kalau sekarang yang diantar lewat pos cuma surat tagihan listrik, PAM atau kartu kredit, brosur-brosur, wah, mana ada lagi yang menyambut pak pos dengan suka cita? (&lt;em&gt;hal. 10 –cerpen : Amplop merah muda untuk pak pos-)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cerita tentang surat cinta yang dikirim melalui Pak Pos, merupakan tema yang diangkat dalam cerita pendek dalam kumpulan cerpen dengan judul&amp;nbsp; Amplop Merah Muda untuk Pak Pos. Penulis ingin menggugah kembali masa ketika belum ada email apalagi sms yang sudah merebut pola pengiriman surat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada sekitar 6 cerpen yang terdapat dalam kumpulan buku ini. Tema tentang Cinta namun diceritakan dengan &amp;nbsp;beragam cara, dan terkadang dengan judul yang membuat pikiran pembaca mengerutkan alis, seperti pada cerpen Bolehkah aku tidur di ranjangmu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Judul cerpen yang menggoda&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pengarang berhasil membuat judul cerpen menggoda dan menggelitik. Tafsiran semula dengan membaca judul dan setelah dibaca isinya , ternyata berlawanan. &amp;nbsp;Judul dan isi ternyata sama menariknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam cerpen &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Amplop Merah Muda untuk Pak Pos&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; misalnya. Semula, imajinasi saya adalah sebuah amplop, berisi surat cinta yang benar-benar untuk pak pos. Namun, setelah membacanya, ternyata sebuah amplop, yang berisi surat cinta yang telah dikirim lama, oleh seorang kekasih pada jaman Belanda masih bercokol di bumi Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Surat tersebut, dikirim dari sebuah kapal Belanda, oleh seorang noni belanda untuk kekasihnya yang orang Indonesia. Yang menjadi misteri adalah, surat tersebut tertanggal tahun 1941, pada saat ketika Jepang datang, dimana terjadi eksodus besar-besaran orang Belanda, untuk keluar menyelamatkan diri dari kekejaman Tentara Jepan,g yang mulai masuk di bumi Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Surat terkirim beberapa kali pada jaman sekarang, ditujukan kepada alamat sebuah rumah yang ternyata telah lama kosong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cerita ini juga menggambarkan, bagaimana rasa tanggung jawab seorang tukang pos, terhadap surat yang harus tetap di antar, walau ternyata kemudian rumah itu tak ada penghuninya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Semula, pak pos yang diperankan oleh seorang pemuda, yang mempunyai orang tua, dahulunya sebagai tukang pos. Dia, sarjana hukum, sambil menanti panggilan pekerjaan, maka disarankan oleh bapaknya, untuk menjadi tukang pos. Dirasakan pekerjaan yang kelihatannya tidak mentereng di jaman sekarang dengan arus teknologi yang semakin canggih. Dan ternyata dalam menjalani pekerjaan tersebut, dia menemukan suatu kejadian yang menarik, sekaligus misteri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah beberapa kali, amplop tersebut tak ada yang membuka, maka dia memberanikan diri, menjebol bis surat pada alamat yang dituju, dan membuka lembaran amplop merah muda tersebut, dan ternyata isinya surat untuk kekasih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lain lagi , dengan cerpen &amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bolehkah , aku tidur di ranjangmu?&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Membaca judulnya saja, pikiran pembaca sudah berlari pada hal yang negative. Setelah menikmatinya, cerpen yang diramu dengan gaya jenaka ini, ternyata menceritakan, dua sahabat cewek dan cowok yang akhirnya sang cowok jatuh cinta dan melamar ceweknya. Namun, sang cewek menawarkan suatu perjanjian, bahwa dia tidak mau tidur seranjang setelah menikah. Setelah perkawinan terjadi,&amp;nbsp; &amp;nbsp;ternyata ada “sesuatu”, yang kemudian tumbuh ,secara perlahan-lahan adanya saling membutuhkan , terutama bila malam tiba. Dari pembicaraan biasa, karena awalnya mereka bersahabat , sampai pada suatu kebutuhan akan teman, &amp;nbsp;yang bukan dalam hal ini hanya sex saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cerita mengalir begitu saja, tanpa ada bumbu sex yang vulgar, seperti judulnya yang menggoda, namun memberikan semacam pelajaran, bahwa cinta datang secara perlahan , tapi pasti . Terutama, bila kita sudah sering kali bertemu, berkumpul. &lt;em&gt;Tresno jalaran soko ngglibet&lt;/em&gt; – cinta datang karena sering bertemu-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;Kita bersedih kalau ada kesusahan. Sementara kematian itu bukanlah suatu kesusahan (hal. 73)&lt;/em&gt; dalam cerpen berjudul MATI. Cerita tentang kematian, &amp;nbsp;yang cukup singkat diceritakan oleh pengarangnya. Sang tokoh ditinggal Ibunya meninggal, &amp;nbsp;dan kemudian disadarkan oleh anaknya , tentang hakekat mati itu apa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pungkasan, cerpen yang cukup panjang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Cintaku pada Januari&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, dengan mengambil &lt;em&gt;background&lt;/em&gt; musik, adanya lirik lagu misalnya &amp;nbsp;&lt;em&gt;Feeling Good – Nina Simone, &lt;/em&gt;ikut menghias alur cerita dalam cerpen ini. Kisah cinta antara pianis dan manager artis, diramu beserta konflik yang dibangun adalah tema umum.Tetapi, yang menarik, latar belakang sang tokoh, pembaca disuguhkan, bagaimana bekerja sebagai pemusik dan manager artis tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Cinta, ringan dan renyah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan tema cinta , pengarang sepertinya ,tidak mau membebani pembaca, dengan terlalu berat, namun sebagai bacaan , untuk menghibur dalam suasana santai, misalnya menunggu pacar datang di terminal bis atau bandara Udara, bolehlah kita menikmati bacaan ini dan cukup membantu rasa sepi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada sedikit koreksi dari beberapa salah cetak, mungkin editor dalam hal ini bisa lebih jeli lagi, untuk mengedit adanya salah ketik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bogor, 5 Januari 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Judul buku&amp;nbsp; : Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Kanti W Janis&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Optimist, 2010&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-602-97878-0-1&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150137252070185&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-8400712814644266777?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/8400712814644266777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/8400712814644266777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/amplop-merah-muda-untuk-pak-pos-ulasan.html' title='AMPLOP MERAH MUDA UNTUK PAK POS (Ulasan)'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSd34AcwcwI/AAAAAAAAAQA/qSEc3xZ99XY/s72-c/164131_1639955352029_1031151715_31675593_4906513_a.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-3017604944383884443</id><published>2011-01-08T03:05:00.002+07:00</published><updated>2011-01-08T03:18:25.223+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>"MERAPI GUGAT"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSdxdSQsYZI/AAAAAAAAAP8/f0SS_9REJ00/s1600/166356_1251956035572_1729671749_445538_8193806_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSdxdSQsYZI/AAAAAAAAAP8/f0SS_9REJ00/s400/166356_1251956035572_1729671749_445538_8193806_n.jpg" width="193" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;KOMENTAR PENGAMAT DAN KRITIKUS SASTRA TENTANG BUKU INI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Professor Harry Aveling, PhD DCA, &lt;span style="color: black;"&gt;Indonesianis, Pengamat Sastra Indonesia, di Sydney:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;"Walaupun bahasa tidak bisa dipakai untuk menguasai alam raya ciptaan Yang Mahakuasa, manusia memang harus memakai bahasa dalam percobaannya untuk memahami dan merespon pada pengalamannya dalam dunia yang tetap bergolak. Letupan Gunung Merapi selama beberapa minggu tahun 2010 sangat mengerikan, namun demikian perasaan persaudaran yang timbul di masyarakat seIndonesia juga sangat jelas dan mengharukan. Dalam buku ini yang tertulis oleh 13 penyair dalam bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda, dibuktikan, 'Kita adalah Merapi'."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Maman S Mahayana&lt;/span&gt;, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;"Puisi adalah potret zaman. Ia tak sekadar representasi gebalau rasa yang paling individual tentang sikap, empati—simpati, atau bahkan antipati, tetapi juga sebagai pewarta peristiwa kemanusiaan. Selalu, tragedi kemanusiaan di belahan dunia mana pun akan menyedot rasa bela sungkawa. Lalu kepedulian pun berdatangan dalam berbagai bentuk ekspresinya. Antologi puisi ini—dengan segala sentuhan etnisitasnya—, telah menjadi saksi bicara, betapa suara penyair tiada pernah berhenti mengalirkan semangat hendak berbagi. Itulah tanggung jawab penyair sebagai makhluk manusia. Di situlah puisi menjadi suara kemanusiaan zamannya."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Cunong N. Suraja&lt;/span&gt;, pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;"Tigabelas penyair menggugat Merapi. Merapi yang memberkahi tigabelas penyair yang cukup jam terbangnya. Tak heran jika mereka menangkap makna Merapi dalam warna lokal yang kental serta kearifan budaya yang tandas dengan bonus catatan kaki bahasa daerah. Nama Sutirman Eka Ardhana, Kurniawan Junaedhie, Boedi Ismanto dan Susy Ayu untuk menyebut nama penyair dengan dapur magma yang mampu melawan kebringasan Merapi yang terasa lebih dahsyat dari tahun-tahun masa kecil saya. Sungguh buku kumpulan yang mewakili perhelatan Merapi di era Facebook yang ceria dan merdeka."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Hudan Hidayat&lt;/span&gt;, Sastrawan, dan Pengamat sastra, di Jakarta:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;“.…seperti ke-13 rekan penyair ini, membuatkan semacam tugu peringatan akan kejadian alam – meletusnya gunung merapi. Seolah kini sastra itu menunjukkan dirinya, bahwa dia bukanlah semata bahasa yang dipakai untuk sekedar semata kesenangan diri. Tapi bahasa yang melibatkan juga kepada soal soal di masyarakat….”&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Suminto A Sayoeti&lt;/span&gt;, Guru Besar FBS UNY, Yogyakarta:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;"Dalam puisi , para penyair merumahkan pengalaman-pengalaman kemanusiaannya. maka, bahasa puisi pun tidak semata informatif, tetapi bahkan evokatif: mampu menggugah kesadaran kemanusiaan kita. Puisi yang dihimpun dalam antologi ini, untuk sekian kalinya, membuktikan hal itu. tidak hanya pewartaan yg dikapsulkan dalam jagat puitik pilihan para penyair, tetapi juga refleksi-refleksi sublim agar kita tetap menjadi manusia."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Faruk HT&lt;/span&gt;, kritikus sastra dan staf pengajar di Fak. Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;"Kumpulan puisi ini menjadi salah satu representasi penting dari pemaknaan orang Jawa atau orang Indonesia yang ikut bersentuhan dengan Merapi mengenai pergeseran pemaknaan mengenai gunung tersebut. Ada yang melihat gunung sekedar representasi dari Tuhan, sebuah gagasan yang sama sekali tidak ada dalam Astabrata, ada yang memahami gunung bukan sebagai kekuasaan, melainkan justru hamba atau kaula yang “menggugat” seperti yang tercantum bahkan pada judul buku ini, ada juga yang melihat gunung sebagai kekuatan yang menakutkan, “kejam”, menimbulkan penderitaan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;13 Penyair: &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Anisa Afzal&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Arieyoko&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Boedi Ismanto SA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Gampang Prawoto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Hadi Lempe&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Kurniawan Junaedhie&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Nia Samsihono&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Nunung Susanti&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Ratu Ayu Neni Putra&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Rini Intama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Soekamto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Susy Ayu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt; Sutirman Eka Ardhana&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Perancang sampul: Aant S Kawisar&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Tebal: 157 hal +&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i style="color: blue;"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150117633304343 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-3017604944383884443?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/3017604944383884443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/3017604944383884443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/apa-kata-mereka-tentang-buku-merapi.html' title='&quot;MERAPI GUGAT&quot;'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSdxdSQsYZI/AAAAAAAAAP8/f0SS_9REJ00/s72-c/166356_1251956035572_1729671749_445538_8193806_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-2729106843551715392</id><published>2011-01-08T02:51:00.001+07:00</published><updated>2011-01-08T04:13:46.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>INFO LOMBA RUMAH KATA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSdt9w15Z4I/AAAAAAAAAP4/LrfEO_3-Y9A/s1600/Rendra.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="233" src="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSdt9w15Z4I/AAAAAAAAAP4/LrfEO_3-Y9A/s320/Rendra.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Rumah Kata Gelar Lomba Baca Puisi&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Dunia sastra di Medan akhir-akhir ini sedang bergairah. Ditandai dengan banyaknya penulis sastra yang terus bermunculan di koran-koran terbitan lokal maupun nasional. Selain itu, menjamurnya kelompok penulis dan lembaga sastra, ikut menciptakan iklim yang baik bagi pertumbuhan sastra di daerah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Kondisi itu mesti disambut positif dan diapresiasi sebagai dukungan terhadap perkembangan kesusasteraan di daerah ini.&amp;nbsp; Hal inilah yang mendasari Lembaga Seni Rumah Kata yang berencana menggelar Lomba Baca Puisi, 15 Januari 2011 mendatang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Rumah Kata sendiri merupakan kelompok seni yang baru didirikan oleh 4 sastrawan yang sudah cukup memiliki nama sampai ke tingkat nasional, yakni Nasib TS (Ketua) M. Yunus Rangkuti (W. Ketua) Idris Siregar (Sekretaris) S. Ratman Suras (Bendahara).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Acara ini nantinya akan digelar di Sanggar Tari Taman Budaya Sumatera Utara, Jl. Perintis Kemerdekaan No 33 Medan. Adapun persyaratan peserta adalah berusia minimal 14 tahun, mengisi formulir&amp;nbsp; dan membayar uang pendaftaran sejumlah Rp 20 ribu per orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Puisi yang akan dibacakan disediakan langsung oleh panitia. Setiap peserta yang mendaftar langsung mendapat cinderamata berupa kalender 2011 dari panitia. Kepada MedanBisnis, M. Yunus Rangkuti menjelaskan, panitia akan memilih 6 orang pemenang yang akan mendapatkan hadiah berupa uang, piala dan sertifikat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;Untuk juara I-III memperoleh uang yakni Rp 600 ribu, Rp 400 ribu dan Rp 200 ribu. Sedangkan 3 pemenang harapan memperoleh uang masing-masing Rp 100 ribu. Pendaftaran akan ditutup pada 13 Januari serta teknikal meeting dilaksanakan 14 Januari. Bagi Anda yang berminat silahkan menghubungi M. Yunus Rangkuti (081396936505) .&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;(jones gultom)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;(mirror link)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/01/02/13265/rumah_kata_gelar_lomba_baca_puisi/" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;603c6&amp;quot;, event);" rel="nofollow" target="_blank"&gt;*http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/01/02/13265/rumah_kata_gelar_lomba_baca_puisi/&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;i&gt;*http://www.facebook.com/note.php?note_id=182835591734190&amp;nbsp; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-2729106843551715392?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/2729106843551715392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/2729106843551715392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/info-lomba-rumah-kata.html' title='INFO LOMBA RUMAH KATA'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TSdt9w15Z4I/AAAAAAAAAP4/LrfEO_3-Y9A/s72-c/Rendra.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-2729320152225586232</id><published>2011-01-07T05:43:00.000+07:00</published><updated>2011-01-07T05:43:42.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>SEKOTAK MATAHARI</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;oleh Ezy Ichikuro&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;sumber:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (&lt;i style="color: red;"&gt;http://www.facebook.com/senandungpena&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Deru angin musim gugur telah pergi&lt;br /&gt;menjauh dan tergantikan musim dingin&lt;br /&gt;gerimis pagi hari tak jua reda&lt;br /&gt;menyunting sang kalbu, merenggut kembali memoriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemanakah aku berteduh ?&lt;br /&gt;menghindari tetesan salju&lt;br /&gt;kutukan rindu membuatku terjatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa tatapku kosong?&lt;br /&gt;jika kau berhenti memayakanku&lt;br /&gt;akupun tak tahu, kenapa daun-daun berguguran?&lt;br /&gt;kala kau melepas mahkotamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis mulai kering, bosan melihatku terdiam&lt;br /&gt;membusuk dalam lamunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku tahu kau telah pergi...&lt;br /&gt;namun aku tak pernah rela menggantimu&lt;br /&gt;dengan musim dingin....&lt;br /&gt;ataupun sekotak matahari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-2729320152225586232?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/2729320152225586232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/2729320152225586232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/sekotak-matahari.html' title='SEKOTAK MATAHARI'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-3795801252030342532</id><published>2011-01-07T05:32:00.000+07:00</published><updated>2011-01-07T05:32:37.515+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>JERIT HAMPA</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;oleh Ezy Ichikuro&lt;/div&gt;sumber: &lt;i style="color: #0b5394;"&gt;http://www.facebook.com/topic.php?uid=131619446880197&amp;amp;topic=262&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Rintihan takdir menertawaiku&lt;br /&gt;Memikul pilu menjinjing ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deras kobaran sang pekat menambah Nikmat sang waktu&lt;br /&gt;Namun, ku anggapItu kan berlalu&lt;br /&gt;Apa yang ku punya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara belaian angin ……..&lt;br /&gt;Aliran darah …….&lt;br /&gt;Dan jiwa-jiwa yang terdampar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ku rasa ?&lt;br /&gt;Terjerat makna …&lt;br /&gt;Atau merindu haru… &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-3795801252030342532?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/3795801252030342532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/3795801252030342532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/jerit-hampa.html' title='JERIT HAMPA'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-8522198298853274603</id><published>2011-01-07T05:22:00.000+07:00</published><updated>2011-01-07T05:22:32.252+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>REMUK TAK BERTUAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="profileName ginormousProfileName fwb"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;Ezy Ichikuro&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: #073763; font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="profileName ginormousProfileName fwb"&gt;sumber: http://www.facebook.com/topic.php?uid=131619446880197&amp;amp;topic=235 &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="profileName ginormousProfileName fwb"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Menatap jauh kepakan angan&lt;br /&gt;Kian meninggi tak terkendali&lt;br /&gt;Membawa lembaran halus&lt;br /&gt;Beraromakan bunga kehampaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemuruh angin hinggap silih berganti&lt;br /&gt;Bagai petir meremas rongga dada&lt;br /&gt;Sentuhan paraunya menyambar kalbu&lt;br /&gt;Tambah terasing memekik hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah aku&lt;br /&gt;Semakin rapuh akibat gemuruh&lt;br /&gt;Dalam balutan luka tak kentara&lt;br /&gt;Teriaku mengaduh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarak goresan haripun kian condong&lt;br /&gt;Tuntaskan air mata&lt;br /&gt;Menyuling kenangan lalu sibuk&lt;br /&gt;Hempaskan wewangian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Menatap jauh kepakan angan&lt;br /&gt;Kian meninggi tak terkendali&lt;br /&gt;Membawa lembaran halus&lt;br /&gt;Beraromakan bunga kehampaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemuruh angin hinggap silih berganti&lt;br /&gt;Bagai petir meremas rongga dada&lt;br /&gt;Sentuhan paraunya menyambar kalbu&lt;br /&gt;Tambah terasing memekik hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah aku&lt;br /&gt;Semakin rapuh akibat gemuruh&lt;br /&gt;Dalam balutan luka tak kentara&lt;br /&gt;Teriaku mengaduh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarak goresan haripun kian condong&lt;br /&gt;Tuntaskan air mata&lt;br /&gt;Menyuling kenangan lalu sibuk&lt;br /&gt;Hempaskan wewangian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-8522198298853274603?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/8522198298853274603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/8522198298853274603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/remuk-tak-bertuah.html' title='REMUK TAK BERTUAH'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-1881830323270126479</id><published>2011-01-07T04:58:00.001+07:00</published><updated>2011-01-07T05:05:35.631+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>M A J A S</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/STK-GZhVvcI/AAAAAAAAAFA/ze8IDLyAcik/s1600/rainbow_twirl_md_wht_24822_31887%255B1%255D.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/STK-GZhVvcI/AAAAAAAAAFA/ze8IDLyAcik/s200/rainbow_twirl_md_wht_24822_31887%255B1%255D.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Majas adalah gaya bahasa adalah bahasa kiasan adalah figurative language. Mudahnya seperti itu. Kok begitu? Ya, begitulah, karena dengan alasan yang kuat, gaya bahasa dan bahasa kiasan bisa dibedakan. Sekali lagi, untuk kemudahan saja, maka mereka kita anggap sama.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Majas berasal dari Bahasa Arab, artinya kiasan. Dalam buku-buku teori pengkajian puisi majas biasanya dibahas dalam bab KATA, bersama khazanah kata (KOSAKATA), pemilihan kata (DIKSI), gambar angan atau citraan (IMAJI), dan hubungan kata dengan faktor GRAMATIKA.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisa puisi dengan metode struktural, majas adalah salah satu unsur dari struktur fisik puisi. Menurut metode ini, selain memiliki struktur fisik, puisi juga terbangun atas struktur batin. Jika dikuasai dan dimanfaatkan maksimal, maka majas yang fisikal itu bisa mendukung kekuatan struktur batin puisi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, majas atau gaya bahasa adalah upaya untuk memanfaatkan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Uraian pengertian di atas tampak menggabungkan pengertian gaya bahasa dan gaya ucap. Tiap pengarang atau penyair yang baik, akhirnya pasti dan seharusnya bisa menemukan gaya ucapnya sendiri. Gaya ucap itulah yang mungkin tepat untuk disebut sebagai kekhususan atau keistimewaan atau &lt;i&gt;idiosincracy. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kita anggap saja, majas itu sama dengan gaya bahasa, sepantun dengan bahasa kiasan dan setali tiga uang dengan figurative language. Dan kemudian, kita sepakati bahwa kecenderungan atau kegandrungan memanfaatkan majas tertentu adalah salah satu yang menentukan gaya ucap seorang penyair. Beri garis bawah pada frasa "salah satu".&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, majas itu di dalam puisi diberdayakan untuk (1) kenikmatan imajinatif, (2) menghasilkan tambahan makna, (3) menambah intensitas dan menambah konkret sikap dan perasaan penyair, (4) memperpadat ungkapan makna dalam sajak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Penyair adalah orang yang pandai menggunakan dan lihai memanfaatkan kekayaan dan kekuatan bahasa syairnya. Penyair yang baik harus mengetahui dan menguasai semua unsur tersebut, untuk kemudian dimainkan, dikhianati, dilanggar, juga dipergunakan secara maksimal sebagai sarana puitika, dan menghasilkan puisi yang segar. Ia pun suatu saat kelak harus bisa menciptakan gaya bahasa sendiri, untuk disumbangkan untuk menyegarkan dan memperkaya khazanah bahasanya!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti, pengkaji bahasa dan sastra, punya berbagai cara yang berbeda dalam menelaah gaya bahasa. Tujuannya sama saja, supaya mudah dipahami. Gunawan Sudarsana, dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (IndonesiaTera: Magelang, 2007) merangkum dan menyusun 57 majas terbagi atas empat kategori, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;·&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Majas Perbandingan, 23 jenis. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;·&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Majas Sindiran, 5 jenis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;·&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Majas Penegasan, 24 jenis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; line-height: 150%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;·&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Majas Pertentangan, 5 jenis.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-1881830323270126479?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/1881830323270126479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/1881830323270126479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2011/01/m-j-s.html' title='M A J A S'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/STK-GZhVvcI/AAAAAAAAAFA/ze8IDLyAcik/s72-c/rainbow_twirl_md_wht_24822_31887%255B1%255D.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-8649672800225857765</id><published>2010-10-05T23:00:00.000+07:00</published><updated>2010-10-05T23:00:40.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>Menulis Ikhlas Puisi di KOPI Sastra (Khusus Bogor)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TKtKv7J8pSI/AAAAAAAAAPQ/lBM0kW1KwO4/s1600/KOPI+Sastra.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="151" src="http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TKtKv7J8pSI/AAAAAAAAAPQ/lBM0kW1KwO4/s200/KOPI+Sastra.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Menyambut bulan bahasa dan ulang tahun KOPI Sastra yang kedua. KOPI Sastra mengundang para penulis puisi yang berdomisili di Bogor untuk ikut memublikasikan karyanya dalam Antologi Pohon Kopi 4: Bahasa adalah Kami.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kirim puisi beserta informasi lengkap Anda ke antologipohonkopi@kopisastra.co.cc&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;blockquote&gt;  &lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;dengan subjek APK4&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Paling lambat 10 Oktober 2010 pukul 23:59 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Info lebih lanjut silakan kunjungi www.kopisastra.co.cc&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Syarat dan Ketentuan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis adalah Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Bogor, Jawa Barat.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Puisi merupakan karya asli penulis dan bukan saduran.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Puisi bertemakan Pendidikan dan atau Kebahasaan.&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Puisi dikirimkan sebagai&amp;nbsp;Attachment&amp;nbsp;dalam format .doc, .docx, .rtf, atau .odt dengan nama&amp;nbsp;file: APK4 diikuti Nama penulis dan judul puisi.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis boleh mengirimkan lebih dari satu puisi.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis tidak mendapatkan royalti, namun berhak mendapatkan satu buku Antologi Pohon Kopi 4&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;CP: &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Nunu (0857 8118 7826)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Havid Yazid (0856 9287 8295)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Helmy F. (0856 9343 7066)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Janwar (08989 482 555)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-8649672800225857765?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/8649672800225857765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/8649672800225857765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/10/menulis-ikhlas-puisi-di-kopi-sastra.html' title='Menulis Ikhlas Puisi di KOPI Sastra (Khusus Bogor)'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TKtKv7J8pSI/AAAAAAAAAPQ/lBM0kW1KwO4/s72-c/KOPI+Sastra.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-6250258350716475256</id><published>2010-09-25T01:00:00.002+07:00</published><updated>2010-09-25T01:05:39.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Lima Musuh Puisi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJzlJA54bEI/AAAAAAAAAI4/ro3nUFjWX6c/s1600/sarjono.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJzlJA54bEI/AAAAAAAAAI4/ro3nUFjWX6c/s200/sarjono.jpg" width="147" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh: Agus R. Sarjono&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;The artist, and particularly the poet, is always an anarchist, and can only listen to the voices that rise up from within his own being, three imperious voices: the voice of Death, with all its presentiments; the voice of Love and the voice of Art. Federico García Lorca (1898 - 1936) &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Menulis puisi melibatkan banyak hal yang terkadang cukup kompleks: pengalaman, kedalaman, kejujuran, kecerdasan, dan sedikit kegilaan. Apa yang dikemukakan Lorca dalam kutipan di atas banyak benarnya, karena seorang penyair pada dasarnya selalu seorang anarkis karena ia hanya akan mendengar kuasa suara yang tumbuh dan lahir dalam dalam keberadaannya sendiri: suara Kematian, suara Cinta, dan suara Kesenian.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Semua dasar kepenyairan bermuara pada ketrampilan teknis di satu sisi dan wawasan sang penyair di sisi lain. Contoh terbaik untuk ini adalah yang dialami seorang pemusik. Seorang pemusik yang setiap hari melatih keterampilannya bermain musik (piano atau gitar, misalnya) akan memiliki keterampilan teknis yang luar biasa. Namun, jika seumur hidupnya dia hanya mendengar lagu ”Maju Tak Gentar” belaka, maka seluruh keterampilan dan kecanggihannya bermain musik tak akan pergi jauh dari wilayah nada satu-satunya lagu yang dia kenal. Dalam pada itu, seorang pemusik yang menyimak bermacam jenis musik dari ribuan album akan memiliki kekayaan khasanah nada, harmoni, dan sebagainya yang luas. Namun, bila dia tidak pernah berlatih dengan tekun makan seluruh kekayaan wawasan musikalnya tidak akan dapat dipresentasikan dengan baik. Hal yang sama terjadi pada seorang penyair.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Penyair yang baik memiliki ciri yang tetap, yakni jatuh cinta pada puisi. Tanpa jatuh cinta pada puisi maka menjadi penyair adalah mustahil. Mengingat kompleksitas urusan menjadi penyair dan menulis puisi yahud yang tak mungkin dikemukakan dalam tempo sesingkat-singkatnya seperti proklamasi, maka pada kesempatan ini justru sebaliknyalah yang akan dikemukakan disini, yakni sebab-sebab puisi jelek alias musuh-musuh puisi. Ada banyak musuh puisi. Tapi karena tak baik terlalu banyak memiliki musuh, maka pada kesempatan ini akan dikemukakan lima buah musuh saja. Jika ingin menambah jumlah musuh, silahkan saja sejauh relevan dengan musuh-musuh yang sudah ada. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Musuh Pertama : Keumuman&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Musuh pertama bagi puisi adalah keumuman alias serba umum. Dalam puisi keumuman harus dihindari. seorang penyair yang baik akan menjauh dari unsur umum dan pandangan yang serba umum baik pandangan yang umum mengenai sosial, politik, moral, agama, atau apapun. Dalam menulis sajak tentang ibu, misalnya, akan bermunculan segera sajak-sajak semacam ini: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oh ibu, alangkah mulia hatimu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kau lahirkan dan besarkan aku&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Membelai dan memberiku susu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Menuntun anakmu jalani kehidupan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hingga tercapai cita-citaku &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Jika sajak itu tentang guru, maka lahirlah sajak-sajak semacam ini: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Oh guruku, kau didik aku&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mengajariku berbagai ilmu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bagi bekal hidupku &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Dari matematika sampai ilmu bumi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kau ajari kami hingga kami mengerti&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Apa yang harus kami jalani&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dalam hidup ini &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ubahlah temanya menjadi pengemis, maka sajak yang akan muncul adalah: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Wahai pengemis, betapa malang nasibmu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Meminta sesuap nasi setiap hari&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tidur beratapkan langit beralaskan bumi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tiada yang peduli &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dengan sajak semacam ini tak ada seorang ibu, guru, maupun pengemis yang akan terkesan dan tersentuh hatinya. Mengapa? karena sajak-sajak semacam ini berbicara mengenai ibu, guru, dan pengemis yang umum. Maka ibu, guru, maupun pengemis di sini menjadi stereotipe. Bandingkan dengan sajak mengenai pengemis di bawah ini: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Kalau kau mati gadis kecil berkaleng kecil&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kotaku hilang tanpa jiwa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;dan bulan di atas sana tiada yang punya &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Musuh Kedua: Simplifikasi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Musuh kedua adalah simplifikasi alias penyerhanaan yang banyak hubungannya dengan kebiasaan gebyah uyah. Pada pengalaman sehari-hari saja jika kita renungi akan kita temukan banyak hal menarik dan kadang pelik, apalagi dalam masalah-masalah yang lebih besar dan kompleks. Contoh di atas, yakni keumuman, masih ada kena-mengenanya dengan simplifikasi. Puisi mengenai ibu, guru, dan pengemis, seringkali ditulis dengan pandangan stereotipe seolah semua ibu, semua guru, semua pengemis adalah sama. Padahal setiap orang memiliki ibu masing-masing yang berbeda-beda baik wajah, kebiasaan, kesenangan, selera akan musik dan warna, makanan kesukaan, cara berjalan, cara marah, cara tersenyum yang berbeda-beda, apalagi watak dan tabiatnya.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Begitu juga dengan guru yang berbeda bentuk dan modelnya, berbeda pangkat dan kualifikasinya, berbeda pengalaman dan gaya mengajarnya. Sementara itu, pengemis pun berbeda-beda latar-belakang, alasan jadi pengemis, pengalaman hidup dan sebagainya. Sama sekali tidak sama perasaan pengemis yang habis mendapat uang seratus ribu dari orang yang menang lotre atau pinangannya diterima dengan pengemis yang habis ditendang oleh politisi caleg yang ngamuk dan murang-maring karena tak terpilih oleh rakyat. Bahkan, tidak jarang pandangan orang atas pacar pun sama. Tidak percaya? Lihat saja sinetron-sinetron kita yang mulia. Padahal, tidak setiap kerinduan sepasang kekasih sama dengan gerak slow motion di pantai dalam rangka untuk saling berpelukan. Marah pun berbeda-beda jenisnya dan tidak selalu membentak-bentak dengan suara meggeledek dan mata terancam keluar dari sarangnya, apalagi sedih yang sangat beragam jenisnya dan tidak selalu harus menangis tersedu-sedu dengan dandanan masih menor.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Simplifikasi lain, misalnya, memandang Barat pastilah semuanya tertib dan cerdas atau sebaliknya barat pastilah semuanya bebas, ngawur, dan membenci agama. Kata barat itu sendiri sudah simplifikasi, karena ada beragam negara dengan beragam budaya dan setiap negara punya penduduk berjuta-juta yang masing-masing manusianya punya pengalaman dan kekhasan sendiri-sendiri. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Musuh Ketiga: Propaganda dan Reklame&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Propaganda dan Reklame adalah musuh ketiga puisi. Jika ingin membuat puisi jadi sesuatu yang ngeri, maka tak ada yang lebih tepat selain menulis puisi dalam semangat propaganda atawa reklame. Propaganda dan reklame seringkali lepas dari hubungan personal dengan manusia. Ia masih berkaitan dengan pemahaman yang serba umum. Kata abstrak dikepalkan ke pembaca untuk menanamkan indoktrinasi. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ayo pemuda ayo pemudi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Rapatkan barisan membangun negeri&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Jangan biarkan jangan diberi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Neokolonialisme mengancam negeri&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dadamu dadaku bagi pertiwi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Atau &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Jangan kau tebang pohon&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Wahai durjana aku memohon&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Biarkan pohonan subur&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ayo kita ganyang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Siapa saja yang berani menebang &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Musuh Keempat: Klise atau Janda dan Duda Kata &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Wajahmu cantik bagaikan lukisan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Aku mencintaimu aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Engkaulah belahan jiwa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Satu-satunya hingga akhir hayatku. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hampir semua pilihan kata dan ungkapan di atas sudah digunakan berkali-kali untuk macam-macam kesempatan. Maka semua ungkapan dan kata di sana sudah menjadi janda dan duda berkali-kali. Sejauh menyangkut hal ini, penyair seyogyanya mencari dan menemukan kata yang masih perawan. Seorang penyair berkewajiban sebagai yang pertama meminang kata atau ungkapan selagi ia masih perawan untuk dijadikan pengantin bagi pengalaman puitiknya. Jikapun ia harus juga berurusan dan menikahi janda kata, sang penyair harus memberinya pelaminan baru dalam konteks pernikahan puitik yang baru. Untuk urusan yang sama, Pablo Neruda menulis petikan ini: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Sejak aku mengenalmu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kau tak mirip siapapun &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dalam pada itu, sajak mengenai pengemis atau anak nelayan miskin tidak dapat ditulis berdasar stereotipe dan diusung dengan janda-janda dan duda kata. Apalagi digabung dengan propaganda, slogan, dan reklame. Dengan mengenali baik-baik sosok dan urusan yang akan ditulis dan mengolahnya dengan cara pandang yang khas sesuai kepribadian penyairnya, bisa saja lahir sajak mengenai nelayan seperti ditulis Frederico Garcia Lorca di bawah ini: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Balada Air Garam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sang laut  senyum di jauhan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Gigi berbusa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bibir cakrawala. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Apa yang kau jajakan, anak merana,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;anak yang telanjang dada?’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Tuan, saya berjualan air garam samudera.’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Apa yang kau bawa, anak kelam, berbaur dengan darahmu?’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Tuan, saya membawa air garam samudera.’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Ini asin airmata  datang dari mana, ibu? &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Tuan, saya menangis  air garam samudera.’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Jiwa, pahit yang dalam ini, dari mana munculnya?’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ‘Sungguh pahit,  air garam samudera!’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Sang laut  senyum di jauhan.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Gigi berbusa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bibir cakrawala &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Musuh Kelima: Nasehat, Diri Nan Mulia, atawa Takabur&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Memberi nasehat selalu beresiko tinggi bagi penyair. Di satu sisi ia dapat dianggap memberikan nilai-nilai moral dan budi pekerti, namun sebenarnya hal ini paradoksal karena sebuah nasehat tidak bisa tidak akan lahir dari andaian bahwa sang pemberi nasehat adalah sosok yang lebih mulia. Anggapan diri sebagai sosok mulia disadari atau tidak adalah sebuah tindakan yang takabur. Di sisi lain puisi semacam ini mengandaikan pembacanya sebagai sosok pendosa yang harus segera bertobat. Pada kenyataannya, sajak-sajak berpetuah jarang berhasil membawa pembaca pada pertobatan dan lebih sering membuat pembaca bosan dan enggan. Tabahkan hati anda membaca sajak di bawah ini: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Wahai durjana lekaslah bertobat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tinggalkan semua jalan yang sesat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tidakkah kau lihat para malaikat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kan memasukanmu ke neraka laknat. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dalam sastra, termasuk puisi, nilai-nilai moral akan mencekam pembaca justru saat tidak disemburkan sebagai khotbah dan wejangan melainkan lewat sebuah pengalaman kongkret, baik pengalaman kongkret tokoh tertentu yang dijadikan protagonis suatu puisi maupun dari pengalaman batin aku lirik yang jujur dan manusiawi. Sampai sekarang, dalam khasanah puisi Indonesia, belum ada sajak ketuhanan yang lebih indah dan mencekam dibanding sajak ”Padamu Jua” Amir Hamzah dan ”Doa” Chairil Anwar. Kebetulan keduanya mewakili pengalaman ketuhanan yang berbeda, yang satu pengalaman seorang mistikus yang saleh seperti Amir Hamzah dan satu lagi pengalaman seorang pendosa seperti Chairil Anwar. Kedua puisi tersebut sama sekali jauh dari pretensi memberi wejangan dan nasehat kepada siapapun. Namun, justru karena itu pembaca dicekam oleh penghayatan moral dan pengalaman ketuhahan yang sublim dan memperkaya batin. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Di tamanku, tak ada yang lebih indah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;dari duri di musim bunga,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tuhan, Hafiz rindu padamu. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Demikian petikan sajak indah Hafiz, seorang sufi besar yang mengandaikan dirinya dan khasanah taman batin dan keimanannya tak lebih dari ranting kering dan duri. Sementara orang lain boleh jadi memposisikan taman batinnya penuh bebungaan mekar aneka warna sembari memberi nasehat orang lain bagaimana tatacara menanam bunga moral agar subur dan sukses. Itu juga sebabnya Haji Hasan Mustapa sufi dan penyair besar dari tatar Sunda meskipun seorang ulama besar, tidak memberi nasehat dari posisi aku yang mulia kepada kaum pendosa, melainkan menulis sajak semacam ini: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Melenggang mencari itu,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;ini lagi ini lagi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;selama mencari sana&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;sini lagi sini lagi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;selama mencari mana&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;ini lagi ini lagi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;selama mencari selatan,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;utara lagi utara lagi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;selama mencari barat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;timur lagi timur lagi,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;selama mencari ada&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;tiada lagi tiada lagi. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mengapa demikian? Para penyair yang telah tinggi pencapaian ruhaninya mafhum bahwa memprosisikan diri sendiri sebagai sosok mulia adalah sebuah tindakan yang tak patut dan mengarah pada takabur. Mereka terlalu tawadhu untuk bertindak seperti itu. Boleh jadi mereka enggan pengalaman pelacur dan ”sang ulama” dalam kisah sufi kembali berulang. Saat itu seorang ”ulama” dengan sorban menjulang memaki-maki seorang pelacur sebagai mahluk hina, durjana, kerak neraka, dan semacamnya. Pelacur itu sambil termangu dengan hati kecut berkata: ”Tuan, benarlah saya seperti yang tuan katakan. Tapi adakah tuan sebagaimana yang tuan bayangkan?”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=373785388582 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-6250258350716475256?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6250258350716475256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/6250258350716475256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/09/lima-musuh-puisi.html' title='Lima Musuh Puisi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJzlJA54bEI/AAAAAAAAAI4/ro3nUFjWX6c/s72-c/sarjono.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-7005801825663048306</id><published>2010-09-02T23:47:00.000+07:00</published><updated>2010-09-02T23:47:49.140+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>SAYEMBARA CIPTA PUISI REMAJA</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;SAYEMBARA CIPTA PUISI REMAJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSAT BAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah cipta puisi merupakan karya sastra padat, terpusat, dengan acuan sedikit bicara banyak makna. Cabang seni sastra ini bagi kebanyakan orang agak rumit dan sulit. Bahasa puisi berbeda dengan bahasa prosa yang memiliki satu arti sesuai dengan yang tersurat. Untuk membaca karya puisi, diperlukan sikap terbuka yang kreatif. Orang tidak dapat serta-merta menangkap makna puisi seperti halnya orang membaca karya prosa. Barangkali, orang bisa langsung menangkap apa yang diceritakan dalam puisi. Namun, untuk memahami isi ceritanya, masih diperlukan renungan dan pembacaan kembali yang lebih cermat. Puisi tidak hanya mempersoalkan arti atau makna, tetapi juga bagaimana arti atau makna itu disampaikan oleh penyairnya. Soal penyampaian ini menyangkut bentuk ungkapan puisi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu bentuk ungkapan sastra, puisi memiliki beberapa unsur di dalamnya. Unsur-unsur itu, antara lain imaji, tema, metafora, simbol, dan irama. Seperti halnya, jenis karyakarya sastra atau seni yang lain, puisi merupakan ungkapan rasa dan pikir seorang penyair dengan cara atau metode memberikan imaji yang terpadu utuh dalam satu kesatuan maksud. Maksud atau tujuan puisi dapat berupa: menceritakan sesuatu, melukiskan sebuah karakter manusia, impresi atau kesan dan tanggapan terhadap sesuatu, ungkapan atau ekspresi rasa dan pikir, dan ungkapan ide atau sikap seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja mengenal puisi lewat bangku sekolah atau pembacaan puisi yang tersebar di panggung kesenian setempat. Patut disayangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa pada saat ini kreativitas remaja dalam bersastra, khususnya cipta puisi jarang dilakukan. Kelompok remaja sekarang lebih cenderung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menggemari bentuk-bentuk kreativitas yang kurang mengandung nilai pendidikan. Potensi bakat dan minat remaja terhadap puisi tentu akan berkembang dengan baik apabila didukung dengan pelatihan dan kesempatan berkreasi. Salah satu upaya untuk dapat menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minat remaja dalam cipta karya sastra, khususnya cipta puisi. Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka Bulan Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Sastra 2010, dengan tema “Pembentukan Karakter Bangsa melalui Peningkatan Kualitas Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi Remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara cipta puisi remaja ini bertujuan untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. meningkatkan minat remaja terhadap sastra, khususnya puisi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. meningkatkan daya cipta dan kreativitas remaja terhadap puisi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. menumbuhkan sikap positif dan cinta sastra bagi remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Peserta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta sayembara ini adalah masyarakat umum (bukan warga dan keluarga Pusat Bahasa, atau Balai/Kantor Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional) kelompok remaja berusia 13—20 tahun di seluruh Indonesia. Usia dibuktikan melalui kartu tanda penduduk, dan surat keterangan yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Persyaratan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tema Sayembara Cipta Puisi ini disesuaikan dengan tema Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2010, tidak mengandung pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Naskah puisi ini harus asli (bukan saduran, terjemahan, jiplakan), belum pernah dipublikasikan atau diterbitkan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara sejenis.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Naskah puisi disertai dengan surat pernyataan bahwa puisi tersebut adalah karya sendiri.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Naskah puisi ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, dan dicetak di kertas HVS kuarto.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu puisi (rangkap tiga), dengan dilapirkan biodata, alamat lengkap, dan fotokopi identitas diri.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Naskah puisi dikirim ke Pusat Bahasa, paling lambat 9 Oktober 2010 (stempel pos).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Naskah puisi yang telah masuk menjadi milik Pusat Bahasa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Naskah puisi yang dinilai layak akan terbit dalam buku antologi puisi diterbitkan oleh Pusat Bahasa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Penilaian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penilaian naskah dan penentuan pemenang akan dilakukan oleh tim juri yang terdiri atas pakar puisi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penilaian mencakup aspek isi, daya puitik, penyajian, dan bahasa Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Putusan tim juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hasil penilaian diumumkan pada tanggal 22 Oktober 2010.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Hadiah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang akan mendapatkan piagam, terbitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa yang relevan, dan uang tunai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dipotong PPh sebesar 20%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang I : Rp5.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang II : Rp4.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang III : Rp3.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapn I : Rp2.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapan II : Rp2.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapan III: Rp1.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Alamat Panitia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Sayembara Cipta Puisi Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 13220&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon (021) 4706287, 4706288 Pesawat 127&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP: 08121368882&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-7005801825663048306?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/7005801825663048306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/7005801825663048306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/09/sayembara-cipta-puisi-remaja.html' title='SAYEMBARA CIPTA PUISI REMAJA'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-580894269603500963</id><published>2010-08-17T07:58:00.001+07:00</published><updated>2010-08-17T07:58:29.608+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Chairil Anwar (1922-1949)</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Chairil-Anwar-1922-1949/43806567265?ref=search" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TGnZ03i9MhI/AAAAAAAAAIM/WoqHeBZ8P24/s320/C.+ANWAR.jpg" width="235" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Chairil Anwar (1922-1949)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Halo sahabat semua, apa kabar?... dan bagaimana sudah semakin kreatifkah kini?...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;"Semoga saja"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kali ini, kami akan memampang profil penyair Indonesia terkemuka. Pasti kalian sudah tau siapa namanya yang ada di foto itu. Ya, tepat, Chairil Anwar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mau tahu tentang perjalanannya?... sedikit profilnya ada di sini, di postingan di bawah itu tuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kenalan yuk!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Chairil Anwar lahir di Medan 26 Juli 1922. Ayahnya bernama Toeloes berasal dari Payakumbuh (Taeh, Kabupaten Limo Puluah Koto, Sumatra Barat) dan ibunya bernama Saleha yang berasal dari Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan ayah Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Chairil bersekolah Belanda HIS (&lt;i&gt;Hollands Inlandsche Scholl&lt;/i&gt;) di Medan, kemudian melanjutkan sekolahnya ke MULO (&lt;i&gt;Meer Uietgebred Lager Onderwijs&lt;/i&gt;, setingkat SMP). Ia tidak menamatkan sekolah itu karena pindah ke Jakarta mengikuti ibunya yang bercerai dari ayahnya. Chairil menguasai tiga bahasa asing, yaitu Belanda, Inggris dan Jerman secara aktif. Pengasaanya atas ketiga bahasa asing itulah yang mengantarkan Chairil pada karya-karya sastra dunia. Oleh sebab itu, pengarang-pengarang seperti Andre Gide, John Steinbeck, Rainer Marie Rilke, Ernest Hemingway, W.H. Auden, Conrad Aiken, John Conford, Hsu Chih Mo, Archibald Mac Leish, Willem Elsschot, H. Matsman, Edgar du Peron, J. Slauerhoff sangat akrab dengan Chairil. Bahkan, karena itu Chairil ikut tersudutkan sebagai plagiator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kumpulan puisi Chairil yang terkenal yaitu “Deru Campur Debu” (1949), “Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus” (1949), dan antologi “Tiga Menguak Takdir” (1950) kumpulan bertiga dengan Asrul Sani dan Rivai Apin. Karya-karya Chairil telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Masa Kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Semasa kecil hidup di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;..Bukan kematian benar yang menusuk kalbu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Keridlaanmu menerima segala tiba&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tak kutahu setinggi itu atas debu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dan duka maha tuan bertahta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu.Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “..Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis..”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Masa Dewasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Sukabumi, Hapsah, Chairil telah menikahinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Chairil menikah dengan Hapsah Wiradireja, wanita Cicurug, Sukabumi, yang lahir tanggal 11 Mei 1922. Ia memiliki seorang putri bernama Evawani Alissa, alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lahir 17 Juni 1947. saat ini Elissa bekerja sebagai notaris di Jakarta.(Majalah Sastra, Volume 01, Nomor 01, Mei 2000) Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda. Nama, Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga dijiplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Akhir Hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saat menjelang ajal, dalam kesendirian nan penuh kesepian dan keterasingan, ia menulis:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hidup hanya menunda kekalahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;tambah terasing dari cinta sekolah rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;sebelum pada akhirnya kita menyerah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah terserang sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC. Beliau meninggal pada usia 26 tahun 9 bulan, pada tanggal 28 April 1949. Warisan karyanya 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Ia dikebumikan di pemakaman Karet Jakarta. Untuk mengenangnya, Dewan Kesenian Jakarta memberikan hadiah anugrah kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil ANwar. Hadiah itu telah diberikan kepada Mochtar Lubis (1992) dan Sutardji Calzoum Bachri (1998). Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Umur Chairil memang pendek, tidak sampai beranjak 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “..Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Chairil Anwar adalah penyair legendaris yang sering disalahpahami, tidak sedikit orang yang menjulukinya sebagai penyair religius, antara lain, karena sajak Doa, yang memang amat religius atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku) sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;sumber: &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}a:link, span.MsoHyperlink	{mso-style-priority:99;	color:blue;	mso-themecolor:hyperlink;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed	{mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	color:purple;	mso-themecolor:followedhyperlink;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://alshine000.blogspot.com/2010/06/chairil-anwar.html"&gt;http://alshine000.blogspot.com/2010/06/chairil-anwar.html&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-580894269603500963?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/580894269603500963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/580894269603500963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/08/chairil-anwar-1922-1949.html' title='Chairil Anwar (1922-1949)'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TGnZ03i9MhI/AAAAAAAAAIM/WoqHeBZ8P24/s72-c/C.+ANWAR.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-4568896636395196481</id><published>2010-08-15T00:31:00.001+07:00</published><updated>2010-08-15T00:42:34.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak Rindu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;cuma ada aku, secangkir kopi, dan batangbatang yang mengepul di sudut asbak segi empat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;ruas jalan beraroma penuh sinergi setelah terguyur gerimis bernuansa tangis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;aku tahu aroma itu, aku pernah cium nuansa itu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;aroma kerinduan yang mendalam, menghadirkan nuansa pilu dalam tangis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;di balik hening dan sepi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;ada sorak dalam pikiran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;ada senandung pada hati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;sorak setelah senandung rindu dialirkan pada kertas kusam dengan semburan tinta tak tertahan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;ada rindu di situ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;ketika di sini hanya ada sunyi dan secangkir kopi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="Arial,Helvetica,sans-serif" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;ada rindu di situ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="Arial,Helvetica,sans-serif" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;ketika batangbatang mengepul pada sudut asbak segi empat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;andai kau tahu,kerinduanku melebihi kerinduan gersang kepada gerimiskerinduanku malampaui dalamnya lubang suram yang tak bisa kau lihat dalamannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;kerinduanku, seperti para sufi yang menangis pilu harap aroma surgawi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: right;font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Helmy Fahruroji&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: right;font-family:Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tajurhalangketikarindu, 140810&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-4568896636395196481?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4568896636395196481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4568896636395196481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/08/sajak-rindu.html' title='Sajak Rindu'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-4724699857301726353</id><published>2010-08-03T19:23:00.002+07:00</published><updated>2010-08-03T19:48:25.072+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Penulis Melayu Klasik, Sumbangannya Bagi Sastra Indonesia #2</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Tahoma","sans-serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:36.0pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Tahoma","sans-serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:0cm;	margin-left:36.0pt;	margin-bottom:.0001pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Tahoma","sans-serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:0cm;	margin-left:36.0pt;	margin-bottom:.0001pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Tahoma","sans-serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast	{mso-style-priority:34;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-type:export-only;	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:36.0pt;	mso-add-space:auto;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Tahoma","sans-serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-family:"Tahoma","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:Calibri;	mso-bidi-theme-font:minor-latin;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:531528529;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-972658462 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l0:level1	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-18.0pt;}ol	{margin-bottom:0cm;}ul	{margin-bottom:0cm;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini dia, sambungan tulisan sebelumnya tentang “&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;PENULIS MELAYU KLASIK, SUMBANGANNYA BAGI SASTRA INDONESIA” oleh Prof. Abdul Hadi W. M.. &amp;nbsp;Memang aga lama untuk memuat ini, sengaja supaya kawan-kawan bias mempelajari postingan sebelumnya. Sekarang jika sudah mengerti tentang postingan yang dimuat sebelumnya, mari kita lanjutkan untuk mempelajari kelanjutannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;Selamat mempelajari…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah sastra Indonesia, kesadaran akan pentingnya individualitas, pengucapan dir, dikatakan bermula pada abad ke-20 dengan munculnya Pujangga Baru dan Chairil Anwar. Tetapi anggapan tersebut baru separuh benar, sebab tiga abad sebelumnya Hamzah Fansuri dan murid-muridnya di Sumatra telah memulainya. Begitu pula gagasan tentang kemerdekaan penyair dalam merombak bahasa demi pengucapan estetik, yang disebut licensia poetica, secara kreatif dan luar biasa telah diterapkan dalam penulisan olehpenyair-penyair sufi Sumatra abad le-16 M.&lt;span style="line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kecuali itu karya penyair abad ke-16 M itu membuka babakan baru dalam sejarah kepenyairan. Mereka menjadikan puisi bukan sekadar sarana pengajaran moral, melainkan juga sevagai sara pencerahan kalbu. Di tangan Hamzah Fansuri puisi berperan pula sebagai hasil perenungan penyair terhadap pengalaman spiritual yang dialami dan dihayati secara individual. Pengalaman spiritual tersebut dicapai melalui upaya intelektual dan olah batin secara berdisiplin, yaitu melalui jalan tasawuf atau ilmu suluk. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak kritikus, seperti al-Attas, Brakel dan Braginsky, memandang Hamzah Fansuri sebagai Bapak Bahasa dan Sastra Melayu, seorang perintis jalan yang dengan karya-karyanya berhasil membawa sastra Melayu ke dalam babakan baru dengan sifatnya yang universal dan kosmopolitan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Teeuw (1994) malahan tidak tanggung-tanggung menyebut Hamzah Fansuri sebagai Pemula Puisi Indonesia dalam arti sebenarnya. Pembaharuan sufi dari Barus itu tiga abad mendahului pembaharuan Pujangga Baru dan Chairil Anwar. Di antara pembaharuan yang dilakukan oleh Syekh Barus itu ialah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kalau penyair-penyair sebelumnya malu-malu membubuhkan namanya dalam karyanya, Hamzah Fansuri tidak segan-segan membubuhkan nama pribadi dan gelar atau takhallusnya dalam setiap akhir karangannya, yaitu bait penutup ikat-ikatan sajaknya. Munculnya Hamzah Fansuri membuat zaman Sahibul Hikayat menjadi masa silam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hamzah Fansuri memperkenalkan bentuk puisi baru, yaitu Syair, yang kemudian sangat popular. Dari perkataan 'syair' itulah perkataan 'penyair' berasal, begitu pula istilah-istilah sastra lain seperti sajak, bait dan lain-lain, berasal dari karangan-karangan Hamzah Fansuri. Sebagai bentuk puisi empat (4) baris dengan skema rima AAAA, syair tidak ada dalam kesusastraan Arab dan Persia, dan juga tidak dalam kesusastraan Nusantara sebelumnya. Namun demikian Hamzah dapat mencipta bentuk puisi tersebut disebabkan pengetahuannya yang dalam mengenai puitika Arab dan Persia, serta puitika Melayu yang hidup dalam tradisi sastra lisan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hamzah Fansuri sangat kreatif menggunakan bahasa, atau dengan menggunakan istilah Chairil Anwar 'sangat destruktif' terhadap bahasa Melayu. Melalui kreativitas sang penyair maka lahirlah bahasa Melayu Baru yang sangat berbeda dari bahasa Melayu lama serta lebih kaya dan bertenaga.Kata-kata dan ungkapan Arab, malahan petikan ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis yang sangat bermakna, sengaja dimasukkan dengan bebasnya ke dalam baris sajak-sajaknya. Tidak kurang terdapat 800 kata-kata Arab lepas dijumpai dalam 32 ikat-ikatan syairnya, belum termasuk puluhan ungkapan dan potongan ayat-ayat al-Qur'an yang sangat dalam dan luas maknanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Petikan atau potongan ayat-ayat al-Qur`an itu juga berfungsi sebagai unsur estetik dan sekaligus pelita yang menerangi makna keseluruhan sajak. Lagi pula bagi seorang sufi puisi tidak lain ialah tafsir spiritual dan estetis terhadap ayat-ayat al-Qur`an tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya ingin mengutip pernyataan Teeuw: "Mungkin pada penglihatan pertama pembaca menganggap pemakaian kata-kata Arab berlebih-lebihan dan mengganggu. Pembaca yang terbiasa menganggap puisi dapat dinikmati hanya dengan perasaan semata-mata, tanpa perlu berpikir, akan kecewa membaca puisi Hamzah Fansuri. Puisi Hamzah Fansuri memerlukan pengetahuan yang luas di bidang bahasa dan kebudayaan Arab Persia, termasuk pengetahuan tentang Islam dan tasawufnya. Kekayaan daya pikir dan luasnya pengetuan yang diperlukan untuk membaca puisi Hamzah Fansuri bukanlah tanda kelemahan atau kegagalan puisi Hamzah Fansuri. Puisi Hamzah Fansuri juga kaya dengan unsur puitik: diksi puisinya khas, ungkapan-ungkapannya kaya dan orisinal, begitu juga tamsil dan imagerinya. Juga ada kreativitas bunyi..." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pendek kata, menurut Teeuw, Hamzah Fansuri menciptakan karya yang individual dan modern, serta sangat kreatif terhadap bahasa dan intens dalam berekspresi.Bagaimana Hamzah Fansuri membubuhkan namanya dalam bait-bait penutup ikat-ikatan syairnya, dengan bahasa yang kreatif dan intens, dapat diperhatikan melalui contoh berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Hamzah miskin hina dan karam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Bermain mata dengan Rabb al-`Alam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Selamnya sangat terlalu dalam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Seperti mayat sudah tertanam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Hamzah sesat di dalam hutan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Pergi uzlat berbulan-bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Akan kiblatnya picik dan jawadan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Itulah lambat mendapat Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Hamzah miskin orang `uryani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Seperti Ismail jadi qurbani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Bukannya `Ajami lagi Arabi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Nentiasa wasil dengan Yang Baqi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Hamzah Fansuri di dalam Mekkah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Mencari Tuhan di Bayt al-Ka`bah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Di Barus ke Quds terlalu payah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Akhirnya dijumpa di dalam rumah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Hamzah `uzlat di dalam tubuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Romanya habis sekalian luruh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Zahir dan batin menjadi suluh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Olehnya itu tiada bermusuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan cara itu pulalah penyair mengungkapkan pengalaman spiritual di jalan tasawuf, dan sekaligus menerangkan gagasan Sufi tentang diri universal. Yaitu gagasan tentang hakekat spiritual kemanusiaan. Di sini manusia dilihat pertama-tama sebagai makhluq spiritual, pribadi yang memiiliki potensi berhubungan dengan Yang Transenden secara penuh, bukan semata-mata sebagai mahluq jasmani dan kejiwaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Salah satu ikat-ikatan syair Hamzah Fansuri yang indah dan mengungkapkan gagasan tentang pencarian diri melalui penerbangan jiwa ke puncak kehidupan ialah ikat-ikatan yang bermula dengan "Tayr al-`uryan" (Burung Fakir). Dalam sajak itu Hamzah memakai tamsil burung sebagaimana digunakan Fariduddin `Attar dalam Mantiq al-Tayr (Percakapan Burung) yang masyhur itu. Tamsil burung dipakai untuk menggambarkan jiwa atau roh manusia yang senantiasa gelisah disebabkan kerinduannya yang mendalam kepada Yang Satu, asal segala sesuatu. Tayr al-`uryan, arti harafiahnya burung telanjang, yaitu jiwa seorang faqir yang telah bebas dari beban kepentingan diri dan jiwanya damai mutmaina) karena kerinduannya kepada Yang Satu telah terpenuhi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikianlah Hamzah Fansuri menulis:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Tayr al-`uryan unggas sultani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Bangsanya nur al-rahmani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Tasbihnya Allah subhani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Gila dan mabok akan rabbani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Unggas itu terlalu pingai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Warnanya terlalu bisai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Rumahnya tiada berbidai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Duduknya da'im di balik tirai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Awalnya itu bernama ruhi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Millatnya terlalu safi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Mushafnya besar surahnya Kufi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Tubuhnya itu terlalu suci&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;`Arasy Allah akan pangkalannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Habib Allah akan taulannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Bayt Allah akan sangkarannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Menghadap Tuhan dengan sopannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Sufinya bukannya kain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Fi`l Mekkah da'im bermain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Ilmunya zahir dan batin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Menyembah Allah terlalu rajin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Kitab Allah dipersandangnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Ghayb Allah akan tandangnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Alam Lahut akan kandangnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Pada da'irah Hu tempat pandangnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Zikir Allah kiri kanannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Fikir Allah rupa badannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Syurbat Tauhid akan minumannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Da'im bertemu dengan Tuhannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;(Catatan: Nur al-rahmani = Cahaya Allah yang maha pengasih; Subhani = Maha Terpuji Aku, yaitu Tuhan, berasal dari ucapan syatahat Bayaid al-Bhistami; pingai = cemerlang keemasan, sebutan untuk burung simbolis Simurgh atau `Anqa, yaitu Phoenix, sebagai lambing hakikat ketuhanan dan hakikat diri yang sejati; bisai = elok, anggun; bidai = tirai penutup pintu dari rotan; da’im = selalu, senantiasa; ruhi = bersifat kerohanian; millat = madzab atau aliran keagamaan; musyaf = buku, musyaf; habib Allah = kekasih Tuhan; bayt Allah = rumah Tuhan; F al-Mekkah = di negeri Mekkah; `Alam lahut = alam ketuhanan, istilah dalam kosmologi sufi, di bawah alam ini berturut-turut ke bawah ialah alam jabarut (alam roh), alam malakut (alam batin) dan alam nasut (alam jasmani); da’irah Hu = Lingkaran Dia, merujuk pada posisi melingkar para sufi ketika berzikir mmengelilingi guru kerohanian, yang merupakan lambing dari pusat kehidupan rohani; syurbat tauhid = minuman tauhid, maksudnya salat, zikir dan wirid; sha’im = puasa; qa’im = menegakkan salat, maksudnya salat tahajjud pada waktu malam; naïf itsbat = meniadakan dan mengiyakan, merujuk pada kalimah La ilaha (nafi) ill Allah (itsbat); `isyqi = cinta ilahi; washil = hampir, menyatu, maksudnya menyatu dalam lautan hakikat wujud). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sajak yang telah dikutip ini sangat halus dan indah, serta sangat dalam maknanya. Tidak mungkin ia ditulis oleh seorang penyajak yang hanya mengetahui tasawuf, tetapi tidak memiliki bakat puitik yang besar. Hamzah Fansuri ialah sufi besar Asia Tenggara, sekaligus penyair besar. Bukan hanya penyair-penyair Melayu Klasik berhutang budi kepadanya, tetapi juga penyair-penyair Indonesia modern, khususnya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Apabila kita baca kembali sajak-sajak Sanusi Pane dan kemudian membandingkannya dengan sajak-sajak Hamzah Fansuri, akan tampak pola persajakan kedua penyair tidak jauh berbeda, begitu pula cita rasa estetisnya. Kita kutip dua bait sajak Sanusi Pane "Dibawa Gelombang" yang mistikal itu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Alun membawa bidukku pelahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Dalam kesunyian malam waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Tidak berpawang tidak berkawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Entah kemana aku tak tahu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Jauh di atas bintang kemilau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Seperti sudah berabad-abad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Dengan damai mereka meninjau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Kehidupan bumi yang kecil amat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Bandingkan dengan dua bait sajak Hamzah Fansuri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Jika hendak engkau menjeling sawang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Ingat-ingat akan ujung karang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Jabat kemudi jangan kau mamang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Supaya betul ke bandar dating&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Anak mu`allim tahu akan jalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Da'im berlayar di laut nyaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Markabmu itu tiada berpapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Olehnya itu tiada berlawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tetapi pengaruh Hamzah Fansuri lebih ketara pada Amir Hamzah. Pengaruh tersebut tidak terbatas pada aspek puitik dan pola persajakan, tetapi juga dalam hal wawasan estetik dan gambaran dunia (weltanschauung) yang disajikan. Pertautan jiwa Amir Hamzah dengan pendahulunya itu nampak dalam sajaknya "Berdiri Aku". Namun tidak mungkin kita dapat memahami pertautan tersebut tanpa memahami gambaran atau pandangan dunia penulis Melayu secara keseluruhan, darimana wawasan estetik mereka diturunkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Estetika sebagai teori seni atau pandangan tentang keindahan seni, bukan hal baru bagi para penulis Nusantara. Sebelum agama Islam datang, penulis-penulis Jawa dan Melayu menerapkan estetika India yang didasarkan pada teori Bharata, Ananda Wardhana, Abinawa Gupta dan lain-lain, yang dikenal sebagai Teori Rasa atau Rasa-dhwani (sugesti rasa). Menurut teori Rasa, salah satu tujuan seni ialah membawa penikmatnya mencapai pengalaman unio-mystica atau meluluhkan rasa dengan kesadaran semesta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah agama Islam datang maka yang mempengaruhi wawasan seni penulis Melayu ialah teori Arab dan Persia, khususnya strukturalisme Abdul Qahir al-Jurjani (abad ke-12 M) dan pandangan para sastrawan dan estetikus sufi seperti Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi, `Attar, Jalaluddin Rumi, `Iraqi, Mahmud al-Shabistari dan lain-lain. Mereka memandang karya sastra sebagai bangunan struktural yang kompleks dari pengalaman kejiwaan dan spiritual yang diungkapkan melalui bahasa figuratif (majaz) dan simbolik (tamsil). Imaginasi (takhyil) dan pengalaman spiritual sangat menentukan mutu karya yang dihasilkan seorang penyair.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam sistem estetika Melayu ini karya seni dipandang terutama sebagai sarana transendensi, yaitu tangga naik menuju hakekat tertinggi. Penulis menyajikan obyek-obyek visual dalam karyanya sebagai image dan simbol untuk membawa pembaca mencapai pengalaman transendental `isyq (cinta ilahi), yang bentuk-bentuknya antara lain ialah fana` (persatuan mistik) dan ma`rifat. Di samping itu karya sastra juga berfungsi sebagai ikhtiar penyucian diri, selain memupuk kesadaran sosial dan kemanusiaan berdasar pemahaman terhadap Tauhid.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mengenai gambaran dunia para penulis Melayu melihat alam semesta sebagai kitab agung yang sangat indah, sebuah karya sastra agung. Sang Khalik menjelmakan dunia ini dari Perbendaharaan Ilmu-Nya yang tersembunyi (kanz makhfiy) didorong oleh Cinta. Menurut mereka lagi, dunia ditulis dengan kalam Tuhan pada Lembaran Terpelihara (lawh al-mahfudz), (Braginsky 1993). Sebagaimana dunia, pribadi manusia juga merupakan sebuah kitab agung, sebuah karya sastra. Pada manusia keseluruhan hikmah alam semesta direkam dengan diringkas. Hikmah-hikmah tersebut hadir sebagai ayat-ayat-Nya, yaitu tanda-tanda-Nya yang menakjubkan. Karena itu mengenal hakekat diri sangat penting bagi manusia (baca Kimia Kebahagiaan karangan Imam al-Ghazali).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sesuai dengan gambaran tersebut karya sastra mesti dibentuk menyerupai pribadi manusia, yang secara struktural merupakan kesatuan bangunan kejiwaan yang kompleks. Ungkapan zahir atau bentuk luar (surah) karya sastra, sebagaimana tubuh beserta gerak dan isyarat yang disampaikan anggota-anggotanya, hendaknya diusahakan dapat memberi sugesti atau isyarat tentang kehadiran rahasia Tuhan dan keberadaan gaib-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikianlah gejala-gejala alam, peristiwa-peristiwa sosial dan sejarah, keindahan obyek yang berbagai-bagai di dunia, merupakan manifestasi dari Cinta Tuhan dan Pengetahuan-Nya yang tersembunyi itu. Semua itu dihadirkan secara estetik untuk memberi efek tertentu kepada jiwa. &lt;br /&gt;Cara meresapi dan memahami hakekat penciptaan, selain dengan jalan akal dan inderawi, ialah melalui peresapan kalbu atau pemahaman intuitif (`isyq). Perkataan seperti berahi, rindu, mabuk, takjub, lena, leka, gharib, asyik, karib tamasya dan lain-lain, yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi Melayu klasik, termasuk Amir Hamzah, merujuk pada keadaan rohani di atas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di antara sajak Amir Hamzah yang mewakili pandangan dunia dan estetika seperti ialah "Berdiri Aku":&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Berdiri aku di senja senyap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Camar melayang menepis buih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Melayah bakau mengurai puncak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Berjulang datang ubur terkembang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Angin pulang menyejuk bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Nenepuk teluk mmengempas emas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Lari ke gunung memuncak sunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Berayun-ayun di atas alas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Benang raja mencelup ujung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Naik marak menyerak sorak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Elang leka sayap tergulung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Dimabuk warna berarak-arak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Dalam rupa maha sempurna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Rindu sendu mengharu kalbu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Ingin datang merasa sentosa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Mencecap rindu bertentu tuju&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;(dalam Buah Rindu)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Ibn Sina dan al-Jurjani, image-image dalam puisi di dalam keseluruhan bangunannya, dicipta untuk memberi efek kejiwaan dan moral tertentu kepada pembacanya, bukan semata-mata efek inderawi atau sosial. Penyair-penyair sufi lebih jauh menggunakan image dalam puisi dengan maksud memberi efek kerohanian, khususnya kerinduan kepada Tuhan. Hal seperti itulah yang dijumpai dalam sajak Amir Hamzah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Gerakan-gerakan alam yang disajikan Amir Hamzah juga sangat kuat dalam memberi sugesti akan kehadiran Yang Satu melalui keindahan yang berbagai-bagai di alam ciptaan. &lt;br /&gt;Perhatikan ungkapan-ungkapan seperti 'mengurai puncak', 'berjulang datang', 'mengempas emas', 'memuncak sunyi' 'sayap tergulung' dan lain-lain, yang menggambarkan serangkaian keadaan dan pengalaman rohani penyair ketika menyaksikan keindahan alam pada waktu senja hari. Semua bentuk keindahan zahir itu dapat dijadikan sarana transendensi apabila kita dapat meresapinya dengan kalbu. Efek kerohanian tertinggi yang dikehendaki penyair melalui sajaknya, ada pada bait terakhir.&lt;br /&gt;Pendek kata melalui sajak tersebut Amir Hamzah memberikan pencerahan (enlightenment) kepada pembacanya sebagaimana penyair-penyair Melayu sebelumnya. Inilah antara lain sumbangan penting penulis Melayu Klasik kepada kita di dunia modern. Mereka memberikan kepada kita gambaran dunia dan cita rasa estetik, yang selain masih merupakan bagian dari sistem kerohanian masyarakat Melayu, disadari atau tidak, juga penting dihayati pembaca modern yang sehari-harinya sering berhadapan dengan masalah kekosongan spiritual dan ketiadaan makna hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 2 Juli 1998 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kepustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Hadi W. M. (2001). Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Abdul Hadi W. M. dkk (2003). Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara. Jakarta: Pusat Bahasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Abu Deeb (1979). Al-Jurjani’s Theory of Poetic Imagery. Warminster, Wilts: Aris &amp;amp; Philips Ltd.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ahmad Jelani Hilmi (1991). “Sejarah Awal Pendidikan Islam di Alam Melayu”. Jilid 13 Bilangan 12, Desember: 11-15.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ali Ahmad (1991). Kesusasteraan Melayu Dalam Tasawwur Islam. Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ali Ahmad dan Siti Hajar Che' Man. Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan&amp;nbsp; Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1996.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;al-Attas, M. Naquib (1969). Prelimanary Statement in a General Theory of Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;--------------------------- (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur: Universiti Malay Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;------------------------ (1991)The Origin of the Malay Sha`ir. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Azyumardi Azra (1995). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Braginsky, V. I. (1992). “Puisi Sufi Perintis Jalan”. Ceramah di Sudut Penulis Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 27-8 Oktober. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;----------------- (1993). "The Emergence of Literary Self Awareness and Its Role in the Shaping of Classical Malay Literature". Dalam The System of Classical Malay Literature. Leiden: KITLV Press, 1993. p. 29-40.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;---------------- (1994) Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu Klasik. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Brakel, L. F. (1969) . "The Birthplace of Hamza Fansuri". JMBRAS Vol.42.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Collins, James (1993). “Bahasa Melayu Di Batas Zaman: Renungan Sejarah, Ramalan Arah”. Kertas Kerja Hari Sastra Malaysia, Shah Alam Selangor 4 – 7 Juni 1993.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Edwar Djamaris (1990). Menggeli Khazanah Sastra Melayu Klasiik. Jakarta: Balai Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibrahim Alfian (1999). Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ismail M. Dehiyat (1974) . Avicenna's Commentary on the 'Poetics' of Aristotle. Leiden: E. J. Brill.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Imam al-Ghazali (1985). Kimia Kebahagiaan. Terj. Tim Mizan. Bandung: Mizan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ismail Hamid (1990). Asas-asas Kesusasteraan Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kern H. (1917). Verspreiche geschrifter VI. The Hague: Martinus Nijhoff.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mahayudin Haji Yahaya (2000). Karya Klasik Melayu Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Siddiq Fadzil (1990). “Pengislaman Dunia Melayu: Transformasi Kemanusiaan dan Revolusi Kebudayaan”. Dewan Budaya Jilid 12 Bilangan 11, November: 36-39.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Taufik Abdullah (1987). Islam dan Masyarakat. Jakarta: LP3ES.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;---------------------- (2003). “Pemikiran Islam di Nusantara Dalam Perspektif Sejarah”. Makalah Diskusi Peluncuran Buku Ensiklopedi Tematia Dunia Islam. Jakarta 5 September 2002.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Zahrah Ibrahim (1986). Sastera Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Teeuw A. (1994) . "Hamzah Fansuri, Pemula Puisi Indonesia". Dalam Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya, Hal. 44-73.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Windstedt, R. O (1972). A History of Classical Malay Literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-4724699857301726353?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4724699857301726353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4724699857301726353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/08/penulis-melayu-klasik-sumbangannya-bagi.html' title='Penulis Melayu Klasik, Sumbangannya Bagi Sastra Indonesia #2'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-4485214560810169133</id><published>2010-07-27T20:03:00.001+07:00</published><updated>2010-07-27T20:03:21.120+07:00</updated><title type='text'>Kebenaran dan dusta dalam sastra - Google Buku</title><content type='html'>&lt;a href="http://books.google.co.id/books?id=nZELSdD25S0C&amp;amp;pg=PA240&amp;amp;lpg=PA240&amp;amp;dq=standarisasi+sastrawan&amp;amp;source=bl&amp;amp;ots=dIjzWx_pwy&amp;amp;sig=ZN3eSR48D74f1QwbHYZw8MHqPQ4&amp;amp;hl=id&amp;amp;ei=i8ZOTOKtCIy0rAeyzdmwAw&amp;amp;sa=X&amp;amp;oi=book_result&amp;amp;ct=result&amp;amp;resnum=1&amp;amp;ved=0CBIQ6AEwAA#v=onepage&amp;amp;q=standarisasi%20sastrawan&amp;amp;f=false"&gt;Kebenaran dan dusta dalam sastra - Google Buku&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="flockcredit" style="text-align: right; color: #CCC; font-size: x-small;"&gt;Blogged with the &lt;a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" style="color: #999; font-weight: bold;" target="_new" title="Flock Browser"&gt;Flock Browser&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-4485214560810169133?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4485214560810169133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/4485214560810169133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/07/kebenaran-dan-dusta-dalam-sastra-google.html' title='Kebenaran dan dusta dalam sastra - Google Buku'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-5574000791142942900</id><published>2010-07-27T00:04:00.001+07:00</published><updated>2010-07-27T00:04:33.293+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan'/><title type='text'>Penulis Melayu Klasik, Sumbangannya Bagi Sastra Indonesia #1</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1357907122" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TE2s4wyvz4I/AAAAAAAAAIA/rV8k4CNoAD8/s200/Abdul+Hadi+WM.jpeg" width="120" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Prof. Abdul Hadi W. M.&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Setelah memohon izin kepada Prof. Abdul Hadi W.M. untuk memuat catatan-catatan beliau melalui pesan via jejaring sosial yang sangat terkenal yaitu Facebook. Akhirnya, kami mendapatkan izin untuk memuat beberapa catatan-catatan beliau yang sangat syarat dengan ilmu dan pengetahuan. Hal ini dilakukan untuk berbagi pengetahuan kepada siapa saja, karena kita membutuhkan itu (ilmu dan pengetahuan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Di bawah ini kami memuat catatan pertama dari beberapa catatan penting yang mesti kita pelajari. Kami memberi judul “Penulis Melayu Klasik, Sumbangannya Bagi Sastra Indonesia #1”. Ada banyak ilmu pengetahuan di situ. Jadi, jangan sampai terlewatkan untuk membacanya kawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Silahkan….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Oleh &lt;i&gt;&lt;b&gt;Abdul Hadi W. M.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Babakan penting dalam sejarah sastra Melayu Nusantara mengambil waktu pada peralihan abad ke-16 – 17 M. Pada masa ini bahasa Melayu telah mantap kedudukannya sebagai bahasa pergaulan utama di kepulauan Nusantara baik di bidang perdagangan maupun di bidang intelektual-keagamaan dan kebudayaan. Mantapnya kedudukan tersebut diperoleh karena penyebaran agama Islam yang telah marak sejak abad ke-13 M. Orang-orang Islam yang berpengaruh di bidang perdagangan, politik dan kegiatan intelektual menggunakan bahasa Melayu sebagai media utama bagi penyampaian ajaran agama, ilmu-ilmu keagamaan dan falsafah (al-Attas 1970; Bragnsky 1992; Abdul Hadi W. M. 2001) Melalui cara yang demikian itu bahasa Melayu diperkaya dengan kosakata dan istilah-istilah Arab dan Persia, yang pada abad ke-13 – 15 M merupakan bahasa intelektual dan keilmuan yang penting di dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Cepatnya perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa pergaulan utama di bidang perdagangan dan intelektual bisa terjadi karena pusat-pusat utama penyebaran agama Islam seperti Samudra Pasai (1272-1450), Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700) merupakan kota-kota dagang dan pelabuhan utama di Selat Malaka. Di kota-kota inilah kapal-kapal asing singgah untuk mengambil barang dagangan, sehingga dengan cepatnya pula kota-kota ini maju dan makmur, yang dengan demikian mudah pula berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual dan kebudayaan. Ketiga kerajaan ini pula sejak lama penduduknya menggunakan bahasa Melayu yang diwarisi dari pendahulunya yaitu kerajaan Sriwijaya (Collin 1992; Azyumardi Azra 1995:22-55; Ibrahim Alfian 1999:53).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada awal abad ke-16 M dengan ditalukkannya Malaka oleh Portugis (1511) serta merta kegiatan penulisan sastra Melayu mandeg untuk beberapa waktu lamanya. Tetapi tidak lama kemudian, pada tahun 1516 M, sebuah kerajaan Islam lain yaitu Aceh Darussalam muncul tidak jauh dari bekas tapak kerajaan Samudra Pasai. Dengan munculnya Aceh kegiatan penulisan kitab keagamaan dan sastra Melayu berkembang pesat. Karya-karya Melayu yang ditulis di Pasai dan Malaka disalin kembali dalam jumlah besar. Majunya perkembangan penulisan kitab itu terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ala’uddin Riayat Syah (1589-1604) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Taufik Abdullah (2003) menyebutkan pada periode ini terjadi gelombang kedua dalam sejarah intelektual Islam di Nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Gelombang pertama mengambil masa pada abad ke-14-16 M, yaitu sejak munculnya Samudra Pasai hingga berkembangnya Malaka dan Aceh. Pada periode yang sangat gencar dilakukan ialah pengenalan asas-asas kosmopolitan dari ajaran Islam. Karya-karya Arab dan Persia disadur dalam jumlah besar ke dalam bahasa Melayu, dan dengan demikian Islam hadir sebagai realitas dunia baru dalam pikiran bangsa-bangsa Nusantara. Dalam gelombang kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas secara besar-besaran. Islam dipakai sevagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. Karya-karya dari aman Hindu Buddha disadur dan ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam. Zaman ini menandakan berakhirnya zaman peralihan dari tradisi Hindu-Budhha ke tradisi Islam, dan bermulanya penulisan karya-karya yang benar-benar bercorak Islam baik secara estetik maupun isi yang dikandungnya. Realitas yang ditampilkan adalah realitas yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan Melayu Nusantara yang telah berhasil diislamkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Memang akhir masa peralihan ini tidak dapat dibatasi dengan jelas, karena karya-karya zaman peralihan – seperti saduran karya-karya Arab dan Parsi dan gubahan dari karya-karya zaman Hindu yang telah diislamkan – masih terus disalin dan digubah dalam sastra Melayu, bahkan dalam sastra Nusantara lain seperti Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, Aceh, Bugis Makassar dan lain-lain. Tetapi proses islamisasi benar-benar telah dijalankan pada abad ke-16 dan 17 itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dua gejala dominan, yang saling berkaitan muncul pada masa ini, yaitu di satu pihak kecenderungan untuk memusatkan diri pada renungan-renungan tasawuf yang mendalam dan personal dalam ikhtiar menjawab masalah hubungan manusia dengan Yang Abadi; dan di pihak lain ikhtiar untuk membangun tatanan kehidupan sosial politik berdasarkan cara pandang Islam, yang dengan itu sebuah kehidupan masyarakat religius dan beradab dapat diselenggarkan. Kecenderungan kedua ini memunculkan hasrat menyusun etika politik dan teori pemerintahan yang ideal, yang dengan itu kesadaran bersama dan solidaritas kemasyarakatan dapat direalisasikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada masa inilah muncul tokoh besar di bidang penulisan sastra keagamaan dan adab seperti tampak pada Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai atau Syamsudin Sumatrani dan Bukhari al-Jauhari. Walaupun beberapa sarjana Eropah seperti Overbeck (1920), Windstedt (1920) dan lain-lain memandang sebelah mata terhadap keaslian dan relevansi karya para penulis itu, tidak sedikit sarjana mutakhir, misalnya al-Attas (1970), Brakel (1979), Braginsky (1992), Teeuw (1994) dan lain-lain memandang lebih arif. Malahan mereka dapat menunjukkan relevansi serta sumbangan besar penulis-penulis klasik itu bagi perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan. Menurut Braginsky, hasil-hasil sastra Melayu Islam sangat penting, karena ia telah memainkan peranannya sebagai fundasi utama kebudayaan Melayu Nusantara, yaitu kebudayaan Indonesia dan Malaysia, dan berperan besar pula sebagai penyebar gagasan dan pandangan dunia yang relevan sampai abad ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kebaruan karya para penulis abad ke-16 dan 17 itu ialah pertama-tama, terletak pada keberanian pengarang untuk mengekspresikan pengalaman dan pengetahuan pribadinya. Ini dimungkinkan karena mereka berkarya berdasarkan estetika sufi dan ilmu tasawuf. Dalam kenyataan pengalaman rohani dalam tasawuf hanya bisa diperoleh secara personal, namun demikian pengalaman itu bisa dibagi kepada orang lain, terutama mereka yang sejalan dalam kehidupan rohani dan keagamaan. Karya-karya penulis sufi seperti Hamzah Fansuri dan murid-muridnya mereka juga mengungkapkan bahwa manusia, selaku hamba dan khalifah Tuhan di dunia memiliki kedudukan setara di hadapan Tuhan di hadapan Tuhan dan hukum ilahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Demikianlah yang mereka ajarkan pertama-tama ialah pentingnya individualitas dan tanggungjawab pribadi dalam menjalankan kehidupan keagamaan dan sosial. Mereka juga mengajarkan semangat persaudaraan dan egaliter. Kecuali itu dengan memandang manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi maka berarti mereka telah menempatkan manusia sebagai pusat dan penggerak utama perputaran peristiwa di dunia. Sebagai khalifah Tuhan mereka memiliki freewill dan harus menjalani kehidupan berdasarkan &lt;i&gt;freewill&lt;/i&gt; atau ikhtiar pribadinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Mengenai pandangan dunia (&lt;i&gt;worldview)&lt;/i&gt; yang mendasar karya para penulis sufi Melayu itu, Braginsky (1992) mengatakan bahwa karya-karya itu, dalam batas tertentu, berhasil menyadarkan pembaca Nusantara tentang betapa pentingnya budaya membaca dan menulis bagi perkembangan dan kelangsungan peradaban. Arti penting lain ialah karena sampai abad ke-19, karya-karya tersebut menjadi teladan dan dijadikan sumber ilham bagi penulisan karya sejenis dalam berbagai bahasa Nusantara lain seperti Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Minangkabau, Bugis Makasar, Banjar dan lain-lain. Malahan beberapa gagasan penting mereka, termasuk wawasan estetiknya, dilanjutkan oleh beberapa penulis abad ke-20 dengan memberinya cita rasa modern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Peranan Penulis dan Fungsi Sastra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Karya-karya penulis Melayu klasik, yang dihasilkan sejak akhir abad ke-16 sampai menjelang akhir abad ke-19, amat berlimpah dan aneka ragam jenis dan coraknya. Sesuai jenisnya karya-karya tersebut dapat dikelompokkan menjadi: (1) Hikayat Nabi Muhammad s.a.w.; (2) Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah; (3) Hikayat Para Sahabat Nabi; (4) Hikayat Orang-orang Saleh dan Suci; (5) Hikayat Pahlawan-pahlawan Islam; (6) Karangan bercorak Tasawuf; (7) Karangan bercorak kesejarahan; (8) Sastra Adab; (9) Cerita Berbingkai, termasuk kisah binatang; (10) Syair Rampai; (11) Cerita Jenaka; (12) Pelipur lara dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Masing-masing jenis dari hikayat ini mempunyai ciri dan fungsi tersendiri, dan sumber penulisannya juga berbeda-beda. Hikayat Nabi Muhammad s.a.w misalnya bersumber pada sejarah kehidupan Nabi Muhammad dari sumber-sumber paling awal, termasuk kesaksian kerabat dekat dan sahaba-sahabat Nabi yang mengikuti perjuangannya menyebarkan agama Islam sejak awal. Khususnya seperti yang dikumpulkan oleh al-Tabari pada abad ke-8 M dalam kitabnya Sirah Nabi Muhammad. Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah misalnya ditulis berdasarkan sumber-sumber al-Qur’an, dilengkapi dengan kisah-kisah yang telah lama dikenal bangsa Arab dan Ibrani melalui Taurat, Zabur dan Injil. Kisah berhubungan dengan asal-usul kerohanian Nabi Muhammad yang diramu berdasarkan konsep kosmologi sufi ialah Hikayat Kejadian Nur Muhamad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Hikayat Para Sahabat Nabi benar-benar didasarkan atas sumber sejarah, sebagaimana juga sejarah orang-orang saleh dan suci atau para wali. Hikayat pahlawan-pahlawan Islam digubah berdasar sumber sejarah dan kisah-kisah lain yang bercorak fiksi. Sastra Adab adalah disusun berdasarkan sumber yang beragam seperti al-Qur`an, Hadis, Tarikh, Cerita Rakyat dan kitab-kitab keagamaan seperti fiqih, kalam, tasawuf dan siyas (politik). Yang benar-benar bercorak fiksi ialah cerita berbingkai dan pelipur lara. Berdasarkan sumbernya saja dengan segera kita akan melihat betapa karya-karya tersebut benar-benar bercorak Islam, sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sastra Islam itu tidak ada. Pesan moral, kerohanian dan keagamaan yang disajikan karya-karya ini juga berkaitan dengan ajaran Islam yang ditemui dalam tafsir al-Qur’an, kitab syariah dan tasawuf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Braginsky (1993) mengelompokkan karya-karya Melayu warisan peradaban Islam menjadi tiga berdasar peringkat wilayah atau lapisan garapannya: (1) Karya yang menggarap lapis Kesempurnaan dan Estetika Batin; (2) Karya yang menggarap lapis Faedah dan Hikmah; (3) Karya yang menggarap lapis Hiburan dan Estetika Zahir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(1). Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan (kamal), menggambarkan upaya manusia mencapai pengetahuan tertinggi (ma`rifat), jalan kerohanian (suluk), bentuk pengalaman dan keadaan rohani (maqam dan ahwal) yang diperoleh seorang penempuh jalan rohani (salik) dan lain sebagainya. Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan jiwa ini juga menggambarkan cita-cita manusia mencapai pribadi insan kamil meneladani Nabi Muhammad s.a.w., kerinduan seorang `asyik (pencinta) kepada Sang Kekasih (mahbub), yaitu Yang Satu. Dalam karya kategori ini dipaparkan juga jalan pengenalan diri, yang amat penting bagi seorang Muslim untuk mengenal perannya sebagai khalifah Tuhan di atas dunia dan sekaligus hamba-Nya. Termasuk dalam kategori ini ialah syair-syair Tasawuf yang sering dikenal sebagai Syair Tauhid dan Makrifat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Selain ditulis dalam bentuk puisi didaktis dan imaginatif simbolik, juga ada yang ditulis dalam bentuk kisah perumpamaan. Karya-karya Hamzah Fansuri dan murid-muridnya seperti Abdul Jamal, Hasan Fansuri, Syamsudin Pasai, dan juga beberapa karangan Abdul Rauf Singkel dan lain-lain termasuk dalam kategori ini. Kecuali karya tiga penulis ini terdapat karya ahli tasawuf lain yang namanya belum diketahui. Di antaranya Syair Perahu (dalam tiga versi yang berbeda), Ikat-ikatan Bahr al-Nisa' (Lautan Perempuan), Syair Dagang (yang agaknya ditulis penyair asal Minangkabau), Hikayat Burung Pingai, Syair Alif dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Di samping itu para sufi amat produktif menulis risalah tasawuf dan interpretasi teks dalam bahasa sastra yang tinggi dengan pengetahuan yang dalam. Di antara penulis risalah tasawuf dan ta'wil (&lt;i&gt;hermeneutika sufi&lt;/i&gt;) yang terkenal ialah Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, Nuruddin Raniri, Abdul Rauf Singkili, Yusuf Mengkasari, Daud Fatani, Abdul Samad Palimbangi, Ki Fakhrudin Palimbangi, Arsyad Banjari, Daud Pontiani dan lain-lain. Selain karya bercorak sejarah dan hikayat-hikayat tertentu, karangan-karangan ahli tasawuf ini sangat menarik perhatian pengkaji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut Braginsky (1993) karya-karya yang termasuk ke dalam kategori ini mempunyai tujuan menyucikan kalbu dan jiwa manusia, karena kalbulah yang merupakan sarana penghayatan intuitif terhadap keberadaan Yang Haq dan Yang Satu. Keindahan yang dipaparkan dalam karya-karya katagori ini ialah keindahan tersirat atau keindahan batin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(2). Karya-karya yang mengungkap sfera faedah. Termasuk Hikayat Nabi dan para sahabatnya, Hikayat Pahlawan Islam, serta karya kesejarahan dan adab. Karya katagori ini bermaksud memperkuat dan menyempurnakan akal manusia, yaitu sarana intelektualnya, dengan membeberkan kisah-kisah yang mengandung hikmah dan pengajaran. Di antara karya termasuk sastra adab yang terkenal ialah Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja) karya Bukhari Jauhari dan Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja) karya Nuruddin Raniri dan Nasih Luqman al-Hakim (anonim). Karya-karya ini menjadi cermin pengajaran dan tuntunan bagi raja-raja, pegawai pemerintahan dan pemimpin masyarakat dalam menjalankan pemerintahan agar tercapai keadilan dan kesejahteraan sosial, dan dengan demikian agama berkembang. Sedangkan karya bercorak sejarah menggambarkan jatuh bangunnya raja-raja dan dinasti, sebab-sebab kejatuhan dan kebangunannya, peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan jalannya sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Karya bercorak sejarah ada yang ditulis dalam bentuk syair dan ada yang ditulis dalam bentuk prosa. Bustan al-Salatin merupakan karya bercorak sejarah dan adab. Karya bercorak sejarah lain yang terkenal ialah Hikayat Aceh (anonim), Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang dan Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji. Jumlah karya bercorak sejarah sangat banyak. Selain yang telah disebut, karya kesejarahan lain yang masyhur ialah Hikayat Pasai, Hikayat Merong Mahawangsa, Hikayat Banjar, Misa Melayu, Hikayat Johor, Hikayat Maulana Hasanuddin, Hikayat Patani, Sejarah Raja-raja Riau, Salasilah Melayu dan Bugis Salasilah Kutai, Hikayat Bengkulu dan lain-lain. Di Jawa genre serupa disebut babad seperti Babad Tanah Jawi, Babad Pasundan, Babad Giyanti, Babad Madura, Babad Besuki dan lain-lain. Di Minangkabau karya kesejarahan disebut tambo. Di antara yang masyhur ialah Tambo Minangkabau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Karya bercorak sejarah yang ditulis dalam bentuk syair di antaranya ialah Syair Perang Mengkasar, Syair Sultan Maulana, Syair Moko-moko, Syair Sultan Zainal Abidin, Syair Perang Siak, Syair Pangeran Syarif Hasyim, Syair Singapura Terbakar, Syair Siti Zubaidah Perang dengan Cina, Syair Kompeni Walanda Perang dengan Cina dan lain-lain. Menurut Ali Ahmad (1991) karya bercorak sejarah yang disebut salasilah memiliki unit cerita yang terdiri dari kisah-kisah dan legenda, namun tidak seperti hikayat yang diikat oleh perkembangan tokohnya yang stereotype, karya kesejarahan diikat oleh perkembangan kejadian dan hikmah yang dikandung dalam kejadian tersebut. Krisis yang terjadi dalam sebuah negara, yang membuat jatuhnya sebuah dinasti atau seorang raja, selalu dicari sebabnya pada krisis moral dan akhlaq, serta penyimpangannya terhadap ajaran Islam, misalnya tidak dilaksanakannya keadilan dan raja tidak lagi taat pada undang-undang dan tidak berperan sebagai pelindung rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut Ali Ahmad lagi, munculnya karya kesejarahan dan hikayat yang bernaeka ragam itu, kian menjadikan kesusastraan Melayu tidak lagi streotaip, tetapi terbuka kepada berbagai-bagai kemungkinan. Ini menjadikan nilainya meningkat, dan pada saat yang sama memperkuat dasar keberadaannya, sebab ia menumpukan maknanya pada nilai Tauhid dan konsekwensi moralnya bagi mereka yang menghayati keluasan makna Tauhid. Juga karya-karya itu, serta penyebarannya yang luas, menggambarkan latar belakang tempat dan kebudayaan Melayu dengan jelasnya di mana Islam telah dihayati pada peringkat fikrah dan amalannya, dalam arti berkaitan dengan soal hubungan manusia dengan Tuhan dan berkaitan pula dengan soal hubungan manusia dengan sesamanya. Dengan demikian estetika yang ditonjolkan ialah estetika berkenaan hikmah atau Estetika Hikmah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(3). Karya yang menggarap sfera hiburan dan estetika zahir (luaran), termasuk ke dalam jenis ini ialah Pelipur Lara. Tujuan karya seperti itu ialah menyerasikan kesan-kesan kejiwaan yang kacau disebabkan kobaran hawa nafsu, sebuah sarana penghayatan indrawi atau sensual manusia dalam menanggapi kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kesan-kesan kejiwaan yang kacau harus diserasikan dengan nilai moral dan ajaran agama, dan upaya ke arah itu dicapai melalui bantuan keindahan karya sastra yang memberikan semacam psikoterapi kepada jiwa, yaitu menghibur atau melipur. Karangan-karangan dalam kategori ini termasuk hikayat dan syair percintaan, kisah petualangan yang dibumbui kisah-kisah luar biasa atau ajaib. Kisah-kisah ajaib ini tidak dimaksudkan sebagai mitos, melainkan sebagai representasi pengalaman jiwa manusia yang ruang kejadiannya berlaku di alam misal atau alam imaginal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Alam misal mempunyai tempat tersendiri dalam teori sastra dan estetika Islam, karena apa yang dialami seseorang dalam alam tersebut merupakan realitas yang menghubungkan pengalaman zahir dengan pengalaman transendental. Penyajian peristiwa di alam misal juga berfungsi sebagai pemaparan simbolik sebuah kisah, yang tidak lain merupakan kias perjalanan manusia dari alam rendah menuju alam tinggi. Perjalanan tersebut sering digambarkan sebagai perjalanan menuju puncak bukit atau gunung untuk menyucikan diri, yang sesudah itu sang tokoh hikayat turun kembali ke dunia nyata untuk memainkan perannya selaku khalifah Tuhan di atas dunia. Dalam hikayat yang tergolong pelipur lara tidak jarang penulis menyelipkan ajaran agama atau tasawuf. Misalnya sebagaimana nampak dalam Hikayat Syekh Mardan yang masyhur itu dan telah dikaji oleh beberapa sarjana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(&lt;i&gt;Bersambung ke Bagian II : Puisi dan Kesadaran Diri&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-5574000791142942900?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/5574000791142942900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/5574000791142942900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/07/penulis-melayu-klasik-sumbangannya-bagi.html' title='Penulis Melayu Klasik, Sumbangannya Bagi Sastra Indonesia #1'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TE2s4wyvz4I/AAAAAAAAAIA/rV8k4CNoAD8/s72-c/Abdul+Hadi+WM.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-2901648171726903995</id><published>2010-07-26T22:51:00.001+07:00</published><updated>2010-07-26T22:51:08.944+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Prof. Abdul Hadi W.M.</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;	mso-para-margin-top:0cm;	mso-para-margin-right:0cm;	mso-para-margin-bottom:10.0pt;	mso-para-margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TE2tIslTOXI/AAAAAAAAAIE/9v1zh53-eXs/s1600/Prof+Abdul+Hadi+WM.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TE2tIslTOXI/AAAAAAAAAIE/9v1zh53-eXs/s1600/Prof+Abdul+Hadi+WM.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Abdul Hadi Widji Muthari dilahirkan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumenep" title="Sumenep"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Sumenep&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madura" title="Madura"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Madura&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur" title="Jawa Timur"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Jawa Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/24_Juni" title="24 Juni"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;24 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1948" title="1948"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;1948&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Sejak kecil ia telah mencintai puisi. Di masa kecilnya ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat pemikir-pemikir kelas dunia seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Plato" title="Plato"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Plato&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sokrates" title="Sokrates"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Socrates&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Imam_Ghazali&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Imam Ghazali (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Imam Ghazali&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rabindranath_Tagore" title="Rabindranath Tagore"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Rabindranath Tagore&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan Muhamad &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Iqbal" title="Muhammad Iqbal"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Iqbal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Menempuh pendidikan di Fakultas &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra" title="Sastra"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Sastra&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Gadjah_Mada" title="Universitas Gadjah Mada"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Universitas Gadjah Mada&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; hingga tingkat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sarjana_muda" title="Sarjana muda"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;sarjana muda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (1965-1967). lalu melanjutkan ke studi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Filsafat_Barat&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Filsafat Barat (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Filsafat Barat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di universitas yang sama hingga tingkat doktoral (1968-1971), namun tidak diselesaikannya. Ia beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran mengambil program studi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi" title="Antropologi"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;antropologi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (1971-1973), juga tidak selesai. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar Doktor dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universiti_Sains_Malaysia" title="Universiti Sains Malaysia"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Universiti Sains Malaysia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di Pulau Penang (1996).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sekitar tahun 1970-an, para pengamat menilainya sebagai pencipta puisi sufis. Ia memang menulis tentang kesepian, kematian, dan waktu. Seiring dengan waktu, karya-karyanya cenderung bernuansa mistis Islam dan kadang malah menyatu dengan mistis Jawa. Orang sering membandingkannya dengan Taufiq Ismail, yang juga berpuisi religius. Namun ia membantah. “Dengan tulisan, saya mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman religius yang saya rasakan. Sedang Taufiq hanya menekankan sifat moralistisnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sajaknya, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Madura&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;mendapat pujian dari Redaktur Majalah Horison (1968), Kumpulan Sajaknya &lt;b&gt;&lt;i&gt;Meditasi&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;(1976) mendapat Hadiah Buku Puisi Terbaik DKJ 1976/1977, ditahun yang sama ia memperoleh Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dan tahun 1985 ia memperoleh Hadiah Sastra Asean.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;	mso-para-margin-top:0cm;	mso-para-margin-right:0cm;	mso-para-margin-bottom:10.0pt;	mso-para-margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Nama :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Abdul Hadi Widji Muthari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lahir :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumenep" title="Sumenep"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Sumenep&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madura" title="Madura"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Madura&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur" title="Jawa Timur"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Jawa Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/24_Juni" title="24 Juni"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;24 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1948" title="1948"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;1948&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pendidikan :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;SD, Pesongsongan (1958),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;SMP, Sumenep (1961),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;SMA, Surabaya (1964),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sarjana Muda Fakultas &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra" title="Sastra"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Sastra&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Gadjah_Mada" title="Universitas Gadjah Mada"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Universitas Gadjah Mada&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(1965-1967),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Program Doktor &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Filsafat_Barat&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Filsafat Barat (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Filsafat Barat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Fakultas &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra" title="Sastra"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Sastra&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Gadjah_Mada" title="Universitas Gadjah Mada"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Universitas Gadjah Mada&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(1968-1971, tidak tamat )&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Program Studi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(1971-1973, tidak selesai),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Writing Program di Iowa University, Iowa, USA&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;(1973-1974)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Karier :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Redaktur Gema Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(1967-1969),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(1971-1973),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Redaktur Pelaksana Majalah Budaya Jaya (1978),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Redaktur Kebudayaan Berita Buana (1978),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Editor Balai Pustaka &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(1981-1983),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dosen Universitas Sain Malaysia,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rektor Unuversitas Paramadina, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Penghargaan :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sajak Madura”mendapat pujian dari Redaktur Majalah Horison (1968)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kumpulan Sajak Meditasi “(1976) mendapat Hadiah Buku Puisi Terbaik DKJ (1976/1977)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1977),&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hadiah Sastra Asean (1985), &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Gelar doktor dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universiti_Sains_Malaysia" title="Universiti Sains Malaysia"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Universiti Sains Malaysia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Pulau. Penang (1996)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kumpulan Puisi :&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Meditasi (1976), &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Laut Belum Pasang (1971), &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Cermin (1975), &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tergantung Pada Angin (1977), &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Anak Laut, Anak Angin (1983)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/hadi.html"&gt;http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/hadi.html&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7541245138330721786-2901648171726903995?l=www.senandung-pena.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/2901648171726903995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7541245138330721786/posts/default/2901648171726903995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.senandung-pena.co.cc/2010/07/prof-abdul-hadi-wm.html' title='Prof. Abdul Hadi W.M.'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TJ5cB5TT-3I/AAAAAAAAAJM/V8B0NTD8K-8/S220/IMG0086A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FDMzFVtbZuA/TE2tIslTOXI/AAAAAAAAAIE/9v1zh53-eXs/s72-c/Prof+Abdul+Hadi+WM.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7541245138330721786.post-6588052142575756236</id><published>2010-07-26T00:11:00.001+07:00</published><updated>2010-07-26T00:11:30.993+07:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Menulis Part III</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHELMYF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-f
